KURUNGBUKA.com – Anak-anak dalam pergaulan lekas mengetahui teman dan lawan. Yang menginginkan teman atau sahabat, yang memberi perlakuan terhormat, taburan kasih, dan suguhan kebaikan. Namun, berteman jarang mudah. Ada saja hal-hal yang dihadapi yang berakibat suka dan duka.

Lucy M Montgomery dalam Anne of Green Gables (2014) mengisahkan pertemanan yang merepotkan kaum dewasa, yang menghakimi dan memberi sangsi. Anne, bocah itu merasakan rumit dan tulus dalam pertemanan. Sadar bahwa orang yang tua turut campur. Anak-anak yang berteman tidak dibiarkan mencipta keajaiban dan kehancuran.

Pada saat dipaksa tidak lagi harus bermain bersama teman yang (pernah) akrab, Anne berujar: “Kupikir tiada orang yang menyayangiku. Tiada yang menyayangiku sejak aku bisa mengingat. Oh, ini sangat menakjubkan! Seberkas sinar akan selalu menyinari kegelapan jarak yang memisahkan diriku dan dirimu.” Ia mulai menyadari ada teman yang bisa akrab dengannya tapi hanya sebentar. Dirasakannya kebahagiaan, sempat singgah tapi tidak punah.

Anne sedang belajar pertemanan. Maka, ia mau kembali ke sekolah. Ia yang akan mengubah pendefinisian diri dalam berteman. Yang diceritakan pengarang: “Teman-teman Anne sangat merindukan imajinasinya dalam permainan, suaranya dalam nyanyian, dan kemampuan dramatisnya dalam membacakan buku keras-keras saat waktu makan siang.” Anne mulai sadar diri, mengerti dirinya di hadapan yang lain. Teman-teman berarti sosok yang tidak asing. Mereka itu dekat dan memberi perhatian dengan segala cara, rupa, dan benda.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<