KURUNGBUKA.com – Setiap buku baru terbit, yang gencar menjual kadang penulisnya, bukan penerbitanya. Di media sosial, penulis mula-mula mengabarkan bakal terbit buku baru. Selanjutnya, penulis dan penerbit memasang beberapa contoh sampul. Publik diminta memilih, bila mau memberi alasannya. Keramaian tercipta tanpa janji kelak buku bakal laris dan laku.

Babak untuk buku baru cukup panjang. Yang tampak adalah pengumuman tentang pemesanan, biasanya disebut “PO”. Konon, harga lebih murah ketimbang setelah buku terbit. Pemesanan diharapkan banyak. Namun, situasi buruk dan kelangkaan duit di rekening atau dompet bisa menyulitkan kesuksesan penjualan. Kebijakan tetap dibuat oleh penulis yang berperan ganda sebagai penjual. Nama-nama pemesan buku dicantumkan, yang harapannya agar memancing orang lain untuk ikut menjadi pembeli. Yang seru dan bikin jemu adalah buku terbit. Di kolom komentar, kita biasa membaca kalimat-kalimat klise dari teman atau penggemar, yang belum tentu mereka membeli buku.

Kerja belum selesai. Penulis sekaligus pedagan itu rutin setiap hari akan membuat tampilan berisi kutipan-kutipan dari buku. Misinya agar buku terjual. Kini, buku baru itu memiliki alur yang panjang dan siasat-siasat yang “anu” untuk sampai ke pembeli atau pembaca. Yang disusulkan dalam usaha menjual buku adalah menayangkan gambar para pembeli yang sudah menerima buku. Kalimat bujukan dibuat: “Siapa mau menyusul?”

Buku baru kadang membawa kegembiraan. Buku baru adalah masalah-masalah yang harus diselesaikan melibatkan banyak orang. Pengumuman penjualan buku edisi tangan tangan penulis sudah terlalu biasa. Pemberian hadiah pun biasa saja. Yang pasti, buku baru menjadi dagangan dan bacaan yang berada dalam nalar perdagangan agak absurd.

Kita tidak ingin membahas berkepanjangan yang terjadi pada masa sekarang. Masa lalu dapat menjadi sumber dalam mengingat nasib buku baru, bukan mengingat nasib penulisnya. Dulu, majalah-majalah berperan dalam memuliakan buku baru. Ada halaman-halaman untuk resensi buku, iklan buku, atau berita buku. Konon, cara itu menimbulkan keterlibatan banyak pihak dalam merayakan buku-buku yang bermutu bisa laku dan berpengaruh. Namun, buku-buku baru memiliki nasib yang tidak tentu, yang nantinya membuat penulis malu, kecewa, girang, atau pesta pora.

Di majalah Tempo, 12 Juni 1982, kita melihat usaha mengabarkan buku baru. Maksudnya buku baru bagi jamaah bacaan pada masa 1980-an. Tempo memiliki rubrik “resensi”, yang menjadikan buku-buku baru mendapat penilaian. Tempi juga membuat “rehal”. Di situ, buku-buku baru beragam tema dikabarkan kepada pembaca. Yang diharapkan: penasaran dan pembelian.

Kita menemukan usaha mengenalkan buku baru bweujud satu paragraf. Yang menulis dan bertanggung jawab di halaman “rehal” adalah orang yang paham efektif dan efisien. Ia menuliskan sedikit kalimat, bukan seribu bualan. Tujuan terpenting: isi buku sedikit diketahui orang-orang yang diharapkan membeli dan membacanya. Bagaimana caranya agar berhasil membuat satu paragraf dan menjadikan buku laku?

Buku baru berjudul Danau Toba, terbitan Pustaka Jaya, 1981. Buku yang ikut memperpanjang nafas kesastraan Sitor Situmorang di Indonesia, setelah dampak malapetaka 1965. Kita memgutip satu paragraf: “Sebuah kumpulan cerpen, dua di antaranya bertemakan Danau Toba, tanah kelahiran pengarang. Gaya Sitor yang halus, tajam dan menukik dalam, seperti yang bisa ditemukan dalam 2 kumpulan cerpennya terdahulu, kurang terwakili di sini. Tapi 2 cerpen, Diplomasi Muda dan Kasim mencerminkan, bagaikan di atas keca bening, 2 tipe manusia Indonesia. Yang satu terpojok oleh keadaan, yang satu terpojok karena kebodohan.” Gampangkah satu paragraf itu menuai hasil dalam penjualan buku?

Kita mendapat lagi kabar baru, yang berjudul Telepon gubahan Sori Siregar. Penerbitnya adalah Balai Pustaka, 96 halaman. Satu paragraf yang disajikan: “Daun punya hobi kronis: main telepon. Tak syak lagi, ‘telepon iseng’ adalah pelampiasan rasa sepi dan frustrasi akibat peralihan norma-norma di kota besar. Telepon dari Sori Siregar ini dijalin dalam plot yang jelas. Bahasanya sederhana. Moralnya tegas. Masalahnya rada unik. Cocok untuk pembaca yang menyukai karya-karya sastra yang rumit dan gelap.”

Kini, bila kita membava Telepon itu bakal mengetahui perkembangan teknologi komunikasi yang mengisahkan alienasi, kebodohan, keruwetan, dan kegirangan yang terjadi. Pada akhirnya, telepon yang diceritakan itu kenangan setelah kemunculan teknologi komunikasi baru.

Dulu, satu paragraf untuk buku baru dibayangkan memberi dampak dalam penjualan buku. Yang dinantikan adalah ulasan atau komentar pembaca. Satu paragraf dianggap cukup. Pada masa sekarang, usaha seperti itu lazim tapi tampilnya di media sosial berbarengan pamitanya majalah dan koran cetak.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<