kisah pisau dan telenan
setelah sayatan itu sampai ke dada
telenan menelan ludah dalam-dalam
perih irisan dan sisa kulit bawang
diusap perlahan.
maka pisau menyayat sisi lain. setelah
ditajamkan dengan lidah-lidah
tanpa belas-kasih
seturut kemudian, patah cabai diiris
tipis. semakin pasrah pada
ketajaman. pada luka punggung yang
masih membekas.
maka pisau menyayat pada mata
tatapan menghitam, gelap. dan
segalanya tiada terlihat
tapi pisau masih terus diasah
dari hari ke hari.
sekalipun telenan telah kandas
disayat mata pisau.
2025
***
ranjang malam pengantin
malam dan kunang-kunang bercinta
melupa ranjang itu terbuat dari
mawar berduri, dilapisi dengan kain panjang
yang melilit anak-anak
hingga menangis seharian.
tanpa rasa luka, malam dan kunang-kunang
meleburkan kenang ke hadapan
bulan. ke wajah bintang tanpa
sehelai benang tersisa.
selangit lagi. sampailah pada
surga yang diimpikan semuanya. terbanglah
semakin meninggi.
padahal kunang-kunang. telah sampai
pada kenang-kenang.
2025
***
tiket kereta di musim penantian
simpanlah tiket kereta di saku musim
adakah pesanan tiket untuk sampai pada musim
lain?
suara derit rel dan peluit
tersimpan dalam ingatan. dari peron ke
peron. tapi kereta kerap berhenti
di stasiun yang sama.
tetiba lagi, iring-mengiring dering ponsel
layar hitam memantulkan
deretan rute. kendati begitu, sepi saling
menjinjing rute yang berbeda.
kemana akan disiapkan lerai. dering atau
rute. atau sama sekali tiada
yang tersimpan.
2025
*) Image by Ade Ubaidil


















