KURUNGBUKA.com – (01/02/2024) Raga yang menulis, raga yang dapat lelah dan mengerti batas. Raga dan alat yang digunakan dalam membuat tulisan dalam pertimbangan, yang berulang atau di jebakan kejenuhan. “Kegiatan fisik dalam menulis fiksi bertolak belakang dengan hasil yang didapat, “ pengakuan Erskine Caldwell (1951).

Kalimat untuk kecewa yang pernah diperoleh setelah membaca lagi lembaran-lembaran tulisan. Hasilnya jarang lekas bisa diberi tepuk tangan atau menghilangkan lelah yang berkepanjangan. Raga yang menulis, peristiwa yang tidak mudah. Yang menulis kadang melawan tidak senang untuk selalu duduk dan menggerakkan jari.

Duduk adalah “ibadah” yang digoda agar berjalan-jalan atau berbaring. Yang menulis dengan duduk sadar waktu dan kemungkinan-kemungkinan jika bergerak. Erskine Caldwell mengungkapkan raga yang duduk dan kesanggupannya: “Menulis fiksi adalah usaha untuk menciptakan tokoh-tokoh rekaan dan kejadian-kejadian penuh makna dalam batas-batas sempit.”

Ia mengartikan sempit adalah “dunia yang aku kenal”. Pada saat duduk, cerita yang ditulis meminta energi. Kita mengandaikan duduk membutuhkan kesabaran, kekuatan, keberanian, dan ketulusan.

Menulis itu “penciptaan” yang dimulai dari kemauan mengeluarkan segala yang diketahui dengan batas-batas untuk dilampaui. Duduk kadang “menyiksa” tapi kata-kata yang berhasil ditulis perlahan mengabaikan raga yang terbatas gerak.

Duduknya penulis seperti pusat dari panggilan dan pencurahan, yang akhirnya menjadikan cerita-cerita mendapatkan makna. Fisik yang harus tabah dalam menghasilkan fiksi dalam hitungan waktu, kedipan mata, tangan yang letih, dan punggung minta istirahat. Pada akhirnya, duduk tidak sia-sia.

(Erskine Caldwell, 2004, Perjalanan Sang Penulis, Prisma Media)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<