KURUNGBUKA.com – (03/04/2024) Yang mengisahkan penulis memulainya dengan kucing. Kita tidak lekas diajak memikirkan nasib penulis tapi menyimak dulu nasib kucing. Pemberi kisah mungkin ingin “menghibur” sekaligus “meledek”. Orang menjadi penulis bukan orang yang mendapat kemudahan-kemudahan.
Ia kadang ditempa dulu oleh pelbagai kesulitan. Namun, kemampuan mengatasinya memerlukan contoh. Yang diajukan adalah kucing. Kita tidak harus protes. Kucing mungkin pantas diajukan untuk menyemangati orang-orang yang mudah berputus asa saat mau menjadi penulis.
Carmel Bird mengisahkan: “Saya teringat kucing saya yang terpisah dari ibunya sebelum dia belajar menggunakan suara. Sedari kecil dia bisu, hingga suatu hari dia terperangkap di balkon dan tidak dapat saya temukan. Akhirnya, dia begitu putus asa sehingga dia menemukan suara kecil, lalu menjerit, terdengar, dan ditolong.”
Kita kagum dengan keberhasilan kucing agar selamat, setelah menderita dan menanti pertolongan. Yang terpenting adalah suara yang dikeluarkan kucing. Suara itu terdengar seperti bahasa yang dimengerti dalam mengambil tindakan penyelamatan. Kucing yang hampir putus asa malah menemukan kekuatan dalam dirinya saat genting.
“Tulisan terbaik ditandai oleh kegairahan yang mendesak,” keterangan dari Carmel Bird. Semula yang diceritakan kucing. Selanjutnya memasalhkan penulis yang “membutuhkan” tekanan atau situasi terdesak. Yang terjadi bagi penulis dalam ambang putus asa dan “berkekuatan” adalah kesanggupan menyampaikan “suara melewati kabut klise dan pikiran pinjaman”.
Kita sering mengetahui para penulis memang mumpuni saat menghasilkan tulisan dalam situasi mendesak, menekan, dan menyiksa. Namun, situasi sering berubah.
(Carmel Bird, 2001, Menulis dengan Emosi: Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Kaifa)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












