Jalan tanah itu seperti ular yang terlalu lama tersengat matahari—kering, retak dan berdebu. Mobil dinas berwarna abu rokok berhenti mendadak ketika suspensinya tidak sanggup menelan lubang berikutnya. Jenar menegang di kursinya, menyimpan tangannya yang kini bergetar halus ke dalam saku rompi.
“Sudah dekat, Mbak Jenar,” kata sopir, seorang pria muda bernama Bagas yang hari ini ditugaskan untuk mengantar. “Tapi kok saya tidak lihat papan desa, ya?”
Jenar menjawab ringan, “Kalau di daerah sini, biasa, Gas.”
Padahal ia tahu, meski tidak sepenuhnya paham, bahwa tempat yang ditandai di peta itu tidak pernah benar-benar ada. Titik itu tidak muncul di Google Maps, tidak ada di arsip kecamatan, tidak pula di buku registrasi desa. Titik itu hanya muncul di surat perintah. Surat itu berisi satu poin penting: Verifikasi laporan wabah. Tidak ada sinyal di lokasi. Warga melapor lewar kurir. Itu saja.
Angin berembus, membawa aroma getah pinus dan lembab tanah yang terlalu lama tidak dijejaki kendaraan. Ketika mobil kembali berhenti, sebuah gapura kayu keropos tampak berdiri terkulai, tanpa tulisan apa pun. Entah itu pintu masuk desa, entah penanda tanah kosong milik warga.
“Aneh,” gumam Bagas. “Harusnya ada nama desa.” Ia tiba-tiba merasakan bulu kuduknya merinding, dengan mata awas ke kanan dan kiri jalan.
Jenar tertawa pelan, lalu membuka knop pintu. “Sebentar, biar saya cek.”
Begitu turun, Jenar merasakan sepatunya menyatu dengan lumpur. Ah, mungkin hujan baru saja turun di daerah sini, pikirnya. Jalan setapak membelah semak, menuju deretan rumah kayu yang tampak lebih rapi daripada desa pedalaman pada umumnya. Dindingnya tidak lapuk. Atapnya tidak bocor. Bahkan kaca jendelanya bersih—terlalu bersih. Seseorang menyambut di ujung jalan. pria berusia sekitar empat puluh, mengenakan baju lusuh dan topi anyaman.
“Ada yang bisa saya bantu?” katanya dengan senyum yang nyaris tidak terukir, seolah mencurigai kedatangan Jenar yang tiba-tiba. Matanya menatap dengan curiga.
Jenar mengulurkan tangannya. “Saya Jenar Pratiwi. Saya menerima laporan adanya gejala seperti wabah. Bisa tunjukkan saya warga yang terdampak?”
Ia tampak ragu dua detik sebelum menjawab, “Saya Suryo, tapi kami tidak terima tamu tanpa pemberitahuan dulu.”
“Sudah dikirimkan melalui dinas, ini tugas resmi.” Jenar menyerahkan surat perintah tugas kepada pria bernama Suryo itu. Takut-takut menatapnya dan sudah bersiap akan diusir sekarang juga.
Suryo menatapnya lama, lalu mengangguk setelah menangkap tinta stempel yang familiar di atas tanda tangan seseorang. “Ikut saya,” titahnya.
Rumah pertama yang mereka masuki tampak aneh. Tidak ada bau khas rumah desa, tidak ada asap kayu, tidak ada tikar anyaman, tidak ada suara ayam. Di sudut ruangan berdiri sebuah lemari logam—benda yang sangat tidak selaras dengan suasana pedalaman. Seorang wanita muda berbaring di dipan bambu, tubuhnya pucat, tetapi matanya terlalu jernih untuk orang sakit.
“Ini Bu Ayu,” kata Suryo. “Sudah tiga hari demam.”
Jenar mendekat, berusaha menetralisir kecurigaannya. “Boleh saya periksa?”
Ayu mengangguk samar, namun saat Jenar hendak menyentuh pergelangan tangannya, wanit aitu justru berbisik dengan suara pecah, “Bu… tolong… bawa saya keluar dari sini. Ini bukan desa…”
Suryo tertawa kecil. “Ngigau. Sudah tiga hari dia begitu.”
Tetapi Jenar melihat hal berbeda, ada tanda memar biru keunguan di lengan Ayu, membentuk pola bulat yang terlalu presisi, seperti bekas cuff alat medis. Bukan wabah. Bukan penyakit misterius.
Jenar kemudian mulai mengelilingi desa itu dengan hati-hati di bawah pengawasan Suryo. Dua jam terasa amat melelahkan dan semakin banyak hal tidak wajar muncul. Warga yang tampak terlalu tenang. Anak-anak tanpa suara. Rumah yang hampir identik satu sama lain. Dan memar sejenis di titik yang sama membekas hampir di semua subjek.
“Saya harus bawa mereka ke rumah sakit,” ujarnya terbata.
Suryo mengerutkan kening. “Tidak. Sudah ada dokter yang bertugas di sini.”
“Tapi… ada terlalu banyak pasien di sini.” Beberapa warga akhirnya memusatkan perhatian mereka ke dua orang yang sedang berdebat. Berharap cemas agar permintaan Jenar dikabulkan—meski sepertinya mustahil.
“Anda hanya peneliti, Nona Jenar. Dokter jelas lebih tahu kebutuhan mereka.”
Jenar menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya kembali bergetar. Ia benar-benar gugup sekarang. “Rumah sakit punya fasilitas lengkap dan—“
“Pergilah sebelum kau diusir.”
Jenar menghela napas berat dan baru sadar ada sekitar sepuluh pria berbadan besar di setiap sudut yang siap menyeretnya kapan saja. Ia terpaksa berjalan mundur dan meminta pertolongan Bagas yang masih menunggu di luar. Warga menundukkan kepala lemah. Harapan mereka kembali pupus.
Di luar semakin gelap. Ia menghidupkan senter dari ponsel untuk kembali ke mobil. “Gas,” katanya cepat. “Ada sesuatu yang janggal di sini, kita harus—”
Tapi Bagas tidak ada. Pintu mobil terbuka. Tasnya tertinggal di kursi belakang. Di tanah, ada jejak kaki diseret menuju kebun pinus. Jenar menahan napas. Tangannya tremor lagi—kali ini tidak ia sembunyikan. Sebuah suara terdengar dari balik pohon.
“Mba Jenar…” Itu suara Bagas. Lemah. Tercekik.
Jenar berlari tanpa berpikir. Ia menemukan Bagas terikat di pohon, dengan seorang pria bertubuh besar berdiri di sampingnya. Wajahnya asing, sepertinya bukan warga desa tadi. Pria itu mengenakan rompi tak bertanda, seperti paramedis, tapi tidak ada logo.
Jenar mundur setapak. “Siapa Anda?”
Sebelum pria itu menjawab, seseorang memukulnya dari belakang. Gelap.
Ketika Jenar sadar, ia berada di ruangan yang berbeda. Bukan rumah desa, melainkan bangunan beton kecil berlampu redup, seperti klinik darurat. Tangan dan kakinya diikat ke kursi. Tremor tangannya semakin kuat dan ia berusaha mati-matian untuk menghentikannya.
Kepalanya masih terasa berat, tapi ia memaksakan diri untuk mengedarkan pandangan lebih luas lagi. Menyadari bukan hanya dirinya yang dikurung bersama tiga pelaku itu, tapi juga Bagas dan wanita desa tadi, Ayu. Keduanya tampak lebih dulu bangun dan kini menatapnya dengan harap. Di hadapan mereka, berdiri tiga orang. Suryo, pria berbadan besar dan wanita berjas lab putih—berusia sekitar tiga puluhan, wajahnya keras dan tampak cerdas.
“Selamat datang, Bu Jenar,” ucap wanita berjas putih itu dengan senyum lebar, seolah sudah lama menantikan kehadirannya. “Saya Kania, dokter penanggung jawab di lokasi wabah ini.”
“Bohong!” Ayu berteriak. Matanya memerah penuh amarah, menggelengkan kepala keras berusaha meyakinkan Jenar. “Dia adalah penjahat! Setiap hari kami disuntik dan dipaksa meminum pil itu.”
“Pil?” tanya Bagas. Anak itu tampaknya tidak berani terlalu banyak bicara.
“Ya. Itu adalah pil beracun! Kata mereka, itu adalah vitamin, tapi suamiku jadi mati setelah meminumnya. Aku dengar sendiri dari mulut pengawal gadungan itu.”
“Hei, jaga bicaramu!”
“Aku bersumpah, Bu Jenar! Aku dan suamiku datang atas tawaran mereka menjadi pemeran figuran, tapi kami tiba-tiba dikurung selama berminggu-minggu di sini!” Ia berteriak hebat dengan sisa-sisa tenaganya, sebelum akhirnya dibungkam paksa oleh pria berbadan besar dengan tiga tamparan keras di pipi.
Jenar mengangkat sebelah alisnya. Teka-teki ini perlahan terjawab. Ayu dan suaminya adalah pemain bayaran yang terjebak, dia menguping pembicaraan Suryo, mereka dikurung di lokasi penelitian ini dan kemungkinan, dan dialah sosok yang mengirimkan surat lewat kurir yang entah bagaimana bisa sampai ke kantornya.
Tali di tanganya mulai merenggang saat ia merasakan seseorang dari belakang perlahan melepas ikatannya. Wanita itu mendengus setelah mendapati kedua tangannya bebas.
“Bagaimana bisa?” Tatapannya menusuk ke arah Suryo. “Bagaimana bisa kau membiarkan perempuan jalang ini mendengarkan ucapanmu, Suryo?”
Dokter Kania berdiri tegang, hilang sudah raut sombongnya. Suryo, Ayu dan Bagas kompak menoleh heran.
“Ah…” Mimik wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat. “Aku memang sudah tidak menyukaimu sejak awal.” Satu detik. Dua detik. Ia mencekik kuat leher pria tua itu sebelum bertitah, “Bawa dia ke ruang isolasi dan kirim sisa gajinya hari ini juga.”
Suryo diseret paksa oleh dua pengawal yang menunggu di arah pintu.
“Bu Jenar…”
“Benar, Ayu. Aku pemilik tempat ini. Aku yang mendesain dan menulis protokol penelitian. Termasuk proyek gagal yang membuat tangan kananku sering tremor.” Ia menghampiri Ayu yang masih terduduk di lantai. Membungkukkan tubuhnya, meraih dagu wanita itu dengan tangan kirinya. “Aku turut prihatin dengan kematian suamimu.”
“Kau monster!”
Jenar menatapnya tanpa perubahan raut, lalu mengangguk setuju. “Bawa dia ke ruang observasi.”
Dokter Kania mengangguk. Mengistruksi dua penjaga untuk menyeret Ayu ke ruangan serba putih. “Baik, Bu Jenar. Jadwal uji tahap berikutnya menunggu.”
“Perketat keamanan. Jangan sampai ada surat yang masuk ke dinas. Apalagi petugas bodoh yang membocorkan rencana dan hampir membunuhku dengan pukulannya.”
Jenar keluar dari ruangan. Menatap gemerlap bintang, angin membawa suara-suara samar dari desa itu. Lampunya kuning dan hangat, seperti rumah. Tetapi bagi Jenar, hanya satu hal yang berarti: eksperimen berjalan sesuai rencana. Dan ia melangkah kembali ke barak penelitian, tanpa satu pun tremor tersisa.
*) Image by istockphoto.com











