“Perdu menemukan hal lain di atas sungai – bintang yang bernapas. Suatu hari, bintang-bintang itu bersinar terang. Besoknya, pucat, lalu terang lagi. Dan, ini tak ada kaitannya dengan kabut atau kacamata bacanya, tetapi dengan kenyataan bahwa dia tidak lagi hanya menatap kakinya sendiri. Tampak seolah mereka bernafas mengikuti irama lambat dan dalam, yang tak pernah berakhir. Sebagian bintang pernah melihat dinosaurus dan manusia purba. Mereka melihat piramida didirikan dan Columbus menemukan Amerika. Bagi mereka, bumi adalah dunia pulau lain di Samudra Antariksa yang sangat luas dengan penduduk amat kecil.”

(Nina George, The Little Paris Bookshop, Gramedia, 2017)

KURUNGBUKA.com – Tidak selama 24 jam mata Perdu mengarah ke lembaran-lembaran buku. Ia memang pembaca yang serakah. Namun, hidupnya tidak semua untuk bacaan. Ia masih berhak dengan pengalaman-pengalaman lain, yang mengiringi pertambahan umur dan parahnya patah hati. Pada hari-hari yang agak sulit diatasi, Perdu memilih melihat dan menemukan dirinya di alam yang kuasa. Di kota, ia menganggap penglihatannya terbatas. Kota itu sesak. Mata pun sulit untuk mendapat semua yang dirindukan dan menemukan keajaiban-keajaiban.

Pada peristiwa yang lain, Perdu berada di alam yang membuatnya takjub dan memiliki diri yang lain. Ia sudah mengagumi sungai. Pengalaman bertambah saat mata melihat ke atas. Yang dilihat adalah bintang. Apakah ia serius dengan bintang, yang ada di kejauhan. Perdu bukan orang yang menekuni astronomi. Namun, ia berhak takjub dan berpengetahuan langit. Yang diketahuinya adalah bulan yang berubah. Ia melihatnya dalam tampilan pucat dan terang, tidak memerlukan kalimat-kalimat argumentatif. Pengalaman itu mendingan puitis ketimbang ilmiah.

Bintang itu yang pokok saat ia mengerti bahwa ada hal-hal lain yang penting bersamanya. Perdu yang mampu memuliakan bintang, yang jarang ia perhatikan saat sibuk dan dikutuk kemurungan. Pada hari yang indah, ia percaya bahwa bintang itu anugerah. Pada saat memberi matanya kepada bintang, Perdu sempat kepikiran kaki yang mula-mula dilihatnya saat mengagumi sungai.

Yang tampak adalah bintang yang hidup. Perdu tidak menganggapnya hanya pajangan atau hiasan di langit. Pembaca yang berada di samping Perdu mungkin setuju bila bintang itu benar-benar memberi gairah hidup yang berbeda saat malam tidak berarti gelap.
Di ketinggian, bintang-bintang menjadi saksi. Perdu tidak sedang mabuk fiksi. Ia mengerti bahwa bintang di sana umurnya tua. Maka, bintang-bintang menjadi saksi dari segala perubahan yang terjadi di muka bumi. Saksi yang tidak lelah-lelahnya meski tidak membahasakannya pada manusia dengan sintaksis yang sederhana.

Yang ingin megetahui masa lalu, lihatlah bintang-bintang! Seruan yang diberikan Perdu berlaku untuk semua orang. Namun, saat itu Perdu sendirian untuk mengambil kebenaran, yang diberikab bintang berdasarkan masa lampau. Perdu melihat bintang yang mendokumentasi dinosaurus, piramida, Columbus, dan lain-lain. Di atas, bintang menyaksikan segalanya tapi tidak bertugas menjadi pengisah sejarah: panjang dan utuh.

Perdu mungkin kebablasan dalam mengagumi bintang. Ia seolah memegang kebenaran yang berlaku di alam semesta. Kita menduga Perdu yang menyusun puisi atau prosa, yang menjadikann penggubah yang mengetahui segalanya. Ia yang menceritakan dengan kebenaran dan ketulusan. Pada akhirnya, ia terserap dalam lakon alam, tidak lagi memasuki halaman-halaman novel yang mengakibatnya rimbun cerita saat berhadapan dengan orang lain. Perdu yang sendirian menjadi sosok yang tersihir alam. Ia dalam pengalaman yang melampaui seribu puisi dan setumpuk novel pernah menggerakkan sejarah dunia, dari masa ke masa.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<