Percakapan pukul tiga pagi; keretek, bajingan bertakhta, dan ambisi menjadi manusia biasa.

“Menurut gue, setiap rakyat Indonesia seharusnya punya hak buat memperpanjang masa hisab pejabat-pejabat negara waktu di padang mahsyar,” Aki langsung mengeluarkan kereteknya dari dalam saku jaket ketika sampai di kosan Angel. Lelaki itu biasanya mampir setiap kali dirinya kembali dari perjalanan dinas di luar kota; membawa berbagai macam tetek bengek yang katanya oleh-oleh untuk Angel, “kasian lo nggak pernah jalan-jalan, jadinya gue bawain sesuatu. Biar lo tau jugalah, kalo Indonesia isinya bukan Jawa doang,” yang kemudian dibalas, “gue cuma nggak pernah jalan-jalan, ya, bukan nggak pernah sekolah!

“Ngerokok mulu, nggak takut mati apa?”

Aki tak menghiraukan Angel, tangannya fokus memantik api pada korek gas yang sedetik kemudian telah membakar ujung keretek yang sudah dia sisipkan di bibirnya itu. “Ngerokok mati, nggak ngerokok mati. Mending ngerokok sampe mati.”

“Goblok.”

Yang dimaki hanya tertawa pelan, kembali mengisap lintingan nikotin di sela jarinya kemudian membuang asapnya bebas ke udara, sementara si rambut panjang sibuk dengan ponselnya, men-scroll satu per satu cuitan yang memenuhi timeline pada aplikasi X, sampai tangannya berhenti pada satu cuitan yang memperlihatkan berita tentang pengemudi ojek online yang meninggal akibat kelaparan.

“Susah banget, ya, jadi orang miskin di negara yang pemimpinnya sendiri anti sama golongan middle class.” Angel berkata demikian sembari menunjukkan layar ponselnya pada Aki.

“Ya, gitu kalau udah nggak napak tanah,” Aki merespon. “Manusia ‘kan emang begitu, Ngel, suka lupa kalau dirinya juga pernah jadi ‘bukan siapa-siapa’. Mumpung udah di atas, ya, sekalian aja jadi bajingan.”

Angel bangun dari posisi berbaringnya, kemudian menyenderkan tubuhnya ke pinggir tembok. “Lu ngeliat ginian terus bandingin sama berita kemarin yang pemerintah nyewa kendaraan sampe puluhan juta, tuh, ada rasa-rasa pengen gebukin mereka satu per satu nggak, sih?”

Aki terkekeh, “lucu dah ngeliat lo ngomel-ngomel gini dengan agenda ‘aktivis online’ lo itu.”

“Tai. Gue serius.”

“Gue juga serius,” Aki membuang abu rokoknya ke dalam asbak. Jangan tanya kenapa Angel memiliki asbak rokok di kosannya, padahal dirinya sendiri tak pernah menyentuh rokok sedikit pun. “Bayangin lo fafifu wasweswos di internet, teriak-teriak pemerentah kontol, terus pulang-pulang disambut bokap lo lagi nyanjungin capres pilihannya yang menang pemilu.”

“Hahahaha bangsat!” Angel tertawa kencang, tak menyangka kalau Aki akan membahas hal tersebut.

Aki ingat kali pertama dia berkunjung ke rumah Angel dan bertemu dengan kedua orang tuanya di musim pemilu saat itu. Mereka memperlakukan Aki dengan sangat baik, tentu saja. Tapi tak berselang lama, rumah yang dihuni empat orang itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah forum debat antara Teh Akane (kakaknya Angel) dengan Ayah mereka—memperdebatkan capres mana yang lebih layak memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan.

Angel berusaha menghentikan tawanya, sembari memegangi perutnya yang mulai keram, “tau, ya, padahal tiap hari ngeluh hidup susah, tapi masih aja tunduk sama yang bikin susah.”

“Ajaib, dah, bokap lo.”

“Bloon, sih, lebih tepatnya.”

Ada hening yang tercipta antara keduanya setelah percakapan itu. Cukup lama. Sampai membuat Aki menghabiskan tiga batang kereteknya—sekarang sudah lanjut yang keempat—hanya memperhatikan Angel yang kini telah beralih menonton drama korea di laptopnya.

“Ngel,” yang dipanggil hanya berdeham, tak berminat untuk berpaling barang sesenti pun dari layar. “Jangan mati dulu, ya.”

“Si selalu tiba-tiba, tuh,” Angel akhirnya menoleh kepada Aki, membuat netra mereka saling bertatapan satu sama lain. “Lu boleh ngomong gitu ke gue kalau udah berhenti ngerokok, Ki.”

“Kan lo sendiri yang bilang, emang paling gampang nyuruh orang lain,” ucap Aki santai. “Makanya kalau gitu, gue nyuruh lo jangan mati dan lo nyuruh gue buat berhenti ngerokok.”

“Biar apa?”

“Biar kita berdua sama-sama bisa hidup.”

Angel mendekat, kini duduk di sebelah Aki yang tengah memandang bangunan-bangunan kota yang sudah pada mati karena penghuninya mungkin telah berpindah ke alam mimpi. Kosan Angel berada di lantai tiga yang membuat mereka punya jadwal rutin ketika bertemu; melamun tengah malam di balkon teras.

“Rasanya punya mimpi tuh gimana sih, Ki?”

Jujur saja, Angel sebetulnya paling benci membahas apa yang namanya mimpi dan cita-cita. Karena dia tak memilikinya. Angel bukan lagi bingung ingin menjadi apa dan mau bagaimana, tetapi dia telah berada pada tahap tak ingin menjadi apa-apa. Angel tak punya ambisi seperti orang lain untuk mengejar hal yang mereka inginkan, dirinya hanya ingin menjadi biasa-biasa saja. Angel hanya ingin menjadi manusia; manusia yang tak punya mimpi.

“Nggak gimana-gimana, Ngel. Sama aja kayak lo menjalani hidup seperti biasanya,” jawab Aki.

“Tapi ‘kan beda,” Angel menghela napas, “kalau punya mimpi, lu bisa fokus ngelakuin apa yang pengen dikejar. Nggak kayak gue yang setiap harinya gini-gini aja.”

“Coba sekarang gue tanya,” Aki mengubah posisinya menghadap pada Angel yang sudah terlihat agak mengantuk. “Lo ada pengen jadi sesuatu nggak?”

Angel tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya menjawab, “Nggak ada, Aki. Gue nggak pengen jadi apa-apa, gue cuma pengen jadi manusia biasa.”

“Nah!” Aki menjentikkan jarinya, “lo paham nggak, sih, kalau ‘kepengen jadi manusia biasa’ juga bagian dari mimpi?” Aki mengisap kereteknya sebentar sebelum melanjutkan, “mimpi, tuh, nggak harus berwujud, Ngel, nggak harus spesifik a-b-c. Lo pengen jadi manusia biasa juga berarti lo punya mimpi, walaupun sederhana.”

Angel nampaknya tak begitu mengerti ucapan Aki, entah karena dirinya sudah setengah sadar akibat dikuasai rasa mengantuk yang menyerangnya atau memang…, dia hanya tak mengerti. “Terus kalau jadi manusia biasa itu bagian dari mimpi, cara wujudinnya gimana?”

“Ya, dengan menjalani hidup yang semestinyalah, apalagi?” Aki menghela napasnya, sudah cukup gemas karena dirasanya Angel masih belum mengerti mengenai ucapannya itu. “Hidup, tuh, bukan cuma perkara jadi besar dan terlihat, Angel, tapi jadi kecil dan melihat aja udah lebih dari cukup. Justru dengan lo hidup sederhana dan jadi yang biasa-biasa aja tuh, jauh lebih menyenangkan dibanding ketika lo punya nama dan dikenal banyak orang. Soalnya lo bisa bebas ngelakuin apa pun yang lo mau tanpa adanya tuntutan ekspektasi dari orang lain.”

Padahal bagi Angel, malam adalah waktu yang tepat untuk memikirkan banyak hal. Waktu yang tepat untuk mempertanyakan nilai dirinya sebagai manusia. Tapi malam itu berbeda. Malam di mana dirinya tidak lagi mendambakan kematian. Untuk kali pertama Angel merasa ingin terus hidup, seperti ini; bersama dengan Aki membicarakan banyak hal.

Seperti itu pun sudah cukup.

*) Image by istockphoto.com