Di Kampung Sekoci, waktu selalu bergerak pelan, seperti perahu yang takut melawan arus. Orang-orangnya hidup di antara bau asin, lumpur tambak, dan doa yang tak pernah sampai ke langit. Tak seorang pun tahu bahwa suatu malam, laut akan memulangkan sejenis makhluk yang dulu diusir manusia dari kota—tikus-tikus yang membawa suara rahasia tentang kerakusan dan kesunyian.

Tepat saat jam empuknya malam menipis—ketika udara masih lengket oleh uap tambak dan lampu-lampu nelayan seperti kantong-kantong kunang-kunang—sembilan perahu kecil merapat di dermaga bambu Kampung Sekoci. Mereka tak membawa muatan ikan atau bubu, melainkan sekawanan tikus air—tikus-tikus sebesar bantal yang bermata gelap seperti kelereng minyak—yang dibawa oleh Tuan Malik, saudagar dari Kota Pelabuhan, bersama delapan anak buahnya.

Sembilan tikus itu, dengan bulu basah mengkilap, ditempatkan di kandang anyaman di ujung dermaga. Mereka mengeluarkan suara cuit-cuit yang bukan cuit biasa, melengking dan berulang seperti desah mesin yang sedang dipanaskan.

Tak seorang pun di kampung itu berminat beternak tikus. Tidak juga Pak Imam, yang sehari-hari menuntun doa dan mengatur bacaan di surau. Apalagi Petinggi Sekoci—Nyi Murni, yang mengatur tambak dan memperingatkan perahu untuk tak berlabuh dekat makam tua di tanjung. Tuan Malik tahu benar kalau tikus-tikus raksasa itu bukan penghuni alami tambak yang dipenuhi keramba dan kerang. Ia memilih menempatkan binatang itu di sana karena di Kota Pelabuhan tidak ada lahan yang cukup.

Ada banyak alasan orang kota tak mau memelihara tikus sebesar bantal itu. Mungkin karena stigmanya: tikus selalu dianggap pembawa kotoran, lambang kelaparan, atau simbol orang yang menggigit satu sama lain demi roti terakhir. Tetapi lebih dari itu, warga takut bila binatang-binatang itu lepas kendali: tikus besar bisa menimbulkan penyakit, bisa merontokkan tempo hidup yang sudah tertata rapi. Dan ada kabar, samar di kota, tentang orang-orang yang digigit tikus sejenis ini lalu berubah: mereka mencongak, mencakar meja, dan berkeliaran pada malam hari.

***

Semua dimulai ketika Pak Imam, lelaki yang biasa mengunci surau dan menyiapkan air wudhu, tiba-tiba pingsan di pinggir pasar. Ketika ia terjaga, bukan sapaan biasa yang keluar dari bibirnya, melainkan suara berderik dan deru khas tikus besar. Ia mengendus-endus seperti hewan yang sedang mencari lubang, lalu ia menggigit sebuah papan kecil yang menjadi alas kaleng kopi. Orang-orang yang hendak menunaikan salat Isya kaget bukan kepalang: Pak Imam merunduk, menancapkan kuku pada lantai, dan berlari menyeruduk meja jualan—seolah-olah mendengarkan perintah dari sesuatu yang hanya dia dengar.

Kekacauan merebak. Yang lebih ngeri, ketika seorang pedagang kaki lima—Dia, perempuan muda yang biasa tersenyum manis sambil menimbang ikan—tergigit oleh Pak Imam, ia berubah. Tidak hanya luka yang menganga, tetapi kebiasaan-kebiasaan manusia dalam dirinya rontok. Ia mulai menggerogoti sisa-sisa ikan di meja tetangga, mengumpulkan remah-remah, dan menaruhnya dalam liang kecil di bawah warung. Dari gigitan ke gigitan, jumlah mereka bertambah: empat, lima, lalu delapan orang yang bertingkah seperti tikus, merangkak di bawah meja, mengunyah kain, memerah kancing baju seperti biji jagung.

“Gila! Ini semacam wabah tikus,” ujar seorang perawat di puskesmas sambil mengusap jidat. Suara itu menyengat. Kepala desa segera memutuskan: sembilan orang yang sudah ‘terinfeksi’ harus dikurung di bekas gudang garam. “Hanya yang waras yang boleh tinggal di kampung ini!” kata kepala desa sambil menggantungkain spanduk bertulis tegas: “Dilarang Menjaga Tikus!’’ dan “Basmi Pembawa Pelahap!”

Tuan Malik murka. Ia tidak datang untuk melihat kandangnya dibakar oleh kebencian. Ia merasa berkewajiban melindungi tikus-tikusnya—bukan karena kasihan—tetapi karena ada bisnis yang harus diselamatkan. Setelah tawar-menawar dengan Lurah yang, katanya, ‘sudah lama bersahabat’, Malik membeli sebidang tanah berlumpur di ujung tanjung. Ia membawa tikus-tikus itu menyeberang malam, menembus jalan setapak yang licin, di bawah kicau burung yang mengira musim baru telah datang.

Menggiring tikus-tikus sebesar bantal melalui gang sempit bukan perkara gampang. Kandang berbunyi, tali-tali putus, dan anak-anak—yang belum pernah melihat tikus sebesar itu hidup di hadapan mereka—menghambur, memegang ekor, mencubit kuping. Tikus-tikus hamil menggeliat, merasa terusik, dan beberapa mencakar hingga darah. Seketika, anak-anak lari menjerit. Tikus mengejar, menggigit kain, menarik jari. Para penjaga Malik—laki-laki berpakaian lusuh dan bertato—memukul, meneriakkan ancaman, tetapi mereka juga ketakutan ketika seekor betina melompat dan mengangkat badannya menyerang seorang bocah lelaki yang berani.

“Jauh! Jauh! Kalau keseruduk, kalian bisa sakit!” teriak salah seorang penjaga.

Namun anak-anak tidak mau mundur. Mereka melihat tikus-tikus itu sebagai permainan baru, sebuah keberanian untuk ditaklukkan. Dalam imajinasi mereka, tikus-tikus itu adalah kuda-kuda kecil yang bisa ditunggang, yang di punggungnya mereka bisa menjelajah tambak hingga menemukan harta karun. Mereka ingin menamai setiap tikus: Lada, Garing, Lempung—dan memaksa mereka tergoda dengan sisa biskuit yang mereka pegang.

***

Tikus-tikus bukanlah mainan orang dewasa. Ketika seorang tetangga pulang dan menyadari ada kawanan tikus raksasa merayap di sepanjang kanal, kegemparan tak terelakkan. “Ini pasti mahluk neraka,” bisik seorang janda yang belum pernah melihat tikus besar sepanjang hidupnya. Dia berlari ke rumah Pak Imam, menuntut pertolongan, tapi lebih dulu sampai di pasar: terdengar desah tikus di gudang, terdengar suara orang yang menggiling-giling gigi seperti gerinda.

Pak Imam, yang sejak awal memilih tenang, pergi ke masjid dan memimpin azan. Ia menenangkan warga, memanggil doa. “Allah punya cara sendiri untuk menilai ujian ini,” katanya lirih. Namun Sabar—pemuda kampung yang pernah bekerja di Kota Pelabuhan dan kembali membawa banyak buku—tidak sabar. Ia menuding Pak Imam sebagai pengecut yang disuap oleh Malik. Ia mengumpulkan beberapa lelaki dan dengan amarah yang dibakar kecurigaan berangkat mendatangi Tuan Malik.

Sabar pernah membaca banyak hal tentang tikus—bahkan mempelajari bagaimana tikus bisa menjadi simbol kelaparan kota. Ia tak ingin kampungnya, yang sunyi dan menaruh kayu bakar di malam hari, berubah menjadi gudang tikus dan dorongan-nafsu. Ia membayangkan tepat tengah malam, saat perahu-perahu tertidur, tikus-tikus itu akan melompat keluar, merobek jaring, dan menyebarkan sejenis lenting yang membuat manusia lupa batas; mereka akan menggigit pergelangan, dan orang-orang akan berubah menjadi makhluk yang takut cahaya.

Konflik memanas. Tuan Malik tak kalah. Dengan parang terhunus, ia dan delapan anak buahnya berjaga di kandang. Mereka akan mempertahankan tikus-tikus itu sampai darah. Perkelahian pun nyaris terjadi, tetapi sejauh ini hanya benturan kata, bukan darah. Meskipun begitu, malam berlalu bukan tanpa gema: desah tikus, teriakan anak, dan tawa penjaga.

***

“Jika Allah berkehendak tikus-tikus itu akan mati sendiri,” kata Pak Imam suatu sore ketika Sabar mengadukan segala yang terjadi. Mereka duduk di surau, membelah waktu antara azan dan azan.

“Tapi kita tak bisa menunggu kehendak yang tak terlihat,” jawab Sabar. “Kita harus bertindak. Kalau tidak, tikus-tikus ini akan menjadi cermin buruk bagi kampung ini. Orang-orang di kota sudah memanggil petugas; mungkin mereka akan datang membawa lampu-lampu dan mengusir kita.”

Sabar mulai menyebarkan desas-desus. “Pak Imam sudah terinfeksi,” katanya pada hampir semua laki-laki di kampung. Dan anehnya, tak ada suara yang datang menentangnya. Kata-kata Sabar seperti biji-biji yang jatuh pada tanah kering: langsung tumbuh. Mereka percaya bahwa segala yang membawa perubahan dari kota pasti penuh tipu daya. Mereka percaya bahwa tikus-tikus itu adalah konspirasi untuk mengubah nasib mereka.

Malam itu, Sabar membayangkan dirinya seperti pejuang dalam cerita-cerita lama, menggenggam linggis dan membela kehormatan kampung. Dengan tegas ia mengumpulkan sekelompok pemuda bersenjatakan parang, bambu runcing, dan lampu tanah liat. Mereka berniat menerjang kandang dan menghabisi tikus-tikus, sekali dan untuk selama-lamanya.

Tetapi Tuan Malik tidak akan tunduk. Ia juga telah membentuk rencana untuk menyingkirkan Sabar—bukan hanya mengusir pemuda itu, tetapi menutup mulutnya untuk selamanya. Di malam yang sama, saat kabut tambak mulai menggulung, delapan penjaga Malik mengepung Sabar. Mereka menunggu di balik rambatan, napas mereka sejuk seperti batu yang baru dicelup. Di antara kegelapan, tikus-tikus yang selama ini diikat kini dibiarkan bebas, merunduk di sela bambu.

Sabar tak tahu bahwa serangan itu sudah dirancang. Ia tidak tahu, ketika ia mengangkat linggis, ada sesuatu yang mengendusnya dari tanah—seekor tikus besar yang mengangkat kepalanya. Mereka bersiap menyeruduk; bukan hanya tubuhnya yang akan menancap, tetapi juga sebuah kutukan kecil: gigi tikus yang menggigit akan menaburkan lupa, akan merobek norma. Dengan menggigit Sabar, mereka berharap menjadikan pemuda itu sebagai yang pertama dari kampung yang berubah menjadi tikus dari daratan.

Di sinilah kepedihan cerita ini bertumpu: pada malam ketika kegelapan dianggap bisa membersihkan segalanya, ketika keberanian diimami dengan kebencian, dan ketika binatang—oleh siapa pun—dijadikan alat untuk menghapus lawan. Di samping surau, di bawah lampu tempel yang bergetar, desah tikus dan langkah manusia bercampur jadi satu—sebuah lagu yang tak pernah selesai.

Akhirnya, siapa yang berubah? Siapa yang selamat? Seperti pasang surut di tambak, jawabannya kembali mengalir ke laut—setengah dibawa arus, setengah lagi tertinggal di tepian, menunggu orang yang berani menyentuh tanah berlumpur untuk menggali kebenaran di bawahnya.

*) Image by istockphoto.com