Kekasih dari Seberang
Makin hari kau makin luput
Setelah kau dipinang waktu
Menjauh, pudar dari debar dada
Kini, kau kucari
Dalam duka yang lain
Dalam muslihat yang kubuat
Tapi tak kutemukan
Meski acap kau bilang
Kau menetap di kenangan
Berumah tepas dan lindung
Saban malam
Kusisihkan waktu menderas ingatan
Menulusur gang penuh hujan
Manatahu kau tenggelam di sana
***
Bahasa Cinta
Kepada Pantun
Bagaimana kau bisa mencintaiku
Kalau tubuhku hanya gumpalan kata
Yang berangsur gugur dalam umur
Darahku arkais cuma
Merah ia selagi zamannya
Busuk ia dimakan usia
Bila esok aku timbul kembali
Dalam tatanan bahasa yang kau kenali
Pungut aku, simpan dalam peti
Bekas kau pernah menyimpan segala yang mati
***
Rentak Senandung
setelah bertabuh gemuruh awan
di ambang tirai ingatan
warna pudar-pendar kenangan
dan bayang luka yang diperban
aku sibuk menangkal hujan
yang sepi nyanyikan
gemuruh menjelma di dada
mengundang mendung di pelupuk mata
irama melambat
kuala deli menyingkap ingat
berdentam hati sepi menikam
berdentum pipi hujan menyiram
lalu waktu beri isyarat
talu rindu harus diseka
biar meluap duka nestapa
air mata tak boleh jadi kuala
***
Melayu
bahwa kau tunas kalimat
yang tumbuh dengan amanat
petuah bijak, mungkin
bahwa kau selembar getir cuma
beri pedar di tubir rasa
daun sirih, barangkali
bahwa kau puan kirana
menitikkan air mata manis resamnya
seteguk nira, bisa jadi
bahwa kau segala kenangan cuma
tata bahasa yang disempurnakan kanda-adinda
lapuk ingatan, agaknya
bahwa kau kekasihku
yang berinai emas dari tangan jejaka lain
jenaka yang ditinggalkan anak-anak
pasti
*) Image by istockphoto.com
















