“Sebagian orang menganggap ketekunanku dalam bekerja menggambarkan keinginanku dalam bertahan atau mencintai hidup sekeras apa pun upaya penjajah untuk menghancurkannya… Berdasarkan keadaanku, aku tidak bisa menilai secara persis atau mengetahui yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan. Yang bisa kulakukan tanpa mendatangkan konsenkuensi berbahaya adalah bekerja di kantorku atau duduk di balik meja depan jendela besar rumahku, tempat aku bertemu dengan satu berita yang berhasil menarik perhatianku sebab detail tanggal kejadiannya.”

(Adania Shibli, Detail Kecil, Bentang, 2024)

KURUNGBUKA.com – Pada hari-hari yang sulit damai, orang-orang mengetahui dampak ketakutan yang tercipta oleh ledakan bom atau tembakan. Di Palestina, hari-hari kehancuran dan kematian adalah biasa. Mereka yang berduka dipaksa untuk sulit mengungkapkan perasaan. Yang terjadi adalah datangnya petak-petaka yang makin memberi tragedi kemanusiaan.

Di tempat-tempat yang menggelar konflik, orang-orang dibingungkan dalam mencipta peristiwa sehari-hari. Ada yang bekerja tapi sadar situasi yang buruk. Ada yang termangu setelah tersiksa oleh kenyataan-kenyataan. Di kesibukan dan kebingungan, ada yang terjebak absurditas. Namun, hari-hari yang keras, membara, dan nestapa masih mungkin mendapatkan makna.

Yang diceritakan Adania Shibli adalah pilihan dalam mengalami hari-hari yang tidak dijamin selamat dan bahagia. Tokoh yang dibuatnya memilih bekerja. Maka, pemaknaan bekerja menjadi sangat berbeda dengan buku-buku panduan bekerja dan seruan-seruan para pengamat eknomi. Bekerja bukan sekadar urusan mencari nafkah atau bab penting dalam perekonomian.

Tokoh itu disadarkan kehancuran-kehancuran di sekitar kantor. Peledakan apartemen, penembakan sembarangan, atau penangkapan biasa terjadi setiap hari. Konflik Israel-Palestina adalah pengulangan kegetiran yang tidak puitis. Apakah bekerja masih peristiwa yang terhormat dalam kondisi yang amburadul? Ia terus bekerja. Ia memiliki keyakinan sekaligus keraguan, yang membuatnya berani mendatangi kantor. Di perjalanan, ia mengerti penciptaan ketakuan oleh Israel. Di kantor, ia mengerti kemungkinan kejutan-kejutan yang terburuk.

Bekerja itu bertahan dan mencintai hidup? Renungan yang dibuat tokoh sambil memastikan sikap itu berlatar konflik yang bergelimang penderitaan. Israel memiliki seribu cara agar orang-orang tersiksa tanpa ampun atau memiliki 24 jam kesengsaraan. Tokoh yang bekerja itu agak mampu mengatasi pengertian-pengertian buruk yang dibuat Israel.

Bekerja mungkin “keharusan” agar tetap menjadi manusia. Konon, bekerja itu ejawantah dari hal-hal yang dimiliki untuk Raihan capaian-capaian yang bermakna. Bekerja dalam situasi konflik berarti sadar pengorbanan dan remah-remah kebahagiaan yang mungkin diperoleh. Namun, tantangan yang paling berat adalah selamat dari ulah para tentara Israel dan terhindari dari kematian yang terlalu “diwajarkan” di sana.

Ia bisa membedakan kantor dan rumah. Masa lalu pun biasa dibawa saat menikmati pekerjaan atau menghuni rumah. Di luar kantor dan rumah, ia menyaksikan kehancuran dan perubahan-perubahan yang tragis. Pada saat berada dalam kantor dan rumah, ia mengerti belum dipastikan selamat dari tragedi-tragedi di Palestina. Ketekunan bekerja memberinya kekuatan atas hasrat menjadi manusia yang tidak sia-sia. Di rumah, ia merasakan terlindungi tapi pengetahuan di luar rumah justru memberi panggilan agar menguak kebenaran-kebenaran.

Ia bisa sering berada di rumah. Namun, berita yang dibacanya mengubah segala keputusan. Pada suatu hari, ia membaca berita, yang membukakan masa lalu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menuju masa lalu. Yang dilakukan adalah bekerja bermisi menjelaskan kejadian silam, yang membuatnya memiliki keberanian dalam keangkuhan dan kekejaman penjajah.

Bekerja membuatnya masih waras. Bekerja itu memelihara kekuatan agar tidak runtuh oleh penghinaan dan penghancuran yang dilakukan Israel. Bekerja seperti pemenuhan janji bahwa masa lalu tidak semuanya dilupakan dan disembunyikan walau masa depan tetap sulit dibayangkan.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<