KURUNGBUKA.com – (04/01/2024) Pada saat menua, pengarang mengingat masa-masa bergairah di jalan sastra. Ia menilai diri pada masa lalu. Ketenaran telah diperoleh tapi silam butuh penilaian ulang. Yang dikatakan Gabriel Garcia Marquez (1983) mengenai masa mudanya, yang menghasilkan novel berjudul Seratus Tahun Kesunyian: “… dia menuliskannya dengan tergesa-gesa. Dia mengira tak akan pernah bakal menulis lagi. Dia hanya punya satu kali kesempatan saja. Jadi, dia berusaha memasukkan semua akumulasi pengetahuannya ke dalam buku itu, terutama teknik-teknik sastra dan trik-trik yang dipinjamnya dari novelis-novelis Inggris dan Amerika yang dibacanya kala itu.”

Pada saat menulis, ia memberi lebih. Disadarinya saat novel itu makin mendapatkan banyak pembaca di puluhan negara. Novel yang mengangkatnya ke langit ketenaran dalam sastra dunia. Itulah masa lalu yang dilihat kembali. Ia berhasil menulis novel, tidak cuma satu. Umat sastra di dunia beruntung mengetahuinya tidak sekadar dengan Seratus Tahun Kesunyian.

Novel-novel yang lain mewujudkan kemahiran bersastra, usia, pegangan tema, dan dampak-dampak pemerolehan penghargaan. Ia yang menanti lagi penilaian diri saat menjadi tua tanpa kewajiban mengulangi penulisan Seratus Tahun Kesunyian.

Ia pun mengingat diri saat muda dan penulisan novel berjudul Badai Daun. Dulu, ia yang tampak “berlebihan” dalam mewujudkan mutu sastra. Gabriel Garcia Marquez mengungkapkan: “… aku merasa yakin bahwa setiap novel bagus haruslah sebuah transposisi puitis dari realitas.”

Yang diiinginkan dan dipertaruhkan saat masa muda kadang “ditertawakan” atau mendapat anggukan pelan saat pengarangnya sudah tua.

(David Streidfeld, 2015, Gabriel Garcia Marquez: Wawancara Terakhir dan Percakapan-Percakapan Lainnya, Circa)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<