KURUNGBUKA.com – Yang pergi senantiasa ingin kembali. Minli pun ingat rumah, kangen keluarga. Di novel Where the Mountain Meets the Moon (2010) gubahan Grace Lin, Minli sempat merasakan gelisah dan rasa bersalah setelah petualangan yang jauh. Di beberapa tempat, ia memang berhasil mendapat petunjuk dan menemukan kebenaran-kebenaran. Namun, petualangannya bukan masalah yang sederhana.

Pada suatu malam, ia susah tidur. Padahal, ia sudah mendekati tujuan. Yang dikisahkan Grace Lin mengungkap keluguan bocah yang tabah sekaligus resah: “… matanya tidak kunjung terpejam. Bagaikan debu bebatuan yang tertiup angin, berbagai pikiran terus berkelebatan di benaknya.” Yang ada di pikirannya adalah bapak dan ibu yang ditinggalkannya. Ia merasa bersalah membuat mereka berduka dan “kehilangan”.

Tidur itu istirahat. Namun, Minli mengalami malam yang tidak sempurna. Matanya tidak patuh untuk hasrat tidur. Yang berkecamuk adalah kerinduan, salah, bimbang, dan kesungguhan. Bocah sudah menempuh jalan yang “benar”, menghindarkan dirinya dari tersesat, salah, dan gagal.

Para pembaca ingin mengerti tapi mudah “jatuh kasihan” dengan perjalanan dan nasib yang ditanggungkan Minli. Yang terbaca adalah bocah dalam dongeng tapi mengingatkan sifat-sifat bocah yang dalam babak-babak hidupnya memerlukan keajaiban-keajaiban, yang tidak bermaksud ingkar terhadap kenyataan.

Minli yang melangkah, yang sampai jauh. Minli yang membawa ingatan-ingatan rumah dan kebiasaan bersama keluarganya. Kepergian yang sebenarnya untuk perubahan nasib tapi Minli mengerti yang ditinggalkannya dirundung sedih. Petualangan mengikutkan salah dan gelisah.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<