Hujan turun sejak subuh di Desa Kalitirta, membasahi atap-atap seng dan menggenangi jalan tanah di depan rumah panggung milik Pak Marto. Bagi sebagian orang, hujan pagi itu adalah berkah—sawah yang sempat retak karena kemarau panjang akhirnya basah kembali. Namun bagi Sarju, pedagang ikan asin yang biasa menjemur dagangannya di halaman, hujan itu adalah bencana kecil yang mengancam rezeki hari itu.

Sarju, lelaki paruh baya dengan tangan kasar bekas bertahun-tahun menjala ikan, hidup sederhana bersama istrinya, Painah, di ujung desa. Setiap pagi ia menjemur ikan asin hasil tangkapannya sendiri, lalu menjualnya ke pasar kecamatan. Hari itu, di tengah rintik hujan yang belum juga reda, ia mendapati sebagian ikan asinnya raib dari para-para jemuran. Jejak basah dan bau amis menuntunnya pada seekor kucing belang tiga yang biasa berkeliaran di sekitar rumahnya.

“Kucing sialan! Berani-beraninya mencuri rezekiku!” teriak Sarju sambil mengejar kucing itu dengan sapu lidi di tangan. Kucing itu lari ketakutan, menyelinap ke bawah rumah tetangga, meninggalkan Sarju yang masih menggerutu kesal di tengah hujan.

Ketika ia berbalik untuk kembali ke rumah, langkahnya terhenti di depan pohon randu tua tempat sarang lebah bergantung sejak lama. Di bawah pohon itu, dua anak muda sedang mengasapi sarang dengan obor bambu, bersiap memanen madu untuk dijual musim panen ini—tradisi turun-temurun warga desa. Sarju hanya menonton sebentar, lalu melanjutkan langkah, tanpa sadar bahwa apa yang baru saja ia maki dari seekor kucing, sedang dilakukan pula oleh sesama manusia terhadap lebah-lebah itu.

Malamnya, saat hujan sudah berhenti dan langit mulai cerah, Sarju duduk termenung di teras. Painah menghampirinya membawa teh hangat.

“Kenapa masih cemberut? Ikannya cuma sedikit yang hilang,” ujar Painah.

“Bukan soal ikannya, Bu. Aku cuma kepikiran… tadi siang aku marah-marah ke kucing itu, bilang dia pencuri. Tapi Ridwan dan Slamet ngambil madu dari sarang lebah tanpa izin lebahnya juga. Apa bedanya?”

Painah tersenyum tipis. “Bedanya, kita merasa berhak, Pak. Kucing itu nurut naluri, kita nurut kepentingan. Sama-sama ngambil punya makhluk lain, tapi kita kasih nama beda: yang satu pencurian, yang satu panen.”

Kata-kata istrinya itu terus terngiang di kepala Sarju hingga larut malam. Ia teringat pula pada lalat yang hinggap di mana saja tanpa merasa kotor, dan nyamuk yang menghisap darah tanpa merasa menyakiti. Setiap makhluk, pikirnya, hanya menjalani apa yang sudah menjadi wataknya. Yang membedakan baik-buruk hanyalah cara pandang manusia yang mengamatinya.

Esok siangnya, konflik batin Sarju mendapat ujian yang lebih nyata. Sepulang dari pasar, di pinggir jalan setapak yang becek, ia menemukan selembar uang lima puluh ribu rupiah tergeletak, agak kusam terkena lumpur. Tidak ada seorang pun di sekitar. Sarju mengambilnya, memasukkannya ke saku, lalu berjalan pulang dengan detak jantung yang tiba-tiba lebih cepat dari biasanya.

Di rumah, pikirannya bercabang dua. Uang itu bisa menambal atap yang bocor, atau membeli beras yang mulai menipis. Tapi bayangan Mbok Inah, tetangga tua yang berjualan jajanan pasar dan sering mengeluh kehilangan uang recehannya, terus muncul di benaknya. Jangan-jangan uang itu miliknya, yang terjatuh saat pulang berbelanja tadi pagi.

Sepanjang sore, Sarju gelisah. Ia teringat kembali kata-kata istrinya semalam—tentang kucing dan lebah, tentang siapa yang merasa berhak. Uang lima puluh ribu itu bisa menjadi sedekah yang menyelamatkan hidup seseorang, atau menjadi dosa yang mencelakakannya diam-diam. Nilainya sama, tapi maknanya jelas berbeda, tergantung dari mana asalnya dan ke mana ia pergi.

Menjelang magrib, keresahan itu memuncak. Sarju berdiri di depan pintu rumah Mbok Inah dengan uang di genggaman, ragu apakah akan mengetuk pintu atau berbalik pulang. Tangannya berkeringat dingin, jantungnya berdebar seperti orang yang sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar dari selembar uang kumal.

Ia mengetuk pintu. Mbok Inah membuka dengan wajah lelah, matanya sembap seperti habis menangis.

“Ada apa, Jur?”

“Mbok… tadi siang saya nemu uang di jalan setapak deket sawah. Lima puluh ribu. Kepikiran, jangan-jangan punya Mbok yang jatuh.”

Mata Mbok Inah langsung berkaca-kaca. “Alhamdulillah… itu uang buat beli obat cucu saya yang lagi demam, Jur. Saya sudah nyariin dari tadi pagi, sampai putus asa.”

Sarju menyerahkan uang itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ada rasa lega yang mengalir deras di dadanya, jauh lebih berharga daripada atap yang bisa ia perbaiki nanti dengan cara lain.

Malam itu, Sarju pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia duduk di teras yang sama, memandangi langit yang sudah bersih dari mendung. Painah menghampirinya lagi, kali ini tanpa membawa teh, hanya membawa senyum penuh tanya.

“Sudah dikembaliin, Bu,” kata Sarju pelan. “Ternyata itu uang buat obat cucunya Mbok Inah.”

Painah duduk di sampingnya. “Nah, itu yang saya maksud kemarin. Hujan yang sama bisa jadi berkah buat petani, bisa jadi ujian buat pedagang. Uang yang sama bisa jadi sedekah, bisa jadi dosa. Yang nentuin bukan bendanya, Pak, tapi niat dan sudut pandang kita ngadepin dia.”

Sarju mengangguk pelan, memandang jauh ke arah pohon randu tempat sarang lebah masih tergantung, dan ke arah pagar tempat kucing belang tiga itu kadang masih muncul mencari sisa ikan. Ia sadar, dunia ini tidak pernah benar-benar hitam putih. Yang membuatnya tampak begitu hanyalah cara manusia memandang, keadaan yang dihadapi, dan niat yang tersembunyi di balik setiap tindakan—termasuk tindakannya sendiri.

*) Image by istockphoto.com