Catatan reflektif dari perjalanan riset di 19 provinsi Indonesia tentang ketimpangan, modernitas, dan rapuhnya kesadaran di tengah terang pembangunan.

KURUNGBUKA.com – Suatu sore di sebuah wilayah yang kerap disebut terluar, terdepan, dan tertinggal, atau 3T saya berdiri di depan bangunan puskesmas yang catnya mulai memudar hingga temboknya retak. Cahaya bulan selalu memantul di permukaan laut, memecah ombak menjadi kilau yang tenang sekaligus mengancam.

Perjalanan menuju pulau kecil itu memakan waktu berjam jam dengan perahu kayu yang bergantung pada cuaca dan keberanian. Mesin meraung, angin asin menampar wajah, dan jarak terasa seperti sesuatu yang tidak hanya memisahkan ruang, tetapi juga Nasib kami di dalamnya.

Seorang ibu berdiri di depan rumah panggungnya ketika saya tiba bersama rombongan tenaga kesehatan. Anak laki lakinya terbaring dengan tubuh panas dan mata sayu. Suhu badannya tinggi.

Puskesmas pembantu terdekat hanya memiliki persediaan obat terbatas. Rujukan berarti perjalanan laut yang sama panjangnya, dengan risiko yang tidak kecil. Ketika saya bertanya apakah ia khawatir, ia tersenyum tipis dan berkata pelan, “Sudah biasa begini.”

Kalimat itu tidak disertai amarah. Tidak ada tuntutan. Tidak ada nada protes. Hanya penerimaan yang tenang, seolah jarak dan keterbatasan adalah bagian alami dari hidup yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Pada saat itulah saya merasakan sesuatu yang lebih dingin daripada angin laut. Bukan sekadar ketimpangan akses kesehatan yang membuat saya gelisah, melainkan ketenangan dalam menerima ketimpangan itu sendiri.

Malam tidak selalu datang dalam bentuk kegelapan yang dramatis. Ia tidak selalu diawali dengan keruntuhan bangunan atau teriakan panik. Malam sering kali hadir secara perlahan, menyusup melalui kebiasaan yang berulang. Ketika ketidakadilan menjadi rutinitas. Ketika penderitaan kehilangan daya kejutnya. Ketika kalimat “memang sudah biasa” terdengar lebih masuk akal daripada pertanyaan “mengapa harus begini”.

Peristiwa di pulau kecil itu bukanlah kisah tunggal. Banyak wilayah lain mengalami keterbatasan serupa. Banyak keluarga lain mempertaruhkan keselamatan demi layanan dasar yang di kota dianggap biasa.

Modernitas terus bergerak maju dengan bangunan tinggi, jaringan internet cepat, dan laporan kemajuan yang optimistis. Namun di sudut sudut tertentu, waktu seolah berjalan dengan ritme yang berbeda. Jarak tidak hanya geografis, tetapi juga moral.

Pertanyaan yang kemudian menghantui saya bukan semata tentang distribusi fasilitas atau besaran anggaran. Pertanyaan itu jauh lebih mendasar. Apa arti pembangunan jika sebagian warga tetap harus bernegosiasi dengan risiko hanya untuk bertahan hidup.

Apa arti kehadiran negara jika rasa adil tidak pernah benar benar sampai pada mereka yang paling jauh dari pusat kekuasaan. Apa arti menjadi manusia jika kita mampu hidup berdampingan dengan ketimpangan tanpa lagi merasa terguncang.

Krisis yang saya saksikan bukan hanya krisis layanan. Krisis itu adalah krisis kesadaran. Kesadaran bahwa sesuatu yang tidak adil sedang berlangsung. Kesadaran bahwa penerimaan yang terlalu cepat dapat berubah menjadi pembiaran. Kesadaran bahwa malam tidak selalu berarti ketiadaan cahaya, tetapi bisa berarti mata yang perlahan menutup.

Pengalaman tersebut mengubah cara saya memandang statistik kesehatan, laporan capaian program, dan diskusi kebijakan di ruang rapat. Angka angka memang penting. Data membantu memahami skala persoalan. Namun di balik setiap persentase terdapat wajah, cerita, dan kecemasan yang tidak tercatat secara utuh.

Ketika angka menjadi pusat perhatian, ada risiko bahwa manusia direduksi menjadi kategori. Pada titik itulah saya mulai bertanya, apakah modernitas sedang membentuk kita menjadi masyarakat yang efisien tetapi tidak lagi peka.

Malam yang saya maksud bukanlah malam yang ditandai oleh padamnya listrik atau redupnya matahari. Malam adalah metafora bagi kesadaran yang menurun. Ia datang ketika kita berhenti merasa terganggu.

Ia tumbuh ketika ketidakadilan dinormalisasi. Ia menguat ketika kenyamanan membuat kita enggan mempertanyakan sistem yang menopang hidup kita sendiri.

Perjalanan laut itu telah usai, namun pertanyaan tentang malam terus mengikuti saya kembali ke kota. Pertanyaan itu tidak hanya diarahkan kepada negara atau pembuat kebijakan. Pertanyaan itu juga diarahkan kepada diri saya sendiri.

Apakah saya benar benar terjaga. Ataukah saya juga bagian dari masyarakat yang perlahan menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar. Malam mungkin sedang datang. Tidak dengan gemuruh, tetapi dengan kesunyian yang diterima tanpa perlawanan.

Ketika Ketimpangan Menjadi Kebiasaan

Pagi berikutnya, antrean kecil sudah terbentuk di depan bangunan layanan kesehatan sederhana itu. Seorang nelayan tua datang dengan luka di kakinya yang tidak kunjung sembuh. Seorang ibu hamil duduk sambil memegangi perutnya, menahan nyeri yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Anak anak berlarian tanpa alas kaki di tanah berdebu. Tidak ada yang tampak dramatis. Tidak ada suara yang meninggi. Semua berjalan seperti hari hari sebelumnya. Justru ketenangan itulah yang membuat saya resah.

Keterbatasan fasilitas memang terlihat jelas. Namun yang lebih mengganggu adalah cara semua orang menyesuaikan diri dengan keterbatasan tersebut seolah itulah standar yang sewajarnya. Tidak ada tuntutan yang keras. Tidak ada kemarahan yang meledak. Ada daya tahan, ada kesabaran, ada penerimaan. Daya tahan itu sering dipuji sebagai kebajikan. Kesabaran dianggap sebagai kekuatan. Namun dalam diam saya bertanya, sampai kapan kesabaran harus menjadi penyangga bagi sistem yang tidak adil.

Kebiasaan memiliki kekuatan yang luar biasa. Sesuatu yang awalnya terasa menyakitkan, jika berlangsung lama, perlahan berubah menjadi latar belakang kehidupan. Ketimpangan yang terus dihadapi setiap hari tidak lagi terasa sebagai anomali. Ia menjadi bagian dari normalitas. Pada titik inilah krisis kesadaran mulai bekerja dengan halus.

Kematian moral jarang terjadi secara tiba tiba. Ia tidak selalu ditandai oleh tindakan kejam yang terang terangan. Kematian moral sering hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, yaitu ketika ketidakadilan tidak lagi memicu kegelisahan yang mendalam. Rasa terganggu adalah indikator bahwa nurani masih hidup. Ketika rasa itu menipis, ada sesuatu yang sedang padam.

Saya mengingat kembali percakapan dengan seorang tenaga kesehatan lokal yang telah bertugas bertahun tahun di sana. Ia berkata bahwa pada awal penugasannya, ia sering merasa marah melihat keterbatasan alat dan obat. Waktu berjalan, amarah itu berubah menjadi rutinitas. “Kalau terus marah, capek sendiri,” katanya.

Kalimat itu jujur dan manusiawi. Namun kalimat itu juga memperlihatkan bagaimana sistem mampu mengubah kegelisahan menjadi kelelahan, lalu mengubah kelelahan menjadi penerimaan.

Pertanyaan eksistensial yang muncul bukan lagi tentang benar atau salah secara administratif. Pertanyaan itu menyentuh hakikat menjadi manusia. Apakah manusia tetap manusia ketika ia berhenti merasa terganggu oleh ketidakadilan yang jelas terlihat.

Apakah daya tahan tanpa kritik dapat berubah menjadi bentuk persetujuan diam diam terhadap kondisi yang semestinya diperjuangkan untuk diubah. Kebiasaan menerima ketimpangan tidak hanya terjadi di wilayah terpencil.

Kota besar pun memiliki versinya sendiri. Ketika berita tentang kesulitan akses kesehatan dibaca sambil lalu, ketika angka kematian menjadi sekadar grafik yang dibagikan tanpa refleksi, ketika simpati berhenti pada komentar singkat, pola yang sama sedang berlangsung.

Ketidakadilan dikonsumsi sebagai informasi, bukan dialami sebagai panggilan moral

Dari sinilah saya mulai menyadari bahwa krisis kesadaran bersifat kolektif. Masyarakat di wilayah 3T menerima karena merasa tidak memiliki pilihan. Masyarakat di pusat kota menerima karena merasa persoalan itu jauh dari kehidupan sehari hari. Dua bentuk penerimaan yang berbeda, tetapi sama sama berpotensi melanggengkan keadaan.

Normalisasi ketidakadilan adalah malam yang paling berbahaya karena ia tidak menakutkan. Ia terasa wajar. Ia tidak menimbulkan kepanikan. Ia membuat manusia mampu tidur dengan tenang meskipun di sudut lain ada yang terus bergulat dengan keterbatasan.

Pada saat ketenangan batin tidak lagi terusik oleh penderitaan yang nyata, di situlah kematian moral bekerja dengan efektif. Refleksi ini memaksa saya untuk tidak hanya menunjuk keluar. Saya pun pernah membaca laporan tentang ketimpangan sambil tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa. Saya pun pernah menghela napas, berkata miris, lalu berpindah ke urusan lain yang lebih mendesak.

Kesadaran yang melemah di tingkat individu pada akhirnya terhubung dengan cara sistem bekerja. Penerimaan warga terhadap ketimpangan dan efisiensi administratif negara bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya saling mempengaruhi.

Ketika masyarakat terbiasa menerima, tekanan untuk berubah mengecil. Ketika sistem berjalan tanpa gangguan moral yang berarti, ruang untuk refleksi semakin sempit.

Dari sinilah pertanyaan tentang negara tidak lagi sekadar pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan ontologis. Jika individu dapat kehilangan kepekaan melalui kebiasaan, apakah mungkin negara pun kehilangan makna melalui prosedur.

Negara, Sistem, dan Hilangnya Makna Kehadiran

Pertanyaan itu membawa saya pada ruang yang berbeda, Dalam berbagai rapat dan forum, saya menyaksikan bagaimana persoalan kesehatan diringkas menjadi presentasi yang rapi. Grafik naik turun. Persentase tercapai atau belum tercapai.

Daerah diklasifikasikan menurut kategori risiko. Bahasa teknis mendominasi percakapan. Semua terdengar rasional. Semua terlihat profesional. Akan tetapi di tengah paparan tersebut, saya sering teringat wajah ibu yang berkata “sudah biasa begini.”

Statistik membantu melihat gambaran besar. Tanpa data, kebijakan akan berjalan dalam kegelapan. Namun data juga memiliki keterbatasan ontologis. Data tidak pernah benar benar mampu menangkap pengalaman subjektif manusia.

Ketika manusia direduksi menjadi angka prevalensi, angka insiden, atau angka cakupan layanan, ada risiko bahwa makna keberadaannya menyempit menjadi variabel dalam tabel.

Refleksi ini sejalan dengan kritik filsafat modern terhadap cara berpikir yang terlalu teknis. Rasionalitas instrumental cenderung menilai sesuatu berdasarkan kegunaannya. Dalam kerangka tersebut, manusia mudah dilihat sebagai objek yang harus dikelola secara efisien.

Pembangunan kemudian dipahami sebagai proses optimalisasi sumber daya. Pertumbuhan ekonomi, peningkatan akses, dan efisiensi anggaran menjadi ukuran utama keberhasilan. Masalah muncul ketika ukuran keberhasilan itu tidak lagi disertai pertanyaan moral yang mendalam.

Apakah peningkatan persentase akses benar benar berarti keadilan telah tercapai. Apakah capaian indikator cukup untuk mengatakan bahwa martabat manusia telah dihormati. Apakah keberhasilan program dapat menebus pengalaman individu yang tetap merasa terpinggirkan.

Saya tidak menolak pentingnya sistem. Sistem dibutuhkan agar pelayanan berjalan. Negara tanpa struktur akan terjebak dalam kekacauan. Namun sistem yang tidak disertai kesadaran moral berpotensi menjadi mesin yang dingin. Mesin tersebut dapat berfungsi dengan baik secara administratif, tetapi gagal menyentuh inti persoalan kemanusiaan.

Hilangnya makna kehadiran terjadi ketika negara lebih sibuk menghitung capaian daripada mendengarkan cerita. Hilangnya makna itu juga terjadi ketika warga lebih sibuk menuntut layanan tanpa merefleksikan tanggung jawab kolektif.

Relasi antara negara dan warga seharusnya tidak berhenti pada transaksi hak dan kewajiban. Relasi itu juga mengandung dimensi etis, yaitu pengakuan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang tidak dapat direduksi menjadi angka.

Pada titik ini, krisis kesadaran kembali muncul sebagai persoalan sentral. Negara dapat saja menjalankan program dengan disiplin. Warga dapat saja mematuhi aturan. Namun jika kedua pihak tidak lagi mempertanyakan makna di balik tindakan mereka, pembangunan berubah menjadi rutinitas administratif. Kehadiran menjadi formalitas.

Refleksi ontologis tentang negara membawa saya pada kesimpulan yang tidak nyaman. Masalah utama bukan hanya kurangnya sumber daya atau lemahnya implementasi. Masalah yang lebih dalam adalah cara kita memandang manusia dalam keseluruhan sistem tersebut.

Jika manusia dipahami terutama sebagai objek kebijakan, maka kebijakan yang lahir akan cenderung teknokratis. Jika manusia dipahami sebagai subjek moral yang memiliki martabat, maka kebijakan seharusnya disertai kepekaan yang lebih dalam.

Pengalaman di pulau kecil itu menjadi cermin yang memperlihatkan jarak antara administrasi dan makna. Negara mungkin hadir dalam dokumen dan anggaran. Namun kehadiran yang dirasakan oleh warga ditentukan oleh sejauh mana mereka diperlakukan sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar penerima program.

Pertanyaan yang terus saya bawa pulang adalah ini. Apakah kita sedang membangun sistem yang semakin efisien tetapi semakin jauh dari makna kemanusiaan. Apakah malam yang datang bukan hanya tentang ketimpangan fisik, melainkan tentang pergeseran cara kita memahami keberadaan manusia dalam ruang publik.

Jika jawabannya mengarah pada kegelisahan, maka kegelisahan itu seharusnya tidak segera ditenangkan. Kegelisahan adalah tanda bahwa kesadaran masih bekerja. Tanpa kegelisahan, pembangunan berisiko menjadi proyek tanpa jiwa. Tanpa kesadaran, negara dan warga sama sama berjalan dalam terang yang semu, sementara malam tumbuh perlahan di balik kebiasaan yang tidak lagi dipertanyakan.

Manusia Modern dan Ilusi Yang Begitu Terang

Refleksi tentang negara dan sistem pada akhirnya membawa saya kembali kepada pertanyaan yang lebih luas tentang zaman yang sedang kita hidupi. Jika kebiasaan mampu menumpulkan nurani individu, dan prosedur mampu mengeringkan makna kehadiran negara, maka ada lanskap yang lebih besar yang membentuk keduanya. Lanskap itu bernama modernitas.

Zaman ini sering dipahami sebagai era terang. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Jarak terasa semakin dekat berkat teknologi komunikasi. Setiap peristiwa dapat diketahui hampir secara serentak oleh jutaan orang. Dalam terang semacam itu, kegelapan seolah tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.

Namun pengalaman justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Terang informasi tidak selalu melahirkan terang kesadaran. Ketika berita tentang keterbatasan akses kesehatan di wilayah terpencil muncul di linimasa, respons biasanya cepat. Ungkapan simpati mengalir. Tautan dibagikan. Tagar bermunculan.

Beberapa hari kemudian, perhatian bergeser pada isu lain yang lebih baru dan lebih ramai. Pola ini berulang dengan konsisten. Empati hadir, tetapi sebentar. Keterkejutan muncul, lalu menguap.

Fenomena tersebut membuat saya bertanya apakah empati di era digital telah berubah bentuk. Empati tidak lagi selalu menjadi dorongan untuk terlibat secara mendalam, melainkan sering kali menjadi respons singkat yang cukup untuk menenangkan hati.

Setelah menekan tombol suka atau membagikan unggahan, seseorang dapat merasa telah melakukan bagian moralnya. Rasa bersalah mereda, rutinitas berlanjut.

Ilusi terang bekerja dengan halus. Akses terhadap informasi memberi kesan bahwa kita terhubung dengan realitas secara utuh. Padahal yang kita alami sering kali hanyalah potongan peristiwa yang terbingkai dalam narasi tertentu.

Jarak emosional tetap terjaga meskipun jarak geografis telah dipangkas oleh teknologi. Seseorang dapat mengetahui penderitaan orang lain tanpa benar benar membiarkan dirinya tersentuh secara mendalam.

Modernitas juga membentuk cara kita memaknai keberhasilan dan identitas. Produktivitas menjadi ukuran utama nilai diri. Kecepatan menjadi simbol kemajuan. Dalam ritme yang serba cepat, ruang untuk berhenti dan merenung semakin menyempit.

Kesunyian yang dibutuhkan untuk refleksi digantikan oleh notifikasi yang tak pernah berhenti. Dalam keadaan seperti itu, kesadaran mudah tergeser oleh distraksi.

Saya tidak menolak manfaat teknologi. Tanpa teknologi, koordinasi pelayanan kesehatan di banyak wilayah akan jauh lebih sulit. Tanpa media digital, suara dari daerah terpencil mungkin tidak pernah sampai ke pusat.

Namun manfaat tersebut tidak membatalkan risiko yang menyertainya. Ketika teknologi menjadi medium utama dalam memahami dunia, ada kecenderungan untuk memaknai realitas sebagai rangkaian konten yang dapat dikonsumsi, bukan sebagai panggilan etis yang menuntut tanggapan serius.

Ilusi terang membuat kita merasa telah cukup peduli hanya dengan mengetahui. Padahal mengetahui tidak identik dengan menyadari. Mengetahui adalah proses kognitif. Menyadari melibatkan dimensi moral dan eksistensial. Mengetahui bahwa ada ketimpangan tidak otomatis berarti bersedia mempertanyakan peran diri di dalamnya. Mengetahui bahwa sistem belum adil tidak selalu diikuti dengan keberanian untuk terusik.

Dalam konteks inilah malam memperoleh makna yang lebih luas. Malam bukan sekadar keterbatasan fasilitas di wilayah tertentu. Malam adalah redupnya kesadaran dalam masyarakat yang merasa telah cukup terang.

Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi belum tentu hidup dalam kedalaman pemahaman. Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu sungguh sungguh hadir bagi mereka.

Pengalaman saya di lapangan dan pengamatan terhadap dinamika kota memperlihatkan paradoks yang sama. Warga di wilayah terpencil terbiasa bertahan karena merasa tidak memiliki pilihan.

Warga di kota besar terbiasa dengan kenyamanan sehingga tidak merasa perlu mempertanyakan lebih jauh. Dua kondisi yang berbeda, tetapi keduanya berpotensi menghasilkan sikap yang serupa, yaitu penerimaan yang tidak lagi diguncang oleh pertanyaan moral.

Kesadaran sebagai Cahaya yang Rapuh

Setelah menelusuri pengalaman lapangan, kebiasaan menerima ketimpangan, cara kerja sistem, dan ilusi terang modernitas, saya sampai pada satu kesimpulan yang tidak spektakuler namun mendesak. Kesadaran adalah cahaya yang rapuh.

Kesadaran tidak hadir sekali untuk selamanya. Ia perlu dijaga, dirawat, dan diuji. Tanpa perawatan, ia mudah meredup oleh rutinitas. Tanpa ujian, ia mudah berubah menjadi keyakinan yang kaku. Kesadaran menuntut keberanian untuk terus merasa terganggu ketika melihat ketidakadilan. Ia menuntut kesediaan untuk mempertanyakan kenyamanan diri sendiri.

Malam yang saya khawatirkan bukanlah malam tanpa listrik atau tanpa pembangunan. Malam yang saya maksud adalah malam ketika manusia berhenti bertanya tentang makna. Ketika pembangunan dinilai cukup karena indikator terpenuhi. Ketika empati dianggap memadai karena telah diungkapkan. Ketika tanggung jawab dipersempit menjadi tugas administratif.

Pengalaman di pulau kecil itu tidak menawarkan jawaban yang mudah. Keterbatasan tetap ada. Sistem tetap memiliki kekurangan. Saya pun tetap bergulat dengan keterlibatan pribadi dalam struktur yang lebih besar.

Namun pengalaman itu mengajarkan bahwa menjaga kesadaran adalah langkah awal yang tidak dapat diabaikan. Tanpa kesadaran, kritik berubah menjadi kebisingan. Tanpa kesadaran, kebijakan berubah menjadi prosedur kosong.

Kesadaran sebagai cahaya tidak bersifat menyilaukan. Ia tidak serta merta menghapus seluruh kegelapan. Namun ia cukup untuk membuat kita waspada. Cukup untuk membuat kita tidak sepenuhnya berdamai dengan ketidakadilan. Cukup untuk membuat kita enggan mengatakan “sudah biasa begini” tanpa terlebih dahulu mempertanyakan mengapa keadaan itu terus dibiarkan.

Kewaspadaan etis bukan berarti hidup dalam kemarahan yang terus menerus. Kewaspadaan berarti menjaga kemampuan untuk merasa terguncang, sekaligus tetap berpikir jernih. Ia berarti tidak membiarkan diri tertidur oleh kenyamanan atau tertipu oleh ilusi terang. Ia berarti menyadari bahwa setiap pilihan, sekecil apa pun, ikut membentuk wajah dunia yang kita warisi dan kita wariskan.

Malam mungkin memang sedang datang. Tanda tandanya tampak dalam kebiasaan menerima, dalam sistem yang terlalu teknis, dalam empati yang dangkal. Namun malam tidak harus menjadi akhir jika kesadaran tetap dipelihara.

Cahaya itu rapuh, tetapi bukan mustahil untuk dijaga. Selama manusia masih bersedia bertanya tentang makna dan tanggung jawab, selama rasa terganggu belum sepenuhnya hilang, masih ada ruang untuk menunda kegelapan yang lebih dalam.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya tentang apa yang akan dilakukan negara atau masyarakat, melainkan tentang sikap batin yang kita pilih setiap hari.

Apakah kita memilih untuk terjaga, atau memilih untuk membiarkan malam tumbuh dalam kebiasaan yang tidak lagi kita sadari. Pilihan itu sunyi, sering kali tidak terlihat, tetapi menentukan arah zaman yang sedang kita jalani.