KURUNGBUKA.com – (04/06/2024) Ia selalu teringat dengan puisi-puisinya. Namun, sosok bernama Sapardi Djoko Damono tidak mau selesai hanya dengan menulis puisi. Yang disajikan di hadapan sidang pembaca adalah buku-buku memuat cerita pendek dan novel. Ia menjadi pencerita. Suguhan-suguhan belum mencukupi.

Sejak puluhan tahun lalu, Sapardi Djoko Damono sering menulis esai dan menjadi juri. Tulisan-tulisannya mudah mengajak pembaca menjadi penafsir sastra. Istilah biasa digunakan dari masa lalu: apresiasi. Kebiasaan itu mengesahkan Sapardi Djoko Damono membimbing orang-orang untuk menjadi penulis dan pembaca.

Buku sederhana tapi penting berjudul Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014). Enteng untuk orang-orang yang ingin masuk dalam puisi. “Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap sastra atau kesadaran akan adanya sesuatu yang berharga pada sastra,” penjelasan Sapardi Djoko Damono.

Kita mungkin “tertawa” mengartikan bosan dengan istilah apresiasi, yang terlalu lama digunakan di sekolah dan universitas. Istilah yang seharusnya bisa diganti tapi bertahan lama. Kita yang membaca sastra dapat disebut sebagai apresiator. Peran yang biasa saja. Namun, Sapardi Djoko Damono mengingatkan adanya pemahaman dan penghayatan.

Di Indonesia, orang-orang yang berhasil membaca puisi, cerita pendek, atau novel biasanya mampu memberi tanggapan dengan mengucap “bagus”, “seru”, “keren”, atau “mengejutkan”. Mereka emoh atau malu menjadi apresiator dengan memberikan beberapa kalimat. Yang terjadi, kata-kata disampaikan sebagai pembuktian telah membaca sastra.

Mereka tidak hanya memuji tapi berhak mengejek: “jelek”, “hancur”, “parah”, atau “lemah”. Kemampuan menjadi pembaca dan apresiator tidak mudah jika ingin bermutu.

(Sapardi Djoko Damono, 2014, Bilang Begini, Maksudnya Begitu, Gramedia Pustaka Utama)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<