KURUNGBUKA.com – Jika ada pertanyaan, penerbit-penerbit yang memajukan kesusastraan di Indonesia? Kita boleh menjawab Balai Pustaka. Jawaban yang tidak sepenuhnya benar. Penerbit itu memang telah bergerak pada masa kolonial. Siapa mengetahui dan mengingat nama penerbit-penerbit diadakan kalangan peranakan Tionghoa dalam mengadakan buku dan majalah sejak awal abad XX? Kita juga belum memiliki data atas peran penerbit-penerbit di naungan perkumpulan, partai politik, atau partikelir juga mengusahakan kemunculan buku-buku sastra pada masa kolonial.
Nama penting yang harus diingat: Sutan Takdir Alisjahbana. Dulu, ia adalah pemikir dan pemggerak sastra. Pada akhirnya, ia berani mendirikan penerbit bernama Pustaka Rakyat. Beraga, buku diterbitkan, yang berpengaruh dalam perkembangan sastra di Indonesia. Pada masa yang berbeda, kita mengenalinya sebagai Dian Rakyat.
Pada masa lalu, ada juga penerbit yang bernama Pembangunan. Nama yang wagu tapi memberi janji besar dalam kemajuan sastra. Yang diterbitkan adalah sastra edisi terjemahan bahasa Indonesia dan buku-buku buatan para pengarang Indonesia. Beberapa pengarang biasa mengenang biografinya memuat peran Pembangunan. Ingat, nama itu tidak ada kaitan dengan seruan pembangunan nasional yang dibuat rezim Soeharto.
Apa masih ada penerbit-penerbit penting yang terbukti bertanggung jawab dalam kesusastraan Indonesia. Kita bisa menjawab: Gunung Agung. Penerbit yang didirikan oleh Haji Masagung, setelah ia berhasil dalam mengadakan toko atau perdagangan buku. Yang teringat banyak orang adalah buku-buku biografi tokoh terkenal biasa diterbitkan Gunung Agung. Yang tidak boleh dilupakan, banyak buku sastra yang bercap Gunung Agung.
Di majalah Sastra, Nomor 11/12, Tahun II, 1963, kita melihat iklan buku dari Gunung Agung. Yang diiklankan bukan novel atau puisi tapi buku kelas berat. Tiga buku yang ditawarkan: Roman Atheis Achdiat K Mihardja (Boen S Oemarjati), Sitor Situmorang Sebagai Penjair dan Pengarang Tjerita Pendek (JU Nasution), dan Djalan Tak Ada Udjung Mochtar Lubis (MS Hutagalung). Umat sastra di Indonesia (sangat) mengenali Achdiat K Mihardja, Sitor Situmorang, dan Mochtar Lubis. Namun, tiga penulis yang membahas buku-buku mereka mungkin tidak dikenali, asing bagi penikmat sastra abad XXI.
Buku-buku itu anggap saja kajian ilmiah selera universitas. Dulu, ada kepentingan memajukan kritik sastra “akademik”, yang bermaksud meninggikan mutu kesusastraan. Jumlah para mahasiswa yang kuliah sastra dan berhasil menjadi sarjana masih sedikit. Beberapa yang membuat skripsi membuktikan bahwa teks-teks sastra Indonesia dan sosok pengarang dapat dibahas secara “modern” menggunakan kaidah-kaidah yang biasanya merujuk Barat.
Gunung Agung berani menerbitkan buku-buku tipis yang belum tentu ada peminatnya. Para pembaca masih terpesona oleh HB Jassin dan A Teeuw. Kemunculan nama-nama baru agak sulit mendapat kepercayaan. Padahal, tiga penulis itu terus melakukan penelitian sastra dalam waktu yang lama setelah buku-bukunya terbit di Gunung Agung. Kita mengingat banyak pengamat dan kritikus sastra berada di Universitas Indonesia.
Penerbit itu menjuduli iklan: “Buku-buku seri esei dan kritik sastra”. Jadi, penerbit tidak hanya menerbitkan novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi. Penerbit yang mau lengkap. Artinya, para pembaca dan pelanggan buku-buku terbitan Gunung Agung diharapkan puas. Ingat, sastra bertumbuh atau bergerak oleh Gunung Agung.
Kita mengutip isi iklan untuk buku buatan JU Nasution: “Dalam sedjarah kesusasteraan Indonesia modern, nama Sitor Situmorang mempunjai arti tersendiri. Ia banjak melahirkan karja-karja berbentuk sadjak, tjerita pendek, drama maupun esei. Dan pada umumnja telah diakui bahwa karja-karjanja hidup dihati setiap manusia karena ia mempersoalkan manusia dan kehidupan, baik ia di Timur maupun di Barat.” Iklan yang cukup menggoda pembaca memasuki teks-teks sastra yang digubah Sitor Situmorang. Pada masa 1960-an, pengarang itu masih muda dan galak-galaknya dalam kaitan politik-sastra.
Kini, tiga buku lama itu bisa dijadikan contoh bandingan saat kita membaca beberapa skripsi, tesis, atau disertasi sastra. Dulu, ada usaha yang serius dari Gunung Agung untuk mengantarkan buku-buku yang “diakui” ilmiah agar terbaca oleh umat sastra meskipun kajian-kajian tetap kalah dari para sarjana asing. Pada abad XXI, banyak orang yang memilih percaya dan kagum dengan kritik sastra Indonesia yang dibuat intelektual asal Prancis, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan lain-lain.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<













