KURUNGBUKA.com – Tulisan menunggu berumur tua untuk (tambah) bermakna. Tulisan yang pernah mulia sebab dimuat dalam jurnal Prisma. Dulu, orang-orang biasanya membaca artikel politik, ekonomi, antropologi, sosiologi, sejarah, dan pendidikan dalam Prisma. Namun, ada edisi yang (sempat) memberi kehormatan kepada yang berpikir sastra. Jadi, tulisan yang dimuat pada masa lalu telah menua untuk terbaca masa sekarang.

Yang kita baca adalah artikel berjudul “Kenyataan, Dugaan, dan Harapan: Tentang Perkembangan Sastra Kita Akhir-Akhir Ini” buatan Sapardi Djoko Damono. Judul yang tidak keren. Pembaca menebak itu makalah yang disajikan dalam seminar dihadiri para dosen, mahasiswa, dan pengarang. Maka, judul yang “kalem” itu harap dimaklumi. Penulisnya memang pengarang sekaligus dosen, yang sering berperan sebagai juri sayembara sastra. Kebiasaannya menulis puisi tapi keranjingan membuat esai dan resensi.

Di jurnal Prisma edisi April 1979, artikelnya panjang dan mendapat bobot “ilmiah”. Prisma itu bacaan kaum intelektual yang doyan berat-berat dan berpatokan ilmiah. Sapardi Djoko Damono tentu manusia-ilmiah selain sibuk dalam sastra.

Kini, artikel lawas sangat berarti bagi kita yang mengenang “silam” dan mau memikirkan situasi sastra Indonesia abad XXI. Sapardi Djoko Damono mungkin tidak meramalkan tulisannya menjadi referensi nostalgia dan berfaedah dalam penulisan sejarah sastra di Indonesia. Yang teringat berlatar Orde Baru.

Pernyataan-pernyataan Sapardi Djoko Damono bakal membuat dosen (muda) dan mahasiswa di jurusan sastra masa sekarang celingukan. Mereka kesusahan membuktikan atau mendekati “maksud-maksud” penulis.

Yang ditulis mengenai sastra masa 1970-an. Sapardi Djoko Damono menyatakan: “Beberapa penerbit swasta yang biasanya hanya tertarik mencetak buku-buku non-fiksi, terutama buku-buku pelajaran, mulai tidak mengharamkan novel.” Orang-orang yang bertumbuh setelah Perang Dunia II sampai masa 1970-an mengetahui penerbit-penerbit (penting) selain Balai Pustaka. Sastra memang ikut maju saat penerbit-penerbit tidak selalu tergoda meraih untung besar melalui buku-buku pelajaran. Konon, yang berani menerbitkan buku-buku sastra diharuskan ikhlas bila merugi.

Kita mencomot pernyataan yang menyulitkan para dosen (muda) dan mahasiswa sedang belajar sastra untuk membuktikannya setelah puluhan tahun berlalu. Sapardi Djoko Damono merekam zaman: “Hampir semua majalah hiburan dan keluarga memuat cerpen dan novel secara bersambung. Beberapa di antaranya bahkan menyisipkan lampiran yang berupa kumpulan cerita pendek atau novel pendek di samping menerbitkan album cerpen yang diedarkan tersendiri.” Yang gampang teringat adalah majalah Femina dan Kartini. Sapardi Djoko Damono mungkin sengaja tidak menulis gamblang bahwa dua majalah itu sering mengadakan sayembara penulisan cerita, yang memunculkan nama-nama terkenal.

“Sejumlah besar koran yang terbit di negeri ini memuat cerpen dan cerita bersambung secara teratur,” tulis Sapardi Djoko Damono. Bagi para pembaca koran dan buku ( cetak), kalimat itu mengandung kebenaran dengan mengingat Kompas. Novel-novel terbitan Gramedia sebelumnya adalah cerita bersambung dalam Kompas. Cerita-cerita ditulis oleh Marga T dan Ashadi Siregar.

Yang tidak bermasa lalu 1970-an akan kesulitan mengetahui majalah dan koran. Dulu, bacaan itu tercetak yang memberi gairah kesusastraan di Indonesia. Kini, majalah-majalah lama sulit ditemukan oleh orang-orang yang sedang belajar sastra. Femina dan Kartini milik masa lalu, tidak lagi terwariskan sebagai bacaan bermakna di rumah-rumah. Kompas masih terbit tapi para penghuni universitas sudah abai koran cetak. Mereka memihak segala yang tersaji dalam gawai.

Sekarang, orang-orang mengetahui penerbit-penerbit yang ikut (agak) serius mengembangkan sastra: Kepustakaan Populer Gramedia, Grasindo, Bentang, Marjin Kiri, JBS, Basabasi, dan lain-lain. Peran mereka terlihat mentereng jika ada pemilihan tokoh seni oleh majalah Tempo dan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa. Setiap pengumuman daftar panjang atau pendek buku-buku yang terpilih atau terbaik, penerbit-penerbit mengumumkan sekian buku adalah persembahannya. Pengumuman yang meriah diedarkan di media sosial, yang biasanya mendapat banyak komentar. Penerbt-penerbit itu berpengaruh dan meninggalkan ketenaran Balai Pustaka dan Pustaka Jaya pada masa lalu.

Yang agak menggelikan adalah ketiadaan pengalaman orang-orang yang bernafas di abad XXI untuk menikmati pemuatan cerita bersambung di majalah dan koran. Babak menggairahkan sastra yang pernah dibentuk Femina, Kartini, dan Kompas sangat sulit berulang atau dilanjutkan. Para pembaca masih menemukan cerita bersambung saat menghidupkan ponsel. Bentuk dan pengalaman-baca yang berbeda, yang dulunya Sapardi Djoko Damono tidak meramalkannya saat memberikan tulisan di Prisma.

Akhirnya, membaca (lagi) artikel lama dalam jurnal yang berat membuat kita yang menua sadar makna perbandingan: dulu dan kini. Para pembaca yang mau mengikuti kalimat-kalimat ditulis Sapardi Djoko Damono mungkin senewen dan membutuhkan petunjuk-petunjuk agar mengerti sastra masa 1970-an yang ikut digerakkan penerbit (buku), majalah, dan koran. Masa lalu yang membuat capaian besar tapi belum pasti dipelajari dan dikenang saat situasi sastra terlalu berubah dalam abad yang bergawai dan segala yang digital.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<