Musim Terakhir Menjahit

Kau lipat bajuku sebelum berangkat
dengan cara yang sama kau lipat duka,
rapi di sudut lemari,
tidak untuk dipakai lagi.

Jarum terakhirmu patah di tengah kain
ketika hujan mengetuk genteng
seperti seseorang yang tahu
tidak akan dibukakan pintu.

Tanganmu pernah menjahit luka-luka
di celana sekolahku yang robek di lutut
sekarang kukira aku bisa menjahit sendiri
tapi benangnya selalu putus di simpul pertama.

Bunga di pot depan rumah mati
bukan karena tidak disiram,
tapi karena tidak ada yang tahu
kapan ia haus.

Di sini hujan masih datang tepat waktu
tapi aku lupa di mana kau simpan payung
dan terlalu gengsi untuk bertanya
kepada orang yang sudah pergi.

***

Cara Ibu Menyebut Namaku

Ada yang berbeda ketika ia memanggilku
dari balik pintu kamar mandi,
suaranya tidak naik, tidak turun,
seperti garis di kertas kardiogram
orang yang sudah damai.

Aku tahu itu bukan marah.
Aku tahu itu bukan rindu.
Itu adalah cara perempuan tua
memanggil seseorang
yang terlalu jauh untuk dijangkau
meski hanya beda satu pintu.

Namaku di mulutnya
sudah aus seperti sandal rumah,
masih dipakai,
tapi tidak ada yang membelinya baru.

*) Image by Ade Ubaidil