Sesaat sebelum matahari terbenam, aku berdiri di pinggir pantai yang apabila aku perhatikan sungguh-sungguh, tampak nun di seberang sana seakan-akan sedang ada pesta pora api unggun yang maha besar. Aku mengadu kepada laut; berkeluh kesah, dan menjelaskan semua yang aku rasakan—yang aku pikirkan. Laut diam. Dia seperti malas menanggapi, apalagi memberikan aku semacam jalan keluar.

Tetapi aku tetap bebal. Aku tidak berhenti mengadu dan menjelaskan semua kepada laut. Aku pikir hanya kepada lautlah aku bisa menumpahkan semuanya, tanpa harus ada yang aku sembunyikan. Sampai akhirnya, entah bagaimana bisa begitu (mungkin laut kesudahannya lelah mendengar keluh kesahku) tiba-tiba aku melihatnya. Ya, sesosok wanita yang tiba-tiba menyembul dari dalam laut; kemudian terbang mendekatiku. Sekejap aku mengira dia putri duyung yang terdampar. Tapi, bukankah putri duyung tidak bersayap. Dan jika pun terdampar, pastilah dia dalam kondisi setengah sadar, dan juga menggelepar minta didorong segera ke laut.

Aku sungguh terpesona; tak mampu berkata-kata. Sebagian diriku rasanya ingin mengucapkan terima kasih kepada laut atas kehadiran bidadari itu (dia memang pantas disebut bidadari ketimbang hanya seorang wanita). Sedangkan sebagian diriku yang lain masih dalam kecamuk tak percaya atas apa yang aku saksikan. Kau tahu bagaimana bidadari itu meluncur ke arahku? Itu begitu cepat. Sangat cepat! Serupa sihir. Dan kini dia tepat berdiri di hadapanku; dengan senyum paling manis.

Jantungku berdetak kencang. Suara tetabuhan gendang datang entah dari mana bermain di kepalaku. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang sulit aku jelaskan menyusup lembut masuk ke dalam hatiku. Anehnya, sesuatu itu bagaikan masuk ke dalam rumahnya sendiri. Tak sedikit pun ia canggung atau malu-malu. Dan seluruh yang ada di dalam serentak memberi salam serta sambutan menawan kepadanya. Salam, ya, salam, kepadamu yang segala keberkahan tercurah; tumpah hanya untukmu. Lakukan apa saja yang menyenangkan hatimu! Ini rumahmu, dan jangan pergi meskipun badai topan di luar sana begitu menakutkan. Mungkin kira-kira begitulah bunyi sambutan itu.

Cinta? Oh, itu terlalu terburu-buru. Cinta pandangan pertama hanya ada dalam kisah klasik, sedangkan di zaman sekarang cinta sangat sukar didapatkan. Bahkan yang menyerupai cinta, pun teramat sulit ditemukan. Banyak pasangan yang puluhan tahun sudah hidup bersama, ternyata baru menyadari bahwa mereka tidak saling mencintai. Akhirnya mereka pun hidup dalam kepalsuan yang nyata; menderita, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Maka, buru-buru aku tampik pikiran kuno itu. Ya, aku bisa saja hanya terpesona, terpana, mungkin juga terperdaya. Segera kuraih kesadaranku yang sempat terbang mengikuti burung-burung yang ingin pulang ke peraduannya.

Setelah kesadaran kembali kuraih, aku malah dikurung bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus tetap diam memastikan ini mimpi, atau bukan? Wahai laut, malu rasanya bila hal semacam ini pun aku mengadu kepadamu. Tapi kumohon beri sedikit pemahaman agar tak serupa patung aku di hadapan bidadari ini.

”Mulailah bernyanyi! Suarakan apa yang kau rasakan. Kalau kau belum percaya dengan apa yang kau rasakan, sesungguhnya tak lama lagi kau pasti akan mengerti. Segeralah bernyanyi!” bidadari itu bicara padaku.

Oh, ini bukan mimpi. Ini nyata, sungguh nyata.

”Kaukah yang meluncur bagai petir dari tengah laut tadi? Bagaimana itu bisa terjadi? Sungguh ini seperti mimpi saja, mungkin juga dongeng bagiku. Untung aku tidak sampai pingsan,” kataku.

”Sudah kukatakan bernyanyilah! Maka bernyayilah!”

”Aku tak pandai bernyanyi, dan sekiranya aku paksakan bernyanyi, sungguh, tak sebuah lagu pun yang aku hafal sempurna,” jawabku menjelaskan. Betapa kakiku bergetar hebat saat mengatakan itu semua. Andai dia tahu, pastilah hatinya jatuh kasihan.

Tetapi dia malah terlihat sedih mendengar penjelasanku. Tak lagi berbicara, dia meninggalkanku begitu saja. Aku memerhatikannya berjalan membelakangiku menembus gelap. Namun yang membuat aku heran, dia tidak kembali ke laut. Lantas, ke mana dia akan pergi?

¤ ¤ ¤

Sembilan belas tahun sudah sejak bidadari itu muncul, dan dia tak pernah terlihat kembali. Sedangkan aku masih saja terus datang ke pantai menunggunya bersamaan dengan matahari terbenam. Setiap hari perasaanku tak pernah berubah: terus berharap dia kembali seperti pertama kali muncul di hadapanku. Aku juga masih mengadu dan menjelaskan semua kepada laut. Sungguh aku tak tahu sampai kapan aku akan seperti ini. Namun satu yang pasti, sejak itu, di dalam hatiku telah tumbuh sesuatu yang lembut dan indah. Sesuatu yang membuat aku tak pernah lagi merasakan sedikit pun kesusahan, selain hanya kerinduan belaka kepadanya.

Aku juga tidak lagi merasakan sedih atau pun duka lara. Aku kemudian menjadi merdeka dari apapun yang mengikatku akan perihal dunia fana. Pekerjaanku hilang, teman-temanku pergi, bahkan kekasihku yang katanya akan bersetia meski langit runtuh, pun embus entah ke mana. Sehari-hari aku hanya menulis sajak. Dan sajak-sajak itu aku kirimkan ke surat-surat kabar. Beberapa surat kabar menerbitkannya dan membalas sajak-sajakku dengan sejumlah uang. Tentu saja jumlahnya tidak seberapa, tetapi cukup untukku terus menyambung hidup sampai hari ini. Bahkan sejumlah penerbit menghubungiku dan menawarkanku membuat beberapa buku antologi. Aku mengangguk saja saat mereka datang memujukku; mengiming-imingkan aku sejumlah uang dengan mulut berbusa yang kadang sesekali melompat mengenai wajahku. Mereka juga mengatakan royaltiku akan terus mengalir sampai kapan pun selama buku-bukuku terus dibeli orang. Jujur, aku tidak begitu menyimak mereka. Mulut mereka bau sekali, mirip mulut politikus. Dan itu senyata membuatku semakin tak peduli kepada mereka. Sehingga, sekiranya mereka ingkar kemudian hari; membawa kabur apa yang telah mereka janjikan, aku pun tak peduli.

Sudah ribuan sajak aku tulis untuk mengisi ruang rinduku kepadanya. Tetapi tak kunjung penuh kurasakan. Selalu saja ada ruang yang harus terus aku isi dengan rindu itu sendiri. Bila sehari saja aku tak menuliskan sebuah sajak, tubuhku sekonyong-konyong bergetar hebat. Keringat dingin merimbun di sekujur tubuhku. Aku seperti seorang yang sakit, mungkin juga seperti orang yang mau mati. Maka, aku pun tak pernah lagi tidak menuliskan sajak, dan berdiri di tepi pantai tentunya; menunggu dia datang kembali.

Hari ini kulihat pantai tidak seperti biasanya. Sembilan belas tahun sejak memutuskan tinggal menetap di dekat pantai, rasa-rasa tidak pernah seperti ini kondisi pantai. Kulihat bibir pantai makin melebar ke arah laut; bagaikan ada yang menarik air laut menjauh dari tepi pantai. Ikan-ikan juga berloncatan di tepi pantai. Muncul niatku untuk mengambil beberapa ekor, dan mungkin malam nanti atau esok hari akan aku panggang sebagai lauk. Namun niat itu aku urungkan saat kulihat orang-orang menyerbu dan saling sikut memperebutkan ikan-ikan itu. Aku tertawa. Sungguh sebuah penampakan yang sangat purba: keserakahan ingin memiliki sendiri, tanpa keinginan berbagi.

Ketika mereka mulai lelah mengangkut ikan-ikan yang seolah tak habis-habis itu, kulihat dari tengah laut dia muncul. Ya, bidadari itu. Bidadari yang kepadanya ribuan sajak aku tulis. Sungguh, aku yakin itu dia. Aku masih ingat betul senyumannya, meski dia jauh di tengah laut. Sumpah, aku melihat dengan terang senyum itu memancar bagai bintang kejora. Namun kenapa dia tidak mendatangiku? Dia hanya mengawang di atas permukaan air laut. Orang-orang yang kelelahan itu kupikir tak satu pun yang menyadari kemunculannya; kehadirannya yang aku saksikan sendiri.

Aku balas senyumannya dengan lambaian tangan. Kulihat senyumnya semakin semringah. Dia juga membentangkan kedua tangannya kepadaku; seolah berkata, kemarilah aku juga merindukanmu. Oh, apakah ini mimpi? Benarkah dia juga merindukanku? Dan entah bagaimana, kakiku seperti ditarik mendatanginya.

Aku pun mulai berjalan ke arah laut. Tak kuhiraukan lagi orang-orang yang kelelahan itu terkapar di pinggir pantai. Bahkan aku pun tak peduli ketika beberapa dari mereka kurasakan terpijak oleh kakiku yang telanjang. Namun saat kakiku mulai sempurna menginjak air laut, jernih kudengar suara orang-orang berteriak. Akan tetapi, demi apa pun, betapa aku tak peduli terhadap teriakan mereka. Kakiku terus saja melangkah menuju laut; menujunya.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku ditarik oleh seseorang yang entah siapa.

”Hei, apa kau sudah gila? Ayo cepat lari! Air laut sebentar lagi akan menggulung semuanya! Ayo cepat lari!”

Aku tertawa dan menepis ajakan orang itu. Seperti yang aku katakan, aku tak peduli lagi pada apa pun. Aku takkan melewatkan kesempatan kali ini; kesempatan bisa bersama bidadari itu. Aku akan membayar kesalahanku sembilan belas tahun lalu: aku akan bernyanyi mengikuti permintaannya yang aku tampik dulu. Aku akan bernyanyi terus, meski suaraku habis, dan suara musik musnah di dunia.

Oh, kau yang lembut bersemadi dalam hatiku; kau yang kutunggu siang-malam, sambutlah tanganku. Jangan pergi lagi! Bawalah aku ke mana pun kau mau! Bawalah, kasih!

Akasia

Image by istockphoto.com