surat buat Haris Hudzaifah
KURUNGBUKA.com – Membaca adalah membaca. Memasuki sebuah dunia yang diciptakan oleh pengarang. Pengarang menciptakan dunia tersebut bukan hanya melalui rekaan, bukan cuma imajinasi, bukan soal pikiran-pikiran liar yang menghantui tidurnya—tapi melalui segala pengalaman fisik, batin, pergulatan pikiran (dari masyarakat, orang terdekat & karya seni yang ia lahap seumur hidupnya) & segala yang ia lakukan di dunia ini. Dunia fiksi yang kau baca, novel-novel yang kau beli di toko buku & terpajang rapi di kamarmu adalah dunia yang mengajarkanmu ‘humanisme’ tanpa menceramahimu. Kau belajar dari tokoh, latar, konflik & solusi yang tersebar sepanjang cerita, sepanjang cerpen atau novel.
Jika kau membaca cerpen; kau akan mengikuti konflik utama yang akan dihadapi oleh sang tokoh—ia, tokoh kita itu, akan berhadapan dengan sesuatu yang harus disikapi. Sebuah cerpen akan mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat gelagat atau keputusan yang akan diambil sang tokoh & kita akan melihat koda, melihat ending di sana.
Jika kau membaca novel; kau akan mengikuti sang tokoh dari lahir, lalu hidup (mendewasa, mengalami banyak konflik, bertemu dengan tokoh lain, merasai bahagia-sedih, jatuh cinta sekaligus memupuk dendam) & sampai mati. Sebuah novel akan mengajak kita berhenti cukup lama untuk melihat ada apa di ‘ujung’ cerita panjang ini. Apakah sang tokoh akan berubah nasibnya, apakah sang tokoh akan berbahagia atau terpanggang tinggal rangka*.
Humanisme akan dapat kau petik dari kehidupan tokoh-tokoh di dalam prosa—cerpen & novel—itu; kau akan tahu bagaimana cara mereka berbicara, mengartikulasikan ide, menghargai orang lain, menaati peraturan sosial, membuat karya seni, merasa bahagia sekaligus bersedih, memaafkan masa lalu, merajut masa depan & peka sekaligus sensitif terhadap sesuatu yang remeh … mereka, tokoh-tokoh itu, adalah kita. Dari situ, dari beratus halaman yang kau baca dengan perlahan, penuh penghayatan & sarat pengalaman; kau melihat kehidupan, kau melihat berbagai nilai-nilai yang timbul-tenggelam dalam sosial.
Esai-esai yang kau tulis adalah latihanmu untuk mengingat, menyerap & mengartikulasikan nilai-nilai itu. Menulis tak segampang berbicara. Anak-anak sebayamu—mereka semua bisa menulis, tapi belum tentu mereka bisa menulis dengan baik apalagi bagus. Masalah kepenulisan (maksud saya: penulisan kreatif; fiksi & puisi serta nonfiksi sekaligus penelitian) di sekolah adalah anak-anak tak mengamalkan kerja ‘membaca’ dengan serius & penuh penghayatan—& maaf (karena ini penting) saya ragu: apakah guru mereka di kelas juga membaca, juga menulis? Kalau tidak, itu sama saja, omong kosong belaka—literasi kita cuma perayaan.
Mereka semua, anak-anak itu, akhirnya terjebak pada laku “free writing” atau “automatic writing” tanpa bahan & pengalaman sedikit pun. Mereka mempunyai banyak pengalaman hidup & imajinasi, tapi tidak untuk referensi tekstual, bentuk, gaya bahasa, pilihan kata, merangkai kalimat, membentuk citraan, kesatuan dramatis, sudut pandang, menghidupkan karakter & lain sebagainya.
Saya tidak ingin kau terjebak seperti mereka & tanpa nada menggurui; agaknya kau mengerti apa yang saya maksud di sini, di surat ini.
Medan, 2026.
*) Image by Titan Sadewo











