KURUNGBUKA.com – Film Pengepungan di Bukit Duri dibuka dengan adegan chaos antar warga yang berhasil membuat ngeri—kerusuhannya terasa nyata dan menekan. Sesuai dengan judulnya, film ini langsung menghantam dengan atmosfer pengepungan yang mencekam. Saya sempat berharap tensi seperti itu akan terus terjaga sepanjang film, tapi ternyata arah ceritanya justru menyempit ke dalam satu lokasi: sebuah sekolah bernama SMA Duri Jakarta—sekolah yang menampung siswa buangan yang nakal.

Film ini mengambil latar Indonesia tahun 2027, di mana diskriminasi rasial dan kekerasan sudah sampai titik nadir. Edwin (Morgan Oey), seorang guru pengganti, ditugaskan mengajar di sekolah bermasalah itu, tapi misi utamanya adalah mencari keponakannya yang hilang—permintaan terakhir sang kakak sebelum meninggal dunia. Di tengah lingkungan sekolah yang keras dan penuh kekacauan, Edwin malah terjebak saat kota dilanda kerusuhan dan sekolah mereka terkepung. Bersama Diana (Hana Malasan), guru lain yang idealis, dan beberapa siswa seperti Rangga (Fatih Unru) dan Kristo (Endy Arfian), Edwin berusaha bertahan hidup sambil mencari kebenaran dan jalan keluar.

Sayangnya, menjelang pertengahan sampai akhir film, konflik lebih banyak berkutat di dalam lingkungan sekolah saja. Ruang lingkup cerita yang terlalu terbatas membuat judulnya terasa sedikit ambisius. Kalau saja Joko Anwar tidak terlalu menggembar-gemborkan latar belakang kerusuhan Mei 1998—yang di film ini sebenarnya hanya menjadi latar simbolik—Pengepungan di Bukit Duri bisa berdiri cukup kuat sebagai film aksi bertempo cepat seperti karya-karya Timo Tjahjanto.

Ada banyak simbol yang coba disisipkan di sepanjang film—tentang kekerasan, trauma sosial, dan luka sejarah yang belum selesai. Beberapa berhasil, beberapa terasa terlalu dibuat-buat. Saya cukup menikmati adegan-adegan sadis yang memang berhasil membuat ngeri, walau tak semua terasa esensial. Yang cukup mengganggu buat saya adalah penggunaan kata-kata makian yang terlampau berlebihan. Rasanya agak dipaksakan, seperti ingin keras tapi malah terasa artifisial. Saya kenal beberapa orang yang “nakal” di dunia nyata, dan mereka tidak se-artifisial itu.

Yang mengejutkan, Morgan Oey tampil sangat baik sebagai Edwin. Karakter ini berbeda jauh dari peran-peran dia sebelumnya—lebih dingin, lebih tegas, dan tetap manusiawi. Fatih Unru juga memberi warna dengan karakternya yang kompleks. Justru yang agak mengecewakan buat saya adalah Jefri (Omara), yang tampaknya memikul beban karakter yang berat tapi tidak selalu berhasil menyampaikannya secara konsisten. Kadang saya merasakan kengeriannya, tapi di momen lain ia terasa lepas dari perannya.

Meski begitu, saya tetap kagum pada bagaimana Joko Anwar menyelipkan berbagai petunjuk kecil di sepanjang film yang kemudian diungkap dengan mulus di titik-titik penting. Alurnya tidak terasa tiba-tiba, dan itu membuat saya tetap terpikat sampai akhir. Bukan film terbaik Joko Anwar, tapi jelas ini adalah film yang punya suara dan keberanian. Layak ditonton, meski tidak semua orang mungkin nyaman dengan temanya—terutama bagi mereka yang pernah bersinggungan langsung dengan kekerasan rasial atau trauma masa lalu.

Skor: 7/10.

*) Image by imdb.com