KURUNGBUKA.com, SERANG – Penyelenggaraan Kota Serang Fair 2026 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Serang ke-19 yang resmi dibuka pada Jumat (7/8/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga Senin (10/8/2026) di Stadion Maulana Yusuf. Agenda tahunan ini menuai kritik tajam dari pelaku ekonomi kreatif lokal.
Heru Anwari, seorang pelaku industri clothing yang telah 15 tahun berkecimpung di dunia usaha kreatif, menilai gelaran tahunan ini telah kehilangan arah dan sekadar menjadi panggung hiburan dangkal yang mengabaikan esensi utamanya. Menurut Heru, Kota Serang Fair seharusnya menjadi etalase utama untuk memamerkan kinerja Pemerintah Daerah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD), memfasilitasi mitra binaan, serta merangkul komunitas ekraf lokal.
Kehadiran guest star papan atas semestinya hanya berfungsi sebagai “pemanis” dan magnet untuk menyedot perhatian Gen Z, agar generasi muda ini datang, melihat, dan terlibat langsung dalam perputaran ekonomi daerah lewat budaya bangga membeli produk lokal. Sayangnya, potensi besar yang dibiayai anggaran daerah tersebut dinilai meleset dari sasaran.
“Pemerintah dan penyelenggara terkesan tidak paham cara memanfaatkan momentum dengan gagal memberikan ruang seluas-luasnya bagi pelaku ekraf, pengrajin khas, kuliner lokal, hingga industri clothing. Padahal, industri clothing merupakan pemegang peranan kunci dalam merangkul Gen Z agar bangga terhadap daerahnya melalui pendekatan lokal modern,” ungkap Heru.
Ironisnya, alih-alih dirangkul, para pelaku clothing justru menjadi korban ketidakjelasan tata kelola panitia. Sebulan sebelum acara, pihak penyelenggara sempat menjanjikan ketersediaan area khusus, hingga para pelaku usaha berani mengucurkan modal besar untuk memproduksi stok produk. Namun secara mengejutkan, tepat dua hari sebelum acara (H-2), area clothing mendadak dipangkas (di-cut) tanpa alasan yang masuk akal, meninggalkan kerugian dan kekecewaan mendalam bagi para wirausahawan muda.
Kegagalan manajemen penyelenggara makin diperparah oleh lemahnya pengamanan di lapangan. Pada hari pertama gelaran yang didominasi hingga 80 persen oleh remaja, terjadi insiden keributan di depan panggung akibat aksi saling dorong massa. Beberapa media sosial meramaikan kabar mengenai seorang korban wanita yang tertimpa pagar pembatas, menelanjangi buruknya rekayasa kerumunan dan pengawasan keselamatan dari pihak panitia.
Kota Serang Fair tidak boleh hanya dijadikan proyek rutin penggugur kewajiban atau panggung hura-hura yang menyerap dana rakyat tanpa dampak substantif bagi kemandirian ekonomi warga. Pemerintah Kota Serang mendesak untuk segera melakukan evaluasi total dan membenahi mentalitas penyelenggaraan agar pesta ulang tahun kota ini benar-benar menjadi ajang pembuktian kinerja dan wadah tumbuhnya industri kreatif lokal, bukan sekadar panggung konser yang menyisakan masalah. (rls/dhe)


















