KURUNGBUKA.com – Titik sejarah penting di Indonesia itu 1998. Tahun yang memiliki peristiwa-peristiwa besar. Yang terpenting adalah jatuhnya rezim Orde Baru. Soeharto tidak lanjut menjadi Presiden RI. Tahun itu memberi kesedihan. Tahun yang ikut menentukan masa depan Indonesia ingin cerah meski terseok-seok. Bagaimana mengenang 1998 agar tidak selalu politik?
Kita bisa melihat tahun 1997. Konon, tahun itu mulai goyah dengan adanya krisis moneter. Krisis yang cepat mengubah nasib Indonesia. Kita memang harus menengok 1997 untuk pemastian makna-makna sejarah 1998. Indonesia sedang dalam murung, yang mendapat dampak-dampak besar dari situasi global. Indonesia diramalkan bisa ambruk.
Namun, sejarah yang diingat jutaan orang sering 1998, bukan 1997. Apakah sastra dilanda krisis sebelum kejatuhan rezim Orde Baru? Beberapa pengamat menyatakan sastra Indonesia pun dilanda krisis dalam tahun-tahun yang genting: 1997, 1998, 1999. Ulasan mereka tampak menempatkan sastra dalam konsekuensi-konsekuensi kekuasaan. Para pengamat dan kritikus sastra malah mengusulkan adanya gerakan sastra bertahun 1998 atau dinamakan angkatan 1998. Sastra mungkin dalam suasana “mumpung” atau “terangkut” oleh beragam krisis.
1997 itu cerita pendek. Kita mengakuinya setelah membaca pengumuman dalam majalah Femina 31 Juli 1997. Majalah kondang dan laris itu mengajak orang-orang menulis cerita pendek, bukan menulis petisi atau selebaran melawan rezim Orde Baru. Menulis cerita pendek untuk kegembiraan bersama, bukan terpuruk oleh krisis-krisis.
Yang diumumkan: “Sayembara Mengarang Cerpen Femina ‘97”. Kebahagiaan terbaca dalam keterangan: “Dengan hadiah lebih besar!” Artinya, duit sebagai hadiah bertambah dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Orang-orang yang mau ikut sayembara boleh memuaskan khayalan akan menang dan mendapat duit yang banyak. Duit dalam krisis terlalu penting.
Uang yang diberikan Femina: pemenang I (Rp 1.000.000,00), pemenang II (Rp 750.000,00), pemenang III (Rp 500.000,00). Bayangkan jumlah uang itu bisa digunakan untuk membeli beras, rokok, baju, buku, es krim, bakso, sepatu, dan lain-lain. Angka itu harus diperhatikan sebelum rupiah jatuh.
Bujukan dari Femina: “Halo, para penulis cerpen, baik yang sudah berpengalaman maupun pemula!” Jadi, yang ikut sayembara tidak hanya yang sudah keranjingan menulis cerita pendek atau terkenal di jagat sastra Indonesia. Para pemula bisa ikut meski coba-coba saja. Apakah mungkin cerpen buatan pemula mengalahan buatan pengarang terkenal? Kita menjawab: bisa.
Syarat-syarat diperhatikan: “Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau mengambil ide dari karya orang lain.” Di Indonesia, syarat dalam sayembara ini sering “kecolongan”. Beberapa yang menang ketahuan menjiplak setelah hari pengumuman pemenang. Akhirnya, bikin malu panitia dan dewan juri. Pada masa lalu, usaha menemukan dan membuktikan cerita itu jiplakan atau saduran memang agak menyusahkan.
Yang penting lagi: “Tema bebas, tidaka menjurus ke pornografi, tidak bertentangan dengan Pancasila dan sesuai untuk dimuat di majalah Femina.” Ingat, sayembara itu diadakan saat Soeharto masih berkuasa. Pada masa berkuasa, Soeharto dan para pejabat sering mengunggulkan Pancasila dalam pelbagai kepentingan. Urusan penulisan sastra saja harus sesuai Pancasila. Dulu, rezim pongah itu biasa memasalahkan sastra dengan tuduhan macam-macam. Kebijakan yang berlebihan, menghendaki Pancasila sangat dibutuhkan dalam pelbagai hal.
Kita membaca syarat yang lain: “Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting isi.” Yang sering menjadi debat adalah judul. Beberapa pengarang ingin judul yang dibuatnya tetap. Mereka sudah memikirkan dengan serius dan menggunakan seribu pertimbangan. Pada akhirnya, pergantian judul membuat mereka “ikut” dan “setuju” berkaitan pemerolehan hadiah (uang) dan pemuatan di majalah yang dibaca ribuan orang.
Para peserta membaca syarat yang khusus: “Diketik dengan komputer di atas kertas HVS folio/kuarto dengan jarak dua spasi.” Padahal, ada pengarang-pengarang yang masih bersastra dengan mesin tik. Ingat, yang diinginkan redaksi atau panitia adalah lembaran berisi cerita yang ditik di komputer. Penampilannya dianggap rapi ketimbang hasil dari mesin tik.
Yang seru adalah naskah dimasukkan amplop dan dikirimkan ke alamat panitia. Kita mengenang masa bersastra yang memerlukan kertas, amplop, perangko, dan lain-lain. Masa itu diakui memberi lelah dan gairah, yang menjadikan sastra di Indonesia terus bertumbuh meski dihajar krisis-krisis. Yang istimewa adalah permintaan agar para pemenang menyerahkan disket. Kini, benda itu sekadar nostalgia. Kaum muda abad XXI tidak mengenal disket yang pernah menentukan nasib para pengarang.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







