KURUNGBUKA.com – Pada masa lalu, para pengarang bangga bila bukunya diterbitkan Balai Pustaka. Penerbit yang sudah muncul sejak masa kolonial tetap memiliki pesona setelah Indonesia merdeka. Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, Balai Pustaka itu penerbitan yang nasibnya sering berubah mengikuti kebijakan atau peraturan dalam birokrasi.

Konon, terbitan Balai Pustaka masa 1970-an dan 1980-an untuk buku-buku sastra tak lagi mengutamakan mutu saat pekerjaan besar adalah mengurusi buku-buku pelajaran. Para pengarang menemukan Pustaka Jaya sebagai penerbit yang serius memajukan sastra di Indonesia. Maka, buku-buku terbitan Pustaka Jaya dianggap bermutu dan berpengaruh dalam perkembangan sastra Indonesia.

Dulu, ada penerbit yang ikut meramaikan gairah novel. Penerbit yang bernama Gramedia rajin menerbitkan novel-novel yang dicap “pop”, selain novel-novel terjemahan. Para penikmat dan pengamat sastra biasa mengolok-olok Gramedia yang berpihak untuk novel-novel dituduh mementingkan hiburan dan komersial. Namun, perubahan segera terjadi di Gramedia pada masa-masa selanjutnya.

Beberapa tahun yang lalu, para pengarang dan pembaca mulai memiliki kaidah-kaidah dalam menilai penerbit. Beberapa buku dianggap penting dan bermutu diterbitkan Bentang, Indonesia Tera, Kepustakaan Populer Gramedia, Serambi, Marjin Kiri, Basa Basi, Baca, JBS, dan lain-lain. Kita mulai mengerti penerbit yang dulu bernama Gramedia justru memiliki kepentingan besar dalam pasar sastra. Namun, kita mengetahuinya sebagai Gramedia Pustaka Utama.

Nasib sastra ditentukan penerbit. Kita ingin mengingat yang silam saja. Di majalah Tempo, 4 Mei 1985, kita bertemu satu halaman yang digunakan Gramedia beriklan buku-buku berselera sastra. Penerbit berhasil menyuguhkan nama-nama besar dalam sastra. Pada masa 1980-an, Gramedia menerbitkan tulisan-tulisan A Teeuw, HB Jassin, Umar Junus, Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain. Iklan untuk buku-buku yang cukup penting digunakan dalam perkuliahan sastra dan dinikmati para pengamat sastra. Bagaimana penerbit berhitung untung-rugi dalam keputusan menerbitkan buku untuk lini sastra?

Judul iklan yang gamblang: “Ini yang dicari para pencinta sastra.” Apakah kita mengira ada kebalikannya, pembenci sastra? Kita mungkin mau menbuat guyonan dengan mengubah judul: “Ini yang tidak dicari para pencintga sastra.” Yang diterbitkan oleh Gramedia bukan buku sembarangan. Penerbit pasti mempertimbangkan mutu dan nama-nama besar yang sudah dikenal di Indonesia.

Seingat kita, buku A Teeuw yang berjudul Membaca dan Menilai Sastra laris di pasar. Buku yang sering dipelajari dan dikutip dalam makalah-makalah di universitas. Esai-esai Budi Darma dan Sapardi Djoko Damono yang dikumpulkan dan diterbitkan Gramedia juga dianggap penting, Banyak yang suka dengan gagasan dan cara Budi Darma “mengomeli” sastra di Indonesia melalui buku yang berjudul Solilokui. Ada yang mendapat beragam keterangan melalui esai-esai Sapardi Djoko Damono, yang semula dikenal melalui puisi tapi terbukti cermat sebagai pengamat sastra atau kritikus sastra. Bukunya yang diterbitkan Gramedia berjudul Kesusastraan Indonesia Modern

Sebenarnya, ada buku yang penting disusun oleh Pamusuk Eneste berjudul Leksikon Sastra. Yang mengoleksi buku sastra pasti ingat buku itu terbit di Djambatan dan Gramedia. Pada masa yang berbeda terjadi penyempurnaan berakibat perubahan ketebalan dan judul. Edisi yang terbaru mungkin bikin gemas saat mencantumkan judul dengan “buku pintar”.

Iklan yang dipasang di Tempo agak mengecoh. Keinginan mengiklankan buku sastra bercampur dengan buku-buku kebahasaan. Baca saja daftar buku yang dibuat! Kita menemukan buku Diksi dan Gaya Bahasa (Gorys Keraf), Santun Bahasa (Anton M Moeliono), Sosiolinguistik (PWJ Nababan). Penerbit mungkin menduga orang-orang yang suka membaca buku sastra berarti juga suka buku-buku linguistik atau kebahasaan.

Daftar buku sastra dan bahasa itu membuktikan nasib yang berbeda. Setahu kita selama belasan tahun, buku-buku bahasa yang disusun Gorys Keraf sering cetak ulang ketimbang buku susunan HB Jassin, Umar Junus, dan A Teeuw.

Gramedia adalah penerbit yang mendapat untung besar dalam menerbitkan kamus-kamus. Banyak kamus yang laris walau cepat mengalami pembajakan dan dijual murah di pasar buku. Perhatian kepada kesusastraan dibuktikan dengan menerbitkan Kamus Istilah Sastra susunan Panuti Sudjiman. Kamus berwarna hijau dan tipis. Penyusun dan penerbit seperti belum memiliki kemauan besar menghasilkan kamus yang tebal, tidak harus lengkap.

Masa lalu itu sangat berbeda dengan masa sekarang. Gramedia Pustaka Utama tampak serius menjadi penerbit yang bergengsi untuk sastra. Beberapa pihak menuduh telah terjadi “monopoli” saat Gramedia Pustaka Utama keseringan menerbitkan buku-buku penting dari pengarang terkenal dan pengarang yang sedang mendapat pujian setelah meraih kemenangan dalam sayembara atau mendapat anugerah. Namun, para pembeli dan pembaca sastra juga sadar bahwa banyak buku-buku Gramedia Pustaka Utama akhirnya dijual obral dengan harga menggiurkan, mulai dari 5 ribu rupiah atau 10 ribu rupiah.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<