KURUNGBUKA.com – Kisah Panji Tengkorak berpusat pada Panji (Denny Sumargo), seorang pendekar yang rela menjual jiwanya kepada kekuatan ilmu hitam demi membalas dendam atas kematian istrinya, Murni (Aghniny Haque). Niatnya untuk mengakhiri hidup justru berujung pada sesuatu yang lebih kelam: tubuh dan jiwanya terperangkap dalam kendali kekuatan gelap yang membuatnya tak lagi bebas menentukan jalan hidup. Dari situlah ia kemudian mengembara tanpa tujuan, sebuah perjalanan yang penuh luka dan penyesalan.
Di tengah pengembaraan itu, Panji bertemu dengan seorang pendekar tua yang memintanya mengejar sekelompok bandit pencuri pusaka sakti. Pusaka ini diyakini punya kekuatan untuk melepaskannya dari belenggu ilmu hitam. Permintaan sederhana itu ternyata menyeret Panji ke dalam konflik besar antara dua kerajaan, sekaligus membuka tabir kelam masa lalunya yang selama ini ia tutup rapat. Sepanjang perjalanan ia menutupi wajah dengan sebuah topeng menyeramkan berbentuk separuh tengkorak manusia, hingga masyarakat mengenalnya dengan sebutan Panji Tengkorak atau Pengemis Iblis dari Kidul, merujuk pada asal-usulnya di wilayah pesisir selatan.
Film ini diangkat dari komik pendekar legendaris yang pertama kali terbit tahun 1968 berjudul Panji Tengkorak karya Hans Jaladara dan disutradarai oleh Daryl Wilson. Karya animasi di film ini punya ciri khas dan sentuhan tersendiri. Visualnya terasa berani dalam menggambarkan cerita yang brutal, penuh aksi, dan tidak ragu menampilkan adegan gore. Dari awal sudah jelas bahwa cerita ini tidak ditujukan untuk anak-anak, meski wujud animasi seringkali menipu ekspektasi penonton.
Saya pribadi cukup menikmati bagaimana dunia kerajaan yang kelam ini divisualisasikan, walaupun ada beberapa hal yang terasa kurang mulus. Pendekatan gaya bertuturnya menurut saya masih agak sulit diterima. Beberapa voice actor terdengar tidak pas, suaranya seakan tidak benar-benar menyatu dengan karakter. Dialog antar tokoh juga cenderung kaku—mungkin karena ingin menyesuaikan dengan latar masa kerajaan—padahal bisa saja disesuaikan dengan gaya bahasa masa kini agar lebih natural, tanpa harus kehilangan sentuhan klasiknya.
Ada satu hal yang paling mengganggu buat saya, yaitu penggunaan soundtrack Bunga Terakhir yang dinyanyikan Iwan Fals featuring Isyana Sarasvati. Lagu ini pada dasarnya bagus, bahkan punya daya pukau tersendiri, tapi penempatannya dalam film terasa kurang tepat. Alih-alih memperkuat emosi, justru seakan dipaksakan masuk ke dalam adegan-adegan tertentu sehingga menimbulkan kesan janggal. Sayang sekali, karena musik seharusnya bisa jadi salah satu kekuatan utama untuk mengikat perasaan penonton dengan cerita. Selain itu, babak satu dan duanya terasa lambat dan tampak sulit diikuti, namun masuk babak tiga adegan aksinya berhasil mencuri perhatian dan membuat klimaks pertarungan yang luar biasa, bahkan hal-hal detail terlihat tampak digarap lebih serius dan teliti.
Meski ada beberapa catatan kritis, saya tetap mengapresiasi hadirnya film ini. Rasanya menyenangkan melihat animasi Indonesia mulai bermunculan dengan cerita-cerita yang beragam, visual yang semakin berani, dan upaya untuk menembus batas tontonan aman yang biasanya hanya ditujukan untuk anak-anak. Panji Tengkorak jelas menunjukkan bahwa animasi juga bisa menjadi medium bercerita tentang dunia dewasa, tentang dendam, kegelapan, dan pilihan hidup yang tidak hitam putih. Buat saya film ini layak ditonton, terutama jika ingin melihat bagaimana kisah klasik bisa dihidupkan kembali dengan sentuhan visual modern. Hanya saja, jika menonton bersama anak-anak, sebaiknya tetap mendampingi karena banyak adegan yang cukup sadis dan tidak ramah untuk mereka.
Pada akhirnya, Panji Tengkorak menghadirkan sebuah pengalaman yang meski belum sempurna, tetap menarik dan memberi harapan pada masa depan animasi lokal. Film yang punya potensi bagus andai digarap lebih sabar lagi. Ada semangat untuk bercerita, ada keberanian dalam visual, dan ada ruang besar untuk berkembang di proyek-proyek berikutnya.
Skor: 7/10
*) Image by IMDb.com







