“Ia naik lagi ke geladak dan menghirup udara laut dalam-dalam. Palermo pasti sudah sangat dekat. Ia bisa merasakannya dari semilir angin yang berat, membawa serta wewangian pekat dedaunan, bebungaan, dan bebuahan limau. Ia amat mengenalinya dan telah mencatat dengan cermat tanaman-tanaman dan pepohonan yang menghasilkan wewangian tersebut. Tak seorang pun kawannya menerima fakta bahwa aroma wangi itu berbeda dengan yang ada di pulau-pulau lainnya dan keangkuhan tolol yang ditunjukkan oleh orang-orang ini telah membuatnya sangat marah. Ia sudah membuat catatan rinci dedaunan dan bebungaan dari pulau-pulau di sekitar Laut Tengah, dan setelah bertahun-tahun mengelana, ia bisa mengenali sebuah pulau dalam kegelapan hanya melalui aromanya.”
(Tariq Ali, Seorang Sultan di Palermo, Serambi, 2007)
KURUNGBUKA.com – Yang ditulis Tariq Ali membuat pembaca susah dalam pilihan perhatian. Pengarang kadang memuliakan kitab-kitab. Namun, ia pun menggoda pembaca dengan geografi. Pada paragraf-paragraf yang menegangkan, ia justru membahasa identitas yang pelik. Di beberapa halaman, pembaca sempat berpikiran politik dan iman.
Tariq Ali memang meulis novel tapi yang membacanya perlu seribu pasang mata. Mengapa novel mampu membuat pembaca memeganginya erat, tidak mau kehilangan atau kelewatan segala keistimewaannya? Yang sedang dibaca adalah novel panjang, yang membutuhkan nafas dan kekuatan ingatan untuk memungkinkan terus bersama novel dalam waktu yang lama. Khatam novel berjudul Seorang Sultan di Palermo bukan berarti keberhasilan. Yang insaf mengetahui pengarang mengulur banyak hal, yang melewati halaman terakhir.
Kita sedang mengikuti sosok yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang mengagumkan. Apakah kita sedang ikut belajar geografi atau botanai? Kita membayangkan dulu turut dalam peristiwa di kapal. Posisi di atas lautan memberi kesan-kesan yang tidak biasa. Tokoh yang dihidupkan dan dimuliakan oleh Tariq Ali adalah keajaiban. Artinya, ia memiliki cara dan pembutkian mengenai pengelanaan, pulau, flora, aroma, dan lain-lain.
Keistimewaannya ditentukan angin dan wewangian. Di jarak tertentu, ia mengenali pulau melalui pancaindera, terutama hidung. Ia mungkin telah menyatu dengan alam, yang membuatnya mengetahui “bahasa” dalam percakapan misterius. Ia dapat menebak secara benar atas posisi dan kekhasan pulau-pulau. Pembaca dapat mengiranya adalah orang yang bertekun dalam geografi. Ia membaca segala tempat, yang album ingatannya dibuat oleh hal-hal yang berpijak alam.
Pada daun, bunga, dan buah, ia sanggup menyusun “kebenaran” mengenai kekuatan pulau. Ia menjaminkan pengalaman dan pengetahuannya meski mendapat pengabaian atau penngabaian. Keyakinan bahwa yang dinyatakannya itu sesuai kondisi alam. Yang dilakukannya adalah membentuk “sistem” tapi terlalu sulit dipelajari oleh orang lain.
Semula, yang kita ketahuan adalah nama pulau. Namun, yang belum disebutkan adalah beragam nama tanaman atau pohon. Ia memang menyebut limau tapi kita berimajinasi ada macam-macam. Apakah sosok itu sebenarnya juga paham botani? Pastinya ia mempelajari meski tidak harus memamerkan kepada orang-orang yang meremehkannya.
Pada saat berada di laut, ia menguji kebenaran-kebenaran yang tidak dimiliki oleh orang lain. Maka, ia berhak mengesahkan pengetahuan dan pengalamannya tanpa tepuk tangan dan seribu pujian. Pembaca makin menghormatinya dengan pengakuan bisa mengenali pulau sambil memejamkan mata. Yang dilakukannya bukan pentas sulapan. Ia berada dalam jalinan-jalinan yang menghidupkan di alam. Namun, caranya untuk mengungkapkan tidak selalu mudah, yang memungkinkan “salah”. Yang kita percaya adalah kesungguhannya untuk meyakini geografi dan botani dalam pengelanaan, tidak terpusat pada buku. Ia berada dalam panggung alam, yang terang dan gelap.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











