Tetasan Ke-1:
Aku melukis dengan cat sisa dan suara ibu yang mengeluh dari dapur.
Katanya, semut merah datang lagi.
Berbondong-bondong, berjejal-jejal. Hewan-hewan kecil yang mampu membikin kulitku merasa pedas gila itu konon berhamburan menjalar-jalar di setiap jengkal ruang kosong dalam rumah kami. Di gagang panci, di bawah lemari, di papan setrika, di balik lipatan sprei.
Semalaman penuh, aku melukis dengan cat sisa dan suara ibu yang mengeluh dari kamar mandi.
Ketika segala hal telah ibu lakukan: menutup celah-celah rumah, menyimpan makanan dengan rapat, menabur cabai, merica, atau lada di sudut-sudut ruangan, sampai menyemprot air lemon dan minyak peppermint ke barisan hewan-hewan berwarna merah cabai itu–seolah-olah seperti batu, semut-semut itu bahkan tidak menghentikan langkahnya sama sekali di dinding rumah kami.
Katanya, semut merah selalu datang untuk kembali.
Menggigit. Menggerogot. Mengikis-ngikis. Kik-kik-kik! Di kulitnya lekas muncul benjolan. Ukurannya besar-besar, sebanding dengan kerikil kali. Serupa pula warnanya dengan warna hewan mungil-mungil itu: merah menyala. Ibu membalurinya dengan minyak tawon sampai minyak goreng. Semua minyak ibu coba, dan hari-hari benjolan itu semakin bertambah di sekujur badan.
Ibu menyiram kawanan semut-semut itu dengan air sabun. Layaknya daun-daun pohon jengkol yang meranggas, terhempas angin, semut-semut itu kemudian luruh, rebah, dan jatuh ke tanah. Namun, tak lama antenanya bergerak-gerak, kembali merangkak. Melajukan kaki-kaki mereka di dinding secara serentak. Berderap-derap. Berderak-derak.
Hari ini, aku melukis dengan cat yang masih tersisa sedikit dan suara ibu yang mengeluh dari ruang tamu sedari pagi.
Katanya, semut merah tidak bakal mau mati.
Di dapur, di samping tumpukan cucian piring yang mengundang ribuan segala rupa serangga untuk mampir, ibu mengumpulkan beberapa semut-semut itu dalam plastik, kemudian dengan tatapan beringas dan penuh luapan dendam, ibu membakarnya di atas kompor. Tepat di samping tumpukan cucian piring yang mengundang ribuan segala rupa serangga untuk mampir.
Namun, katanya semut merah tidak bakal mau mati.
Ibu digigit. Kulitnya tiap hari muncul berbagai bentuk benjolan. Semut-semut itu menggigit. Menggerogot. Mengikis-ngikis. Kik-kik-kik! Dan, ibu selalu mengeluh dari balik dapur ketika aku sedang melukis pula membetulkan kontur-kontur yang kurang rapih. Namun, saat aku datang ke dapur – tepat di samping tumpukan cucian piring yang mengundang ribuan segala rupa serangga untuk mampir itu – kulihat ibu tengah berdiri. Menggaruk-garuk kulitnya. Membalurinya dengan minyak urut. Dan, dari ribuan segala rupa serangga yang mampir itu, aku sama sekali tidak melihat adanya keberadaan semut-semut.
Maupun ribuan segala rupa serangga yang mampir itu, seperti perkataan ibu. Aku tidak melihatnya.
Tetasan Ke-2:
Meski begitu, ibu merasa perlu, amat perlu untuk menyalahkan sesuatu atau seseorang, setidaknya supaya dirinya menjadi lega dan tidak terlibat banyak dalam permasalahan. Satu-satunya yang kemudian ibu salahkan ialah lukisanku. Termasuk aku, tentunya.
Lengannya semakin mirip dengan jalanan yang tidak diaspal: berkerikil dan berlubang-lubang. Tidak hanya lengan, namun juga telinga serta beberapa bagian wajah. Tetapi paling parah di bagian telinga. Untung saja, ibu masih bisa mendengar. Aku kehabisan akal untuk memikirkan bagaimana caranya semut-semut merah yang dikatakan ibu itu bisa menggigiti lengannya sedemikian rupa sampai naik-naik ke telinga. Aku merasa miris melihatnya. Namun, aku tahu, itu bukan ulah semut-semut. Atau segala rupa serangga lainnya.
“Ini salah semut-semut,” kata ibu sembari mencungkil-cungkil bekas lukanya di tangan bagian kanan. “Ya,” ia lalu menatapku tajam. “Semua ini salah lukisanmu.”
Aku menelan ludah. Dan memikirkan perkataan ibu setelah itu. Memang, pada dasarnya ini bukan ulah semut-semut. Tetapi ulah lukisanku. Begitulah ibu akan menyalahkan lukisanku yang tidak jadi-jadi dan mulai menggeser luapan dendamnya terhadap kanvas yang berdiri tegak di sudut kamarku itu.
Cat sisa ini sebentar lagi akan habis. Namun, suara keluhan ibu dari dapur, ruang tamu, kamar mandi, dan kamarnya sendiri, tidak akan pernah habis.
Agar lukisanku tetap terus berjalan, kugunakan sedikit demi sedikit suara keluhan ibu setiap hari dan aku mendapatkan bulir-bulir warna merah pekat–selaras dengan volume suara tersebut. Tergantung tingkat kenaikan vibrasinya. Jikalau ibu mengeluh dengan volume rendah dan suara terisak-isak, warna yang aku dapatkan adalah biru laut. Kadang biru langit. Jikalau ibu mengeluh dengan volume datar dan vibrasi yang sedang, warna yang aku dapatkan adalah abu-abu atau hitam batu.
Warna biru laut, kupakai tentu untuk melukis hamparan laut yang abstrak. Entah posisinya itu di atas, di samping, atau di kanan maupun kiri. Warna abu-abu yang aku dapatkan, kupakai untuk menggambar pola-pola tidak beraturan yang mengelilingi hamparan laut itu. Entah apa dan entah mengapa aku melukiskannya begitu. Pun, warna hitam batu, biasanya kupakai untuk melukiskan batu atau kontur burung-burung terbang. Namun, seringnya batu. Batu itu kulukis sebagai pusat utama dalam lukisanku. Di tengah-tengah hamparan laut dan pola-pola tidak beraturan yang mengelilingi hamparan laut itu.
Karena aku acap kali aku mendengar suara keluhan ibu dengan vibrasi tinggi, laiknya puncak gunung. Dan, disertai suara tendangan atau pecahan piring, maka warna merah yang mendominasi lukisan ini. Kadang kala cokelat kemerahan, tetapi merah pekat seringnya. Mirip warna gurita. Sehingga, aku menggambar sulur-sulur. Sulur-sulur besar yang keluar dari tengah batu-batu itu, hamparan laut itu, dan pola-pola tidak beraturan yang mengelilingi hamparan laut itu – lekuknya sengaja kubuat semu dan samar. Lalu kutimpa dengan beragam warna marak.
Mungkin, sulur-sulur yang kugores semalam atau malam-malam kemarin telah mengerami telur. Kemudian, tanpa kusadari, sulur-sulur itu diam-diam menetaskan telur-telur.
Anak-anaknya lalu merangkak menuju dapur.
Menuju ibu.
Tetasan Ke-3:
Kendati demikian, aku tidak mengerti mengapa sulur-sulur itu mampu menetaskan telur-telur yang melahirkan semut-semut. Apakah gurita beranak semut-semut?
Aku hendak bertanya pada Bu Guru. “Kau belum menyelesaikan tugasmu, Ani.” Tetapi Bu Guru malah mengalihkan topik pembicaraanku. “Kau harus menyelesaikannya. Ada banyak sekali tugas dan guru-guru yang mengeluh pada ibu.” Oh! Ternyata selain ibu yang suka mengeluh, guru-guru di sekolahku sama sepertinya pula. “Ibu kecewa dengan nilaimu yang turun drastis di semester ini.”
Aku merunduk. Tidak jadi menanyakan apakah gurita beranak semut-semut. Andai saja suara-suara keluhan itu, dari guru-guru lain atau Bu Guru sekalipun, bisa kubawa pulang dan kujadikan beberapa botol cat untuk projek lukisanku yang tidak jadi-jadi itu.
“Apakah ini…” Bu Guru menelan ludah. Tampak ada beberapa kata yang tercekat dalam gusinya yang semerah lipstik – terpoles di bibirnya hari ini. “Apakah ini… karena kau sering melukis, Ani?”
Aku terkesiap. Rasanya seperti ada delapan sulur yang mencengkeram jantungku lalu membikinnya meledak, dan… Muncrat! Namun, untungnya bukan muncrat keluar. Jantung itu hanya muncrat di dalam. Pecah. Kepingan-kepingannya lalu menyatu dengan darah, dan menjadi ingatan terburuk yang pernah ada.
“Bukan, Bu…” Aku menjawabnya dengan terbata-bata. “Bukan. Sama sekali bukan. Semua ini bukan salah lukisanku…”
Tetapi salah sulur-sulur itu. Aku memilih untuk tidak mengatakannya.
Tetasan Ke-4:
Kondisi ibu semakin miris. Kalau bisa kukatakan, mirisnya miris. Lebih miris daripada miris! Ah, aku sudah membawa ibu bolak-balik ke rumah sakit. Namun, tetap saja, ibu selalu dan akan selalu berkata bahwa ada gerombolan semut-semut seganas singa yang berderap-derap, menjalar di setiap jengkal rumah kami.
Aku melukis dengan sedikit cat sisa dan suara rintihan ibu dari dalam kamar.
Warna yang kudapatkan adalah warna yang paling terjelek sepanjang zaman. Atau sepanjang masa. Atau sepanjang bumi dan langit masih ada. Warna itu, oh, jelek sekali! Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan warna sejelek itu. Selama aku mengumpulkan suara-suara ibu untuk menghemat persediaan catku, aku selalu mendapatkan warna-warna primer yang dominannya terang, sesekali neon, dan mencolok laiknya alat pembersih kuping. Atau warna-warna gelap setelah bapak pulang bekerja. Memang, seringnya warna gelap. Namun, tidak seperti ini. Warna yang kudapatkan tidak pernah sejelek ini. Tidak. Tidak.
“Oh, no…” Kuas yang kupegang terjatuh. Aku tergeragap.
Semua ini salah sulur-sulur itu. Aku tahu. Aku tahu. Dan, aku tidak tahu mengapa aku melukis sulur-sulur itu. Termasuk batu-batu itu. Termasuk hamparan laut itu. Termasuk pola-pola tidak beraturan yang mengelilingi hamparan laut itu. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Namun, satu yang aku tahu: ibu pasti akan menyalahkan lukisanku. Sama seperti guru-guru di sekolahku. Sama seperti Bu Guru.
“Ini salah semut-semut,” desis ibu dari balik pintu kamar. Terdengar suara dencit ranjang kayu. Ibu pasti sedang kesusahan untuk menemukan posisi tidurnya ketika sekujur badannya telah dipenuhi luka. “Semua ini salah lukisanmu.” Aku terdiam. Menatap lukisanku. Semua ini salah lukisanku.
Aku mencoba untuk menghapus gambar sulur-sulur itu. Namun, ketika kuasku terangkat dari botol cat, warna yang kudapatkan adalah merah. Sama seperti ketika aku menggunakan suara keluhan ibu dengan vibrasi tinggi. Selain merah, warna yang kudapatkan adalah cokelat kemerahan. Ya, mirip warna gurita. Mirip warna sulur-sulur itu.
Dan yang kulakukan, tak lain pula tak bukan adalah menambah jumlah sulur-sulur itu di dalam lukisanku.
Telur-telur itu semakin banyak. Anak-anaknya lalu merangkak menuju ibu.
Terdengar derit pintu, aku menoleh. Ibu keluar bersamaan dengan suara rintihannya yang menyertai detak jarum jam. Aku melihat ke dinding: pukul setengah sembilan malam. Sebentar lagi, bapak akan pulang. Ibu harus pergi ke dapur. Menyiapkannya makan malam. Memasakkannya hidangan terenak. Membuatkannya kopi tanpa gula. Mendengarkan ocehannya tentang lukisan…
Aku menaruh kuasku, lekas menutup pintu kamar.
Bapak datang. Ia pergi menuju dapur, menengok ibu. “Kita harus memberhentikannya untuk sekolah. Percuma jika ia lulus dan menjadi pelukis miskin.”
“Aku sudah memberi tahunya berkali-kali, Pak. Namun…” Kugerakkan kuas itu, kulukiskan banyak sulur di dalamnya. Cat yang semula hanya ‘cat sisa’ dan jumlahnya tak seberapa, kemudian bertambah banyak. Botol-botol itu terisi penuh. Aku semakin bergairah melukis sulur-sulur itu dalam lukisanku.
“Ini semua salahmu.” Bunyi pecahan piring. Bunyi tendangan meja. Tanganku bergemetar. Kuas itu sempat terpeleset sejenak. Pola sulur yang tengah kubuat lantas menjadi miring sedikit. Hendak aku hapus pola yang salah itu, namun beberapa saat kemudian, pola itu bergerak sendiri. Menyatu dengan titik-titik cat. Lalu menjadi sempurna, seperti sedia kala.
Warnanya pun tambah menjadi merah menyala.
“Ini semua salahmu!” Rintihan ibu. Teriakan bapak. Sulur-sulur itu semakin banyak. Telur-telurnya menetas. Semut-semut lalu perlahan menggeliat-geliat dan luruh dari kanvasku. “Miskin! Miskin! Tidak punya cita-cita!” Kutekan kuas itu, semakin kutekan kanvasku lalu semakin menjadi lebar. Entah kekuatan apa yang tiba-tiba aku punya, namun aku senang kanvasku menjadi lebar, menjadi lebih besar! Itu tandanya, sulur-sulur yang kulukis harus bertambah banyak. Banyak, banyak, dan banyak!
“Aku sudah memberi tahunya…”
“Tapi, ini semua tetap salahmu! Seharusnya aku tidak menikahimu jika aku mengetahui ternyata profesi aslimu adalah pelukis! Pelukis miskin! Sialan!”
Semut-semut itu berjalan. Merayap-rayap di atas lantai kamarku. Sedang kulukis sulur-sulur lainnya di dalam kanvasku yang semakin melebar dan membesar, semut-semut itu melangkah dengan serentak dan berderap-derap tak ubahnya pasukan tentara. Mereka bahkan mampu menggulingkan meja belajarku. Menggulingkan ranjang tidurku. Lalu membuka pintu.
“Kau dan anakmu hanya akan menjadi beban! Beban! Beban! Beban!” Botol-botol catku terisi penuh. Saking penuhnya, botol-botol itu lekas tumpah dan membanjiri lantai kamarku, bersamaan dengan meluapnya semut-semut itu dari lukisanku. Kanvasku semakin melebar. Kanvasku semakin membesar. Aku terperangah. Kuasku lalu terjatuh dan tenggelam di antara cat pula kawanan semut itu. Lekas kulihat lukisanku, sulur-sulur itu lalu keluar dan membentangkannya di atas diriku. Dari lubang-lubangnya, sulur-sulur itu mengeluarkan telur. Lalu menetaskannya. Lalu melahirkannya.
Aku terdiam, kemudian aku merasa ada setitik air hangat yang mendarat di pipiku. Sulur-sulur itu serta-merta mengusap pipiku, wajahku, bahkan rambutku, dan berkata, “Ini semua bukan salahmu.” Dan, aku ditariknya masuk oleh sulur-sulur itu ke dalam lukisanku sendiri. Aku terperangkap.
Dari dalam lukisan, aku mendengar suara tamparan. Sesudah itu, aku tidak lagi mendengar suara rintihan ibu, melainkan dengung para semut yang seperti membuat orkestra perang dunia. Hewan-hewan itu kemungkinan besar sudah sampai ke ruang tamu. Kulihat sulur-sulur yang membentang dari dalam lukisanku itu masih mengeluarkan telur. Kemudian menetaskannya. Melahirkannya. Melahirkannya. Melahirkannya. Dan, melepaskan semut-semut, kecoak, kelabang, kalajengking, ulat bulu, laba-laba, kaki seribu…
Segala rupa serangga itu lalu merangkak menuju dapur.***
*) Image by istockphoto.com
















