KURUNGBUKA.com – (21/03/2024) Peristiwa-peristiwa masa lalu memunculkan si bocah yang memiliki peran dan pesan. Pada saat dewasa, diri yang bocah adalah rujukan mengetahui seutuhnya. Namun, ingatan ke masa sebagai bocah memerlukan penafsiran yang datangnya terlambat.

Peristiwanya sudah terjadi tapi usaha memberi makna dilakukan beberapa tahun sesudah, yang kadang berlebihan atau mengalami penyempurnaan. Bagi yang mengingat dan menafsirkan, masa bocah tetap dijadikan permulaan nasib saat dewasa.

Toeti Heraty (1985) yang mengenang: “Sekali lagi, saya menduduki tempat marjinal, melihat anak-anak lain main bekel dan kasti, sedangkan saya menemukan pesona dalam dunia buku-buku. Rupa-rupanya posisi pengamat dan pesona buku telah merupakan persiapan seorang penulis, meskipun sama sekali tidak ada pemikiran atau keinginan ke arah itu.”

Si bocah bergaul dengan buku-buku tapi berusaha tetap lugu, tidak menampilkan dirinya yang memiliki obsesi. Ia justru sadar perbedaan peristiwa. Si bocah yang sebenarnya bisa bermain bersama teman-teman justru terpikat buku. Dirinya di jalan masa depan.

Pada masa dewasa, Toeti Heraty menulis sajak atau puisi. Di Indonesia, ia dianggap sosok penting dalam sastra. Pengakuan dan penghormatan diberikan berdasarkan puisi-puisi. Ia mengalami beberapa babak dalam menggubah puisi.

Toeti Heraty menerangkan: “Bila saya harus jujur sejujur-jujurnya, dorongan menulis saya muncul terutama karena rasa spontan dan penyebabnya tidak jelas, tetapi terasa sebagai keharusan.” Kita tidak mudah memahaminya. Yang tekun membuat puisi, yang menunaikan keharusan. Namun, pengalaman menggubah sajak itu menyisakan yang “tidak jelas”.

(Pamusuk Eneste (editor), 2009, Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang 3, Gramedia Pustaka Utama)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<