KURUNGBUKA.com – Kaum dewasa menghendaki anak-anak cepat beriman. Anak-anak percaya Tuhan. Yang dilakukan sebagai orang beriman adalah beribadah. Diri yang ingin selamat dan terlindungi Tuhan diharuskan berdoa. Maka, anak-anak dibiasakan berdoa. Kata-kata diajarkan agar diingat saat berdoa. Kata-kata yang tidak semuanya sederhana. Doa yang tidak cukup kata tapi menyadari posisi raga.
Anak yang berdoa kadang tidak serius. Ia main-main dan semaunya. Namun, ada anak yang bermasalah dengan doa. “Aku tak pernah mengucapkan doa,” pengakuan Anne sebelum tidur. Pernyataan yang mencengangkan. Di hadapannya, perempuan tua yang menyerbu kalimat: “Apakah kau tidak pernah diajari untuk berdoa? Tuhan selalu menginginkan gadis kecil yang mengucapkan doanya.” Anne tidak salah omong. Akibatnya dapat nasihat dan gugatan.
Anne, bocah dalam novel Lucy M Montgomery, terlihat menantang dan berani berargumentasi. Yang dituntu: “Apakah kau tahu, tidak mengucapkan doa setiap malam adalah suatu dosa?” Novel berjudul Anne of Green Gables (2014) itu memunculkan Anne yang dipaksa berpikir doa dan dosa. Ia mengetahui Tuhan tapi tidak mau cuma taat dengan berdoa.
Tata cara lazim tidak diikuti Anne. Ia punya cara: “Aku akan pergi ke padang rumput yang sangat luas, hanya seorang diri, atau masuk jauh ke dalam hutan, kemudian aku akan menatap ke atas, ke arah langit biru yang indah… Kemudian, aku hanya akan merasakan doaku dalam hati.” Ia tidak harus mengucapkan doa dengan mulut.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











