“Dalam buku-buku itu aku menulis tentang masa kecilku yang tak dapat kuingat, tiba-tiba, apa yang tak kutulis adalah apa yang kukatakan. Rasanya, aku menulis tentang kecintaan kami terhadap ibu tetapi aku yakin bahwa aku menulis tentang kami yang membencinya, atau tentang cinta kami terhadap satu sama lain, dan kebencian kami yang buruk, dalam sejarah keluarga penuh kehancuran dan kematian. Namun, semua itu milik kami, apa pun yang terjadi, dalam cinta dan benci, dan yang masih tak kumengerti betapa pun kerasnya usahaku, yang masih di luar jangkauanku, tersembunyi di kedalaman dagingku… Apa yang terjadi di situ adalah kesunyian, kerja keras perlahan-lahan sepanjang hidupku.”
(Margurite Duras, The Lover, Jalasutra, 2004)
KURUNGBUKA.com – Pada saat remaja, ia ingin menulis. Keinginan yang disampaikan kepada ibunya. Namun, ibu memberi jawab yang meremehkan. Yang menyatakan ingin menulis berarti membuat omong kosong dalam kehidupan. Ia menyadari jawaban ibunya itu ungkapan keputusasaan dan sinisme yang membuat keluarganya makin disiksa sinar matahari yang terlalu panas di Asia. Menulis sempat dianggap pelanggaran sekaligus perlawanan. Yang memicu adalah ibu. Yang lumrah tapi runtuh adalah keluarga.
Pembaca mengikuti perkembangan tokoh yang akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan. Ia berada di tempat yang bisa disiasati tapi nasib tidak bisa dibiarkan dibawa sepanjang hari tanpa tuturan atau tulisan. Maka, yang menjadikannya tulisan adalah keberanian dari tekanan dan rasa bersalah yang selalu membadai setiap hari.
Usia yang bertambah. Diri yang menguasai kata-kata. Apakah semua kata yang dimiliki dan dipelihara mampu mengesahkan hidup? Namun, ia justru menginginkan kata-kata itu menghampiri banyak orang agar nasib tidak tercampak oleh waktu. Pada kata-kata, ia ingin membawa yang silam. Panggilan atas kenangan dijadikan tumpuan mengolah masa depan yang selalu terbayang di comberan.
Tulisan itu pertentangan ingatan dan lupa. Kata-kata yang berhasil dituliskan tidak menampung semuanya, yang telah berlalu. Tulisan sekadar usaha menaruh ingatan yang kacau, kumal, dan berserakan. Namun, yang tidak mampu menjadi tulisan adalah ingatan-ingatan yang memenangkan penghinaan atas hidup. Kemauan melupakan malah menempatkan ingatan sebagai serigala di bawah bulan yang menyerukan kematian dan penderitaan sampai matahari sungkan untuk terbit.
Yang ditulisnya adalah diri yang mengisahkan ibu dan keluarga. Ia membuat kekisruhan dalam meyakini benci atau cinta terhadap ibu. Padahal, hari-hari yang dimilikinya saat masih kecil dan remaja adalah percampuran ketakutan dan rasa kasihan terhadap ibunya. Di hadapannya, ibu adalah manusia yang pantang menghitamkan putus asa. Hari demi hari, ibu menciptakan remah-remah bahagia setelah ledakan-ledakan pengutukkan atas hidup. Kutukan yang ditaburkan di tanah koloni. Murka yang sesat di Asia saat dirinya masih melihat Eropa yang sombong dengan tawa dan makian.
Yang telanjur ditulis adalah keluarga. Ia berada dalam keluarga yang merawat ironi-ironi. Keinginan sangat membenci dijegal percik kasih yang kadang menyusup dalam cuaca yang gerah dan lelah yang memalukan. Tulisan itu keluarga. Ia membuat keributan dalam menulis, yang bisa dinyatakan dengan kata atau hal-hal yang menolak ditampung dalam kata-kata tertulis.
Pada puncak kerancuan, ia mengalami sunyi. Konon, yang paling menyiksa adalah kesunyian yang menagih dijadikan bunyi. Kata-kata yang membunyikan semua tapi jatuh dalam kemustahilan. Ia dalam sunyi yang menanti iblis-iblis untuk menimbulkan kekacauan ketimbang sekarat yang menjijikkan. Yang menulis, yang tidak membuat tebakan dalam hidup yang masih terucap dan terkandung dalam kata-kata atau hilang saat malam sangat kelam.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











