KURUNGBUKA.com – Di perkembangan sastra Indonesia, para pendiri dan redaktur majalah memiliki peran yang besar. Pada masa lalu, yang biasa teringat adalah Poedjangga Baroe. Pada masa yang berbeda, orang-orang mengetahui pertumbuhan sastra dalam Mimbar Indonesia, Budaya, Siasat, Zenith, Indonesia, Kisah, Sastra, dan lain-lain. Yang teringat juga adalah majalah Basis. Beberapa majalah itu bercap umum, kebudayaan, atau seni. Beberapa halaman disediakan untuk sastra, yang memberi dampak besar.
Pada saat kita mengenang beragam majalah, nama-nama redaktur menimbulkan penasaran tentang selera dan kebijakan. Dulu, redaktur biasa merangkap menjadi pengarang, kritikus sastra, atau pengamat sastra. Kita mencatat nama-nama penting: Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin, Mochtar Lubis, dan lain-lain.
Maka, ada masa yang indah saat teks-teks sastra bermunculan dan beredar dalam ratusan majalah, yang terbit di pelbagai kota. Ada majalah-majalah yang terakui bertaraf nasional. Padahal, sastra yang seru justru terdapat dalam majalah-majalah kecil yang biasa disebut lokal atau daerah. Yang terpenting, sastra sangat subur dalam majalah-majalah, sebelum diterbitkan menjadi buku. Namun, kita tidak pernah memiliki perpustakaan atau koleksi besar bila mau membahas sastra dan majalah. Konon, Sejak awal abad XX, sastra terbukti menggairahkan di majalah-majalah, terutama yang digerakkan kalangan peranakan Tionghoa.
Pada masa 1950-an, terbit majalah di Jogjakarta yang ada kaitannya dengan Katolik. Majalah kebudayaan itu dinamakan Basis. Pada babak awal, pembaca mengingat peran Drijarkara. Selanjutnya, majalah itu terus berkembang. Nama yang patut dipuji: Dick Hartoko. Sosok yang memiliki komitmen besar dalam memajukan sastra meski Basis bukan majalah sastra.
Di majalah Femina, 23 Desember 1986, kita membaca lakon kehidupan Dick Hartoko, yang mengaku “hidup sendiri untuk banyak orang.” Ia dilahirkan 9 Mei 1922 dengan cerita keluarga yang mengharukan. Di Jogjakarta, ia mengabdikan diri dalam misi agama dan menggerakkan majalah Basis.
Ia berperan sebagai pemimpin redaksi. Selama puluhan tahun, ia pun terkenal sebagai penerjemah dan penulis esai. Pada saat menjadi pengajar di beberapa kampus, ia menyusun buku-buku yang lumayan laris untuk dipelajari para mahasiswa dan umum.
Yang tertulis di majalah: “Kata orang, ada Basis, ada Dick. Ya, nama Dick memang tidak bisa dilepaskan dari kelangsungan hidup Basis. Romo Dick tak pernah hendak menjarah dan menggerogoti kehidupan Basis, tapi sebaliknya, justru ia yang senantiasa menghidupi majalah ‘kaum intelektual’ tersebut.” Bagaimana kalimat itu dibuat? Kita dibikin sewot dengan penulisan “menjarah” dan “menggerogoti”. Yang menulis artikel mungkin sedang mengantuk atau perutnya sakit sehingga gagal membuat kalimat yang baik.
Untungnya, kita mendapat penjelasan tulus dari Dick Hartoko: “Terus terang, honor ataupun royalti saya sebagai penulis yang berjumlah sekitar satu sampai dua juta rupiah setahunnya, selalu saya pakai untuk membiayai Basis tercinta.” Bayangkan, kerja yang berharap bertumbuhnya sastra dengan segala pengorbanan.
Basis berhasil menjadi majalah yang berumur panjang. Pada 2025, Basis tetap terbit meski bukan bulanan. Sejak dulu, Dick Hartoko kadang menyebut usaha menggerakkan Basis itu sebagai “kerjabakti”. Selama menunaikan beberapa peran, ada warisan yang selalu terbaca sampai sekarang: “Tanda-Tanda Zaman”. Di Basis, tulisan pendek yang dibuat Dick Hartoko itu dokumentatif dan mengesnakan. Jenis tulisan yang boleh ditiru tapi tidak mudah. Ia tidak memerlukan tulisan yang panjang agar pembaca tersengat.
Di kerja penerjemahan, Dick Hartoko termasuk yang terpuji. Bagi yang menekuni sastra Jawa, hasil terjemahannya untuk Kalangawan terbukti apik. Kita membaca dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia yang memukau. Jika tidak terima boleh saja membaca dalam edisi bahasa Inggris. Yang lain adalah teks-teks sastra. Dulu, Dick Hartoko paham dan berminat menerjemahkan gubahan sastra di kalangan pengarang Indo atau Belanda. Hasil terjemahannya adalah Taman Kate-Kate. Novel gubahan Maria Dermout itu dapat kita nikmati melalui penerbitan Pustaka Jaya.
Yang membuat ia terus bergerak dan mengabdi adalah sara syukur. Ia yang hidup sendirian tapi merasa berada dalam keluarga yang besar. Ia memberikan dirinya untuk banyak orang. Syukur dan syukur yang melandasinya. Yang disampaikan Dick Hartoko: “Syukur, Basis masih bisa bernafas.” Kita menduga dalam beragam peristiwa, ia memulainya dengan syukur. Kita pun bersyukur ia telah ikhlas dalam memajukan sastra di Indonesia meski belum ada upaya besar untuk menghormatinya dengan mengadakan sayembara atau festival atas nama Dick Hartoko. Apakah artinya kita belum sempurna bersyukur?
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<













