KURUNGBUKA.com – Setiap pagi, kota ini riuh sekali—Medan dengan segala teriakan, kendaraan dan ketaksabaran yang berserakan. Setiap di perempatan, saya melambatkan kendaraan, ada sepasang pasutri tua yang berkendara dari arah kanan, lambat & saya mempersilakannya lewat duluan. Lalu yang laki-laki tersenyum, yang perempuan juga menatap kepada saya seolah mengatakan “Terima kasih, Nak.” … momen itu membuat hari saya terasa lebih hangat, hari yang mulanya riweh, riuh & suntuk sekali—dilumerkan dengan tindakan sederhana yang apa adanya.
Beberapa waktu lalu saya menonton Perfect Days (2023)—film yang tak banyak bicara, namun membekas. Tindakan-tindakan tokoh utama dalam film ini mengajarkan saya: bahwa “jangan mengambil masalah”. Misal pada scene tokoh utama mendapati seorang anak perempuan menangis di toilet, lalu membawanya keluar dari sana & ternyata seketika tokoh utama serta anak tersebut bertemu dengan ibu anak tersebut. Alih-alih mengucap terima kasih karena anaknya telah ditemukan oleh sang tokoh utama, ibu tersebut malah membersihkan tangan anaknya; mungkin karena mengira anaknya terkena kotoran dari tokoh utama yang pekerjaannya adalah membersihkan toilet. Yang membuat terkesima ialah respons tokoh utama: tersenyum, tidak marah-marah dan merasa senang karena anak tersebut telah bertemu dengan ibunya.
Mungkin itu yang saya sebut: jangan mengambil masalah.
Sebagai guru, seringkali saya “mengambil” masalah yang tak semestinya: nilai anak rendah, adab anak kurang ajar, merasa tidak didengarkan, anak berbicara ketika saya menjelaskan materi, anak tidak mengerjakan tugas, anak bercanda berlebihan dan lainnya. Semua itu dapat saja saya “ambil” sebagai masalah. Namun setelah dipikir ulang: itu semua ada di luar kendali saya. Akhirnya saya hanya bisa mengendalikan apa-apa yang ada dalam diri saya, sesuatu yang tumbuh sekaligus mekar dalam fisik-psikis saya. Ketika fisik-psikis saya merasa lelah—saya selalu mengingat kejadian di pagi itu: saya mempersilakan sepasang pasutri tua untuk jalan duluan. Hati saya seketika hangat & berpikir lagi: bahwa saya masih “manusia”.
Yang bisa saya kontrol sepenuhnya adalah diri saya sendiri. Diri yang sadar memiliki pandangan, sikap & hal-hal yang telah berlalu.
Guru, ialah, mereka yang menanam benih “rasa ingin tahu” sampai mati kepada seorang manusia atau teman bercakap, berdiskusi & bercanda untuk seorang manusia … apa pun itu, saya selalu terharu menonton film-film yang berkaitan dengan guru. A Man Called Otto (2022), misalnya. Ada satu scene yang paling saya ingat; ketika penjual koran menemui Otto & berkata “Hanya ia yang menghargai saya di kelas (menerima si anak bahwa gendernya berbeda).” … ia dalam dialog tersebut adalah istri Otto yang merupakan guru sastra. Dari situ pula kita melihat “sastra” menjadi sikap, hasil membaca yang menelurkan cara pandang yang inklusif, on point sekaligus berdampak bagi orang lain. Dalam dialog sederhana itu tergambar jelas bahwa guru adalah manusia yang kompleks—bukan memberikan ilmu, karena semua anak telah memilikinya, namun lebih kepada: bagaimana bersikap dalam dunia yang kompleks, rapuh & indah ini. Sikap itu yang mesti ditunjukkan dalam ruang kelas, karena ruang kelas bukan sekadar ruangan—melainkan simulasi dunia sesungguhnya, dunia yang utuh.
Atau dari Dead Poets Society (1989) yang membuktikan bahwa guru memiliki peranan yang penting, bagaimana guru mampu melihat “arus” lain dari pendidikan & setiap anak memiliki hasrat untuk bertindak. Yang paling penting dari film itu adalah setiap anak dilahirkan dengan bakatnya masing-masing & setiap anak “memang” harus berbeda dari yang lain. Ketika sang guru menyuruh menyobek buku pelajaran, belajar di luar kelas, membacakan puisi dengan mengaitkan dengan kehidupan—semuanya adalah sikap guru yang penting, autentik & mesti. Dalam film ini, puisi bukan sekadar teks, melainkan sebuah hal yang “dialami” sehari-hari, merasuk dalam tindakan setiap orang & hidup dalam diri kita masing-masing. Misal dalam dialog “Find your own path, even if it leads you away from the crowd.” … setiap keputusan memiliki risiko & itulah hidup: sebuah kesempatan yang tak pernah datang dua kali.
Setiap pagi, kota ini riuh sekali—Medan dengan segala teriakan, kendaraan dan ketaksabaran yang berserakan. Namun ada sesuatu yang masih membuat saya tersenyum: daun yang jatuh, suara air hujan, senyum seorang anak kecil & menangis, ya, menangis: memiliki iba hati.
Medan, 2026












