KURUNGBUKA.com – Anak memiliki hak dalam penggunaan bahasa. Yang dilahirkan di negara berbahasa Inggris, mengondisikan anak berbahasa Inggris setiap hari. Anak berpikir dalam bahasa Inggris. Namun, ia bisa mewujudkan keinginan mengetahui beragam bahasa saat belajar di sekolah. Anak menggunakan hak agar menguasai bahasa-bahasa asing secara aktif atau pasif.
Anak yang cukup berbahasa Inggris tidak berdosa. Artinya, ia dapat belajar banyak hal dengan bahasa Inggris. Di dunia, ilmu-ilmu mudah dipelajari melalui bahasa Inggris. Anak yang bertumbuh dalam bahasa Inggris dianggap beruntung. Yang sulit terbantah, bahasa Inggris diajarkan di ratusan negara, yang berakibat keunggulan orang yang fasih berbahasa Inggris.
Di novel gubahan Judy Blume berjudul Blubber (1995), kita berjumpa tokoh anak yang bertahan bicara dan berpikir dalam bahasa Inggris meski punya kesempatan menguasai beberapa bahasa asing. Yang terjadi di rumah adalah pengajaran dan sedikit bantahan: “Bu Sandmeier memonyongkan mulut. Salah satu tugasnya adalah mengajar aku dan Kenny berbahasa Inggris.” Di rumah, ia adalah pengurus tapi rumah tanggap tapi istimewa.
Perempuan tua yang menguasai tiga bahasa. Si anak mengakui keistimewaannya tapi belum ada keseriusan belajar bahasa Prancis. Anak itu malah membuat taktik yang cukup lucu: “Aku mengerti apa yang dikatakannya kalau ia berbahasa Prancis, tapi aku selalu menjawab dalam bahasa Inggris. Sebab, biasanya aku terlalu sibuk untuk memikirkan kata-kata Prancis yang tepat.”
Ia tidak mau direpotkan dalam memikirkan dan memilih kata. Yang terpenting mampu memberi jawaban yang dipahami bersama. Padahal, ada keyakinan bahwa anak mudah belajar bahasa-bahasa (asing) di masa pertumbuhannya.
*) Image by Urvil Official Book
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











