KURUNGBUKA.com – Solo itu Kriapur. Kita mengumumkannya agar orang-orang tidak sekadar mengenal Wiji Thukul atau Sosiawan Leak. Pada suatu masa, Kriapur adalah puisi-puisi yang tercetak di pelbagai media cetak. Ia pernah menonjol dan dikagumi umat sastra di Indonesia. namun, Kehadiraannya dalam sastra tidak lama. Kesedihan melanda sastra saat ia pamit. Maka, yang diberikan adalah doa-doa atau kemauan membaca puisi-puisi yang pernah digubahnya.

Jika ada yang berhasil mengumpulkan sema puisinya yang dimuat di pelbagai media cetak dan buku antologi bersama, terduga bakal bisa diterbitkan buku agak tebal. Siapa mau mengerjakan dan berani menerbitkan buku yang mengenang Kriapur? Ketulusan diperlukan untuk mewujudkan buku. Kita bisa mendapat contoh dari ikhtiar pelbagai pihak saat mencari dan mengumpulkan puisi-puisi gubahan Wahyu Prasetya, yang akhirnya berhasil terbit menjadi buku. Yang penting buku sudah ada meski teranggap tetap belum lengkap.

Satu puisi dari Kriapur bisa ikut masuk dalam dokumentasi. Puisi berjudul “Waktu Senja: Sehabis Menjengukmu” dimuat dalam majalah Zaman, 10 Agustus 1980. Satu saja yang dimuat. Kriapur mungkin mengirim beberapa puisi tapi yang terpilih hanya satu. Puisi itu ditulis di Solo, 1980. Ia memang sering berada di Solo.

Pada masa lalu, ia termasuk penulis senja. Yang menulis senja tidak “berdosa”. Padahal, kita bisa jenuh jika membaca seratus puisi mengenai senja. Mereka yang pernah belajar di sekolah atau mengaku penikmat sastra Indonesia segera mengingat “senja” yang ditulis Chairil Anwar. Namun, percayalah bahwa Chairil Anwar bukan yang pertama menaruh senja dalam puisi berbahasa Indonesia.

Kriapur menulis: Empat hari ini, bulan pulang kandang, katanya/ Tapi aku lupa hari Minggu pernah berjanji padanya/ Di atas cuaca beku, sunyiku berderak terseret waktu/ Dan bayangmu terus membelenggu. Kita ingat lagi bila “belenggu” pernah diceritakan Armijn Pane. Yang mendapat pengajaran sastra mudah ingat novel berjudul “Belenggu”. Apakah yang menggubah puisi dapat menghindari “belenggu” dengan diksi yang lain?

Kita membayangkan orang-orang yang menggubah puisi memiliki kekayaan kata. Mereka berimajinasi dan menulis puisi disokong kamus-kamus, selain bacaan-bacaan yang digemari. Dulu, Kriapur punya kamus susunan Poerwadarminto yang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia? Pada masa yang berbeda, kita sempat meragu orang-orang yang tekun dalam sastra Indonesia mengoleksi Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kita menikmati lagi bait yang dibuat Kriapur: Waktu senja:/ sehabis menjengukmu/ Tak ada lagi cahaya tempat bersandar/ bagi jiwa letih yang lapar/ Aku tahu kasihku, kau telah pulang ke sana/ ke garis cakrawala. Bait yang membuat pembacanya sedih. Pulang itu kematian? Kita kadang membaca pengumuman: “Telah pulang ke rumah Bapa.” Ada juga yang mengetahui “berpulang” itu mati.

Konon, Kriapur biasa menulis kematian. Ia mahir menulis puisi dengan segala diksi yang mengarah dan mengesahkan kematian. Teman-teman dan para pembacanya mengaku memiliki firasat atas selera berpuisi Kriapur. Ada yang percaya bahwa Kriapur sedang meramalkan nasibnya melalui puisi-puisi.

Di sastra Indonesia, kita terbiasa mengingat kematian merujuk puisi-puisi gubahan Subagio Sastrowardoyo. Padahal, ada ratusan orang yang menulis puisi “kematian”, dari masa ke masa. Siapa yang mau mengingat Kriapur dan kematian agar tercantum dalam halaman sastra Indonesia dengan tafsiran panjang, tak lupa mengutip biografinya?

Jika ingin mengumpukan puisinya, majalah-majalah yang diperlukan masih bisa ditemukan. Bagi yang ingin mendapat kesaksian dari teman-teman dan para pembaca masa lalu dapat sedikit menyumbang penyusunan biografinya. Beberapa keinginan itu diragukan berhasil diwujudkan masa sekarang. Sastra terdampak oleh efisiensi yang diadakan oleh Prabowo Subianto. Jadi, rencana pembuatan dokumentasi dan membikin acara sederhana itu khayalan saja. Kita tidak perlu membuat konklusi bahwa hidup-mati sastra ditentukan presiden. Yang bersumpah hidup-mati dalam sastra masih banyak di seantero Indonesia.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<