KURUNGBUKA.com – Saya membaca Simulasi Sakaratul Maut seperti memasuki sebuah ruangan putih: kosong, dingin, tetapi penuh gema samar dari dinding yang retaknya tidak terlihat. Dua kali saya membacanya—dan dua kali pula saya menamatkannya dalam sekali duduk. Pertama di kamar kos dengan lampu yang sengaja saya biarkan meredup, kedua di bangsal rumah sakit yang berbau obat dan ketidakpastian. Di kedua ruang itu, saya merasakan hal yang sama: Titan Sadewo menulis seperti seseorang yang sedang mendiktekan napas terakhirnya pada selembar kertas.

Sejak pertama melihat daftar isinya, buku ini sudah terasa menantang. Judul-judul seperti “Surat Buatmu, Buat Malam Itu” dan “Kakek Telah Mati, tapi Aku Bisa Melihat Matanya Berenang” terdengar seperti pesan dari seseorang yang hidup di ambang dunia. Titan menulis dengan kesadaran bahwa kata-kata bisa patah, bisa goyah, bisa mati; ia menulis seolah bahasanya sendiri sedang belajar untuk bertahan. Dan semakin saya membaca, semakin tampak bahwa Titan sedang bereksperimen dengan batas-batas bahasa—terutama melalui dua kata yang terus mengemuka di sepanjang buku: anjing dan babi.

Anjing, Babi, & Bahasa yang Berusaha Kabur dari Moralitas

Dalam kajian linguistik, terdapat prinsip yang umum: tidak ada kata yang buruk; yang buruk adalah pemakaiannya. Makna bukan bawaan lahir dari kata, melainkan produk konteks, emosi, sejarah sosial, dan reaksi kolektif. Kata anjing dan babi adalah contoh paling jelas bagaimana masyarakat melapisi suatu kata dengan stigma hingga menjadi tabu.

Dalam percakapan sehari-hari, keduanya kerap menjadi granat kecil untuk memaki: “anjing lu,” “babi banget,” “dasar njing.” Kata-kata ini mengalami peyorasi, yaitu penurunan nilai makna—sebagaimana dijelaskan Allan & Burridge dalam studi tentang taboo language. Peyorasi lahir bukan dari kata itu sendiri, melainkan dari keputusan sosial bahwa sebuah kata harus dianggap kotor, rendah, atau merusak moral.

Konflik makna itu mengemuka pada 2020, ketika Lutfi Agizal mempersoalkan penggunaan kata anjay, plesetan dari anjing, yang ia anggap mengancam moral generasi muda. Ia melaporkannya ke Komnas PA dan KPAI, memicu perdebatan publik yang nyaris tak ada matinya. Padahal, seperti dipaparkan Steven Pinker, umpatan adalah mekanisme psikolinguistik yang alamiah: bahasa, dalam momen emosi, menjadi katup pelepas tekanan.

Perdebatan “anjay” hanyalah satu contoh betapa mudahnya masyarakat menakuti satu kata dan memuja kata lainnya. Dalam konteks inilah Titan bergerak. Ia tidak sekadar memakai kata anjing dan babi; ia mengajak keduanya duduk di meja puisinya. Ia menanggalkan sejarah umpatan dari kedua kata itu, lalu mengembalikan keduanya ke posisi sebagai unsur bahasa yang netral, cair, dan mampu menjadi estetis.

Ia menulis pada hlm. 39 buku ini: “aku tahu kau menulis babi & anjing. aku juga tau kau menulis perempuan & lelaki.” Dan pada larik lain: “aku tetap bisa melihat kakek lewat mata arwana berwarna anjing itu.” Kedua kata ini, yang biasanya kasar, di tangan Titan justru berubah menjadi pintu menuju sesuatu yang rapuh dan eksistensial.

Titan Sadewo & Estetika Profan

Titan tidak sedang memaki. Ia sedang menganjing-anjing dan membabimuntahkan diksi-diksinya sebagai sebuah tindakan kreatif yang terdengar liar tetapi sejatinya sangat terkontrol.

Dalam Simulasi Sakaratul Maut, anjing dan babi bukan peluru verbal. Keduanya adalah penanda kegelisahan, trauma, dan ketakutan yang tidak terucap dengan cara lain. Repetisi kedua kata ini bekerja seperti ritme napas yang kacau: muncul, hilang, kembali lagi—seolah tubuh penyair tidak selesai mengolah duka dan cemasnya.

“aku anjing. tempat kau pulang & mengelus kutu berduri di tubuh. sedang kau seseorang. tempatku menggigit seribu lelaki yang ingin mengganti bajumu dengan darah” (hlm. 45)

Larik ini tidak agresif; semakin dibaca, semakin terasa bahwa Titan menggunakan kata-kata profan sebagai mesin penggerak pengalaman batin. Kata-kata tabu itu menjadi jangkar, menjaga puisinya tetap dekat dengan tanah, tubuh, dan realitas yang kasar—alih-alih mengawang dalam sentimentalisme.

Inilah estetika profan yang dikerjakan Titan: memanfaatkan kata-kata yang selama ini dianggap rendah sebagai jembatan menuju pengalaman spiritual, eksistensial, bahkan metafisik. Keberanian semacam ini menjadikan puisinya tampak seperti ritual: kata-kata kotor disucikan, kata-kata tabu diruwat, kata-kata yang dibuang masyarakat justru dirawat.

Dalam puisi “kakek telah mati, tapi aku bisa melihat matanya berenang”, Titan menolak sentimentalitas. Ia menulis rasa gentar dan bingung sebagai kebingungan itu sendiri yang lebih jujur ketimbang ratapan panjang. Di sinilah anjing dan babi bekerja sebagai metafora tubuh yang bergetar.

Bahasa Tidak Pernah Kotor, Kita yang Melapiskannya

Setelah menamatkan buku ini dua kali, (1) di kamar kos yang remang dan  (2) di bangsal rumah sakit yang sunyi, saya menyadari bahwa Titan tidak sedang mencoba menjadi kontroversial. Ia hanya jujur pada bahasa. Ia memulangkan kata-kata yang selama ini kita buang, lalu mengajarkan bahwa bahkan kata yang paling ditakuti pun dapat menjadi jernih ketika kita berhenti menyumpahkannya.

Bahasa tidak pernah lahir dalam keadaan kotor.
Kitalah yang menimpakan stigma, melumurinya dengan kemarahan, lalu mengutuknya ketika kata itu kembali memantul pada kita. Dalam tangan Titan, kata-kata itu kembali bernapas. Mereka kembali netral, kembali lentur, kembali menjadi alat untuk menggali kedalaman batin manusia. Titan tidak memaki siapa pun. Ia hanya menunjukkan bahwa bahasa—betapapun berlumur sejarah umpatan—tetap bisa bersinar ketika diberi ruang yang tepat.

Melalui keberaniannya menganjing-anjing dan membabimuntahkan diksi-diksi dalam buku ini, Titan sesungguhnya sedang mengembalikan bahasa pada kebebasannya yang paling murni.

Judul            : Simulasi Sakaratul Maut
Penulis         : Titan Sadewo
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2025
Jumlah         : vii + 53 halaman
ISBN            : 978-602-06-8227-3