KURUNGBUKA.com – Belajar di kelas, belajar yang dibentuk dengan pelbagai perintah dan larangan. Murid-murid bisa gembira dan menderita selama di kelas. Yang menentukan adalah cara guru yang mengajar, suasana kelas, kondisi teman-teman, dan lain-lain. Pada saat berada di kelas, murid-murid melakukan beragam siasat agar betah. Artinya, kesungguhan belajar masih bisa dipertanyakan.

Yang diimpikan adalah jam-jam istirahat untuk makan atau bermain. Tak selamanya, mereka berharap mendapat pelajaran-pelajaran yang mencerdaskan. Hari demi hari, keberadaan di kelas adalah perjuangan agar tidak menyerah dan mampus. “Setengah mati, aku berusaha supaya tidak jatuh tertidur tapi itu tidak mudah,” kata tokoh dalam novel gubahan Judy Blume berjudul Blubber (1995).

Ia merasakan bosan yang sulit tertahan. Keharusan adalah berada di kelas meski ia mengetahui suasana pelajaran tidak menyenangkan. Ia sedang menilai guru dan teman-temannya. Bocah yang menderita di kelas untuk beberapa menit. Tetap duduk tidak tertidur itu tidak cuma terjadi sekali.

Di kelas, ia malah membesarkan ketidaksukaan kepada guru. Ia memiliki alasan, yang menunggu jawaban. Katanya tentang guru yang bernama Bu Minish: “Soalnya ia tak pernah membuka jendela kelas. Takut masuk angin. Belum pernah kudengar alasan sekonyol itu. Kadang-kadang kelas kami terasa pengap dan berbau.” Kita ikut membayangkan derita yang ditanggung selama di kelas.

Kelas itu tempat belajar. Namun, ada anak-anak yang tidak dapat memenuhi pengertian yang baku. Mereka kadang memberi pengertian-pengertian yang lain. Kelas adalah tempat hukuman. Kelas adalah tempat tidur yang tidak indah. Kelas itu tempat yang dibenci sekaligus dikangeni.

*) Image by Urvil Official Book

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<