Lampu kamar telah kupadamkan sejak selepas tengah malam, membiarkan kegelapan menyelimuti setiap sudut ruangan. Aku masih duduk bersila di tempat yang sama, terpaku pada lantai yang dingin. Rasa dingin yang perlahan menjalar dari ujung kaki hingga ke persendianku sebenarnya tak sebanding dengan kekosongan yang mendiami dadaku—sebuah ruang hampa yang terasa asing, bahkan bagi diriku sendiri.

Aku telah menghabiskan waktu berjam-jam dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ditemani suara lirih lantunan beberapa kata dalam Bahasa Arab yang berulang kali kucapkan. Aku merapalkannya bagaikan mantra, sebuah upaya putus asa yang kuharap mampu menyalakan sedikit saja cahaya di dalam hidupku yang mendadak gelap gulita.

Namun, nyatanya tidak semudah itu. Jariku yang bergerak mekanis menghitung butiran tasbih kayu ini tak kunjung mampu mengusir kecemasan yang bergemuruh di dalam hati. Dalam keheningan yang seharusnya memberikan kedamaian, pikiranku justru menjadi medan perang. Ruang itu dipenuhi dengan sangkalan-sangkalan tajam tentang eksistensi dari sebuah Keberadaan yang seharusnya tak perlu lagi aku pertanyakan. Ego dalam diriku masih mencoba melawan, menolak untuk mengakui kelemahan di hadapan Sang Pencipta.

Aku mendongak, menatap langit-langit kamar yang buram. Cahaya bulan yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan siluet panjang yang ganjil di atas lantai. Aku menyadari bahwa yang kubutuhkan saat ini bukanlah sekadar pantulan cahaya bulan, melainkan secercah cahaya batin yang sanggup menuntun jiwaku melangkah ke arah yang telah digariskan, seberapa pun sulitnya itu untuk kuterima.

Namun, pertanyaan-pertanyaan yang sama terus berputar di kepalaku, menimbulkan lembah keraguan dalam batinku. Apakah selama ini yang kulakukan hanyalah sebuah kesalahan yang masif? Aku mempertanyakan keadilan semesta yang seolah sengaja menjatuhkan beban di atas pundakku sendirian. Seketika luapan emosi yang membendung rasa sakit itu jebol, menerjang dan mengayutkan aku dalam gelombang keputusasaan. Dengan kepingan-kepingan kecil asa yang tertinggal di dalam diriku, aku menengadahkan kedua tanganku ke langit malam sambil berbisik pada udara kosong yang hampa, memohon bahwa seluruh peristiwa ini hanyalah mimpi yang menghiasi tidurku, di mana esok aku akan terbangun dengan kenyataan indah yang jauh dari kekacauan saat ini.

Kenyataannya tidak, dan di dalam kesunyian yang menyesakkan itu, ingatanku terseret kembali pada sebuah hari yang mengubah segalanya. Bayangan itu masih terukir begitu tajam di benakku: langkah-langkah kaki yang berat dari pria-pria berseragam yang menerobos masuk tanpa permisi ke dalam rumahku. Mereka datang dengan wajah-wajah kaku, menodongku dengan selembar kertas—surat penangkapan—yang alasan dasarnya pun tak pernah sanggup kupahami sepenuhnya. Saat itu, duniaku runtuh seketika. Kemuliaan yang kubangun bertahun-tahun seolah terbakar menjadi abu hanya dalam hitungan detik.

Rumahku mendadak sunyi, seolah suara kehidupan ditarik paksa dari sana. Tak ada lagi tawa riang kolega, tak ada lagi langkah kaki pelayan, tak ada lagi keriuhan tamu-tamu yang dulu selalu mengelu-elukan namaku. Ponselku, yang biasanya bergetar tanpa henti, kini membeku. Notifikasi dari mereka yang menyebut diri mereka ‘sahabat’ hilang tak berbekas. Kolega dan klien yang dulu berebut ingin menjabat tanganku kini seolah lenyap ditelan bumi. Semua menghilang. Aku tak tahu apakah mereka yang sengaja menghilang dari pandanganku karena malu, ataukah aku yang sengaja dihilangkan dari ingatan mereka agar tak merusak reputasi mereka.

Kini, aku duduk sendirian. Aku memang tidak berada di balik jeruji besi seperti yang mungkin diharapkan oleh orang-orang yang kontra denganku. Aku hanya berada di dalam sebuah rumah kecil yang tak lebih besar dari separuh lapangan basket. Namun, di dalam ruangan yang sempit inilah, aku akhirnya menyadari kenyataan pahit tentang siapa saja yang benar-benar memilih untuk tetap tinggal di sisiku dan siapa yang memutuskan untuk segera melangkah menjauh saat badai menerjang.

Dalam keputusasaan, aku sempat mencoba memanggil mereka. Aku mencari wajah-wajah yang kucintai, meneriakkan nama-nama mereka hingga tenggorokanku terasa kering dan perih. Aku merasa ditinggalkan, tak berdaya, dan terisolasi sepenuhnya. Akan tetapi, di titik itulah aku memahami sebuah kebenaran yang menyakitkan: ternyata cinta dan kesetiaan yang mereka tunjukkan selama ini hanyalah sebuah kamuflase dari kepentingan-kepentingan yang mereka inginkan dariku. Saat aku tak lagi memiliki jabatan dan kuasa, aku bukan lagi siapa-siapa di mata mereka.

Ketika aku tak lagi menemukan bahu manusia untuk bersandar, justru saat itulah aku menemukannya. Sesuatu yang selama ini aku anggap tidak ada, sesuatu yang dulu sering kuremehkan sebagai ‘pelarian’ bagi orang-orang lemah yang tidak memiliki kapasitas mumpuni. Sebenarnya, aku pernah mempercayai kehadiran itu di masa kecilku, sebelum keangkuhan duniawi membuatku memutuskan untuk meninggalkannya dan mencoba berdiri angkuh dengan kakiku sendiri.

Dalam malam-malam hening yang awalnya terasa mencekam, aku mulai merasakan suatu getaran yang berbeda. Itu bukan suara, melainkan sebuah sensasi yang sangat halus, menyerupai desau angin yang menggerakkan dedaunan di tengah malam. Di tengah rasa dingin yang menjalar dari lantai marmer ke kakiku, muncul sebuah kehangatan yang merambat begitu perlahan, namun begitu dalam. Kehangatan itu mengisi kekosongan demi kekosongan yang ditinggalkan oleh rasa takut dan pengkhianatan manusia.

Bulan-bulan berlalu tanpa pernah lagi kuhitung. Waktu tak lagi menjadi satuan ukuran yang penting bagiku. Kini, kesendirian dan kegelapan bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah kawan yang jujur. Di dalam ruangan sempit ini, di atas selembar kain beludru lembut yang kini menjadi satu-satunya tempat ternyamanku, aku meletakkan keningku rendah-rendah.

Dengan kesadaran penuh yang menyakitkan namun membebaskan, aku kini mengakui keberadaannya. Aku bersyukur bahwa ia memilih cara yang sedikit keras untuk menarikku kembali, karena tanpanya, mungkin aku akan selamanya tersesat dalam keangkuhanku sendiri.

Dalam keheningan yang kini tak lagi menyesakkan, aku menemukan setitik cahaya yang kucari selama ini. Bagaikan seorang anak kecil yang tersesat sendirian di dalam labirin gelap, aku merasakan tangan yang terulur lembut padaku, menuntunku keluar dari labirin ego yang kuciptakan sendiri selama puluhan tahun. Kini aku tak lagi memiliki apa-apa—setidaknya itulah yang  terlihat di mata manusia—tapi untuk pertama kalinya, aku merasa telah memiliki segalanya karena aku memilikinya.

***

Aku meletakkan keningku di atas lantai dengan sangat lama, seolah itu adalah tempatku yang sesungguhnya, di bawah lampu kamar yang mulai meredup, ingatanku tiba-tiba ditarik kembali menyusuri lorong waktu, jauh ke masa lalu. Aku teringat pada masa-masa di mana hatiku masih murni, jauh sebelum keserakahan duniawi mengotori hati dan jiwaku. Bayangan masa muda itu muncul kembali, di mana saat itu aku pernah bersumpah untuk tetap setia pada jalan kebenaran, sebuah janji suci yang dulu mengikat batinku dengan kuat namun perlahan terlupakan karena aku terlalu silau oleh gemerlapnya kekuasaan.

Kini, di tengah kehancuran ini, aku menyadari bahwa peristiwa penangkapanku, pengucilan ini, dan semua rasa malu yang kutanggung adalah salah satu atau mungkin satu-satunya cara untuk mengingatkanku kembali pada ikatan janji tersebut. Seolah-olah aku sedang ditarik paksa setelah sekian lama aku mencoba lari dan tersesat di rimba ambisi yang tak berujung.

Kini, sudut pandangku terhadap dunia telah bertransformasi sepenuhnya. Aku mulai menaruh perhatian pada detail-detail kehidupan yang dulu selalu kuanggap remeh dalam hiruk-pikuk jadwalku yang padat. Aku menjadi sangat peduli pada irama alam, memerhatikan dengan saksama bagaimana siang perlahan meredup menjadi senja, dan bagaimana malam yang dingin secara ajaib berganti menjadi fajar yang penuh harapan.

Setiap pergantian waktu kini terasa seperti sebuah bisikan lembut, sebuah pengingat bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak bukan tanpa kendali, termasuk jatuh bangunnya nasibku. Dulu, aku terlalu sibuk mengejar matahari hingga lupa bersyukur pada rembulan. Kini, setiap helaan napas terasa seperti anugerah yang sangat mahal, sebuah titipan yang harus kujaga dengan penuh tanggung jawab.

Rasa sedih yang awalnya terasa mencekik leher dan membuatku ingin menyerah pada hidup, perlahan-lahan mulai kehilangan taringnya. Kepahitan karena dikhianati oleh teman-teman kolega, bahkan keluarga, kini tak lagi memiliki arti apa pun bagiku. Seluruh kesedihan ini mendadak menjadi sangat kecil, hampir tidak berharga, ketika aku dapat membandingkannya dengan kemuliaan yang kutemukan dalam komunikasi batiniah ini. Apa gunanya aku meratapi kehilangan yang fana jika di saat yang sama aku telah menemukan sesuatu yang abadi di dalam dadaku? Luka-luka di hatiku mendadak terasa hambar saat aku menyadari bahwa keberadaannyalah menjadi satu-satunya tempatku pulang, satu-satunya pihak yang tak pernah pergi meninggalkanku, bahkan disaat diriku sendiri ingin melakukannya.

Dahulu, aku adalah orang yang paling malang karena mencari sandaran pada pundak manusia yang rapuh dan penuh pamrih. Aku mencari keamanan pada pertemuan-pertemuan di meja yang dingin, pada lembaran-lembaran dokumen kontrak, serta angka-angka digital yang kusadari kini tak memiliki nilai sebesar yang terlihat. Betapa sombong dan bodohnya aku saat itu. Sekarang, di dalam kesunyian rumah kecil yang sunyi ini, aku akhirnya menemukan sandaran yang sesungguhnya.

Satu-satunya kekuatan yang tak akan pernah goyah meski badai fitnah paling hebat sekalipun menghantam hidupku. Satu-satunya tempat di mana aku meletakkan seluruh beban yang selama ini kupikul sendirian hingga membuat punggungku bungkuk oleh stres dan kecemasan. Di dalam dekapan kasih yang tak terlihat namun terasa nyata, aku akhirnya menemukan kedamaian yang tak pernah bisa dibeli dengan jabatan setinggi apa pun atau harta sebanyak apa pun. Kini aku tahu, selama ia menjadi sandaran bagi jiwaku, aku tak akan pernah benar-benar jatuh.

*) Image by istockphoto.com