KURUNGBUKA.com – (12/06/2024) Yang tua dan bersama buku-buku tua punya kemungkinan menulis novel. Ia bisa mengisahkan pengalaman dan kesaksian yang digenapi remah-remah imajinasi untuk mengajak para pembaca masuk dalam jagat bergelimang buku. Namun, pengandaian itu sulit berlaku di Indonesia.
Kita mengetahui beberapa novel membahas buku melalui tokoh-tokohnya. Pengarang seolah membuktikan menjadi pembaca buku dengan memasang tokoh-tokoh yang suka membaca buku. Pola itu perlahan membosankan. Kita ingin novel mengenai buku-buku justru menghadirkan sejarah atau zaman-zaman yang masih mungkin terbaca.
Swantoro membaca buku-buku tua, memasuki dunia lama. Ia “mundur” ke beberapa abad yang lalu, diantar oleh buku-buku. Akhirnya, ia mengenali tokoh dan zamannya. Yang dilakukan adalah membuat “kesaksian” melalui tulisan-tulisan tidak bermaksud resensi atau ulasan.
Ia cuma dalam kepentingan dokumentatif: “Kalau Raffles praktis hanya menulis History of Java, Marsden selain menulis buku History of Sumatra juga menyusun gramatika bahasa Melayu pada 1812, kemudian kamus bahasa Melayu.” Pengalamannya sebagai pembaca buku tua memberi penjelasan kepada kita mengenai para pejabat dan intelektual menghasilkan buku di Nusantara.
Ia mengetahui tokoh-tokoh penting yang menghasilkan tulisan selama berada di Nusantara. Kita geleng-geleng kepala mengetahui Nusantara menjadi pemicu penulisan dan penerbitan buku-buku penting berupa kamus, tata bahasa, sejarah, dan lain-lain.
Swantoro juga mengingatkan tokoh yang tak pernah berada di Nusantara tapi menghasilkan tulisan bermutu: “Taco Roorda belum pernah menginjakkan kakinya di Jawa dan bagian lain Nusantara.” Ia menghasilkan buku gramatika bahasa Jawa. Buku-buku itu warisan dari silam.
(P Swantoro, 2002, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Kepustakaan Populer Gramedia)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












