Sungguh malang nasibnya. Di usia anak saya yang baru menginjak enam tahun, tubuh kecilnya sudah harus menanggung sakit yang begitu hebat, seolah-olah beban yang biasanya hanya bisa dipikul oleh orang dewasa dipindahkan ke raga mungilnya tanpa ampun. Setiap hari, Anita menjalani hari-hari dalam perih yang tak pernah betul-betul reda, dan saya hanya bisa mendampingi, menyaksikan dengan hati remuk bagaimana ia berjuang melawan penyakit yang begitu setia menempel di tubuhnya.
Tangisan dan rengekan sudah menjadi latar belakang hidup kami sehari-hari, suara lirih yang mengiringi setiap pagi, siang, bahkan malam hari. Tapi akhir-akhir ini, suara itu bukan lagi tangisan pelan yang hanya menggoda kesedihan, melainkan sudah menyerupai jerit yang menggema nyaring. Suaranya yang dulu pernah ceria seperti anak-anak lainnya, kini tak lagi terdengar, yang tersisa hanyalah keluhan yang panjang dan dalam, mengguratkan luka di hati saya setiap kali ia memanggil saya dengan suara yang nyaris habis.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, saya masih di sini, duduk di kursi kecil di samping ranjangnya. Menunggu ayahnya pulang membawa lima puluh balon seperti biasa. Rindu perlahan muncul, tapi lebih dari itu, ada rasa tak sabar yang tumbuh—rasa tak sabar di dada saya untuk meniup balon lagi hari ini. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk Anita sekarang, meski hanya meniupkan udara ke dalam balon tipis yang warnanya cerah.
Andai saja Anita tidak terbaring sakit seperti ini, saya pasti tidak akan meniup balon sebanyak itu. Tapi kini, kamar yang dulu lapang dan biasa saja telah dipenuhi balon, menyentuh langit-langit, menyempil di sudut-sudut, mungkin sudah ratusan jumlahnya. Semua ini bermula dari satu pertanyaan sederhana yang saya lontarkan pada suami saya suatu malam, tentang Anita dan surga.
Apa hubungannya balon-balon dengan Anita, dan apa kaitannya semua ini dengan surga?
Suami saya namanya Mino, saya memanggilnya dengan penuh kasih sayang. Mas Mino terlihat kebingungan saat hari itu saya habiskan dalam kesedihan dan dikelilingi oleh tangisan Anita yang tak pernah berhenti memenuhi ruangan. Anita sedang kesakitan. Ia tak boleh terus seperti ini, menangis sepanjang hari. Saya merasa sudah waktunya Tuhan membawanya ke surga. Sudah cukup saya menahan nyeri yang menusuk dada setiap kali mendengar tangisannya yang memilukan. Dan dalam keputusasaan itu, di tengah rasa yang tak tahu harus berbuat apa lagi, saya menoleh ke arah Mas Mino dan bertanya.
“Mas, surga itu di mana?”
“Di langit,” jawabnya pelan, sambil menatap wajah saya yang pucat karena kelelahan.
“Kalau begitu, apakah Anita bisa sampai ke sana?”
Wajah Mas Mino tampak resah. “Itu semua rahasia Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan berserah.”
“Kalau saya sendiri yang mengantar Anita ke sana, bagaimana? Apakah Tuhan akan marah?”
Mas Mino jelas terkejut dan spontan menoleh, sorot matanya langsung berubah tegang. “Kamu bicara apa sih? Kamu enggak waras?”
“Bukan begitu maksudnya,” saya buru-buru menjelaskan. “Saya cuma… saya ingin menerbangkan Anita ke langit. Ke arah surga.”
“Dengan apa?” tanyanya curiga.
“Dengan balon udara, seperti yang sering saya lihat di acara televisi, yang terbang tinggi seperti di Cappadocia.”
Namun mengingat kondisi kami yang miskin dan pas-pasan, saya segera mengurungkan niat itu dan memikirkan cara lain. Saat itulah mata saya menangkap balon bundar berwarna merah, balon yang tadi siang dibelikan Mino untuk Anita sedang tergeletak di tengah rumah.
“Dengan balon itu saja, Mas.”
Mino terbelalak. “Satu balon mana mungkin bisa membawa Anita terbang ke surga?”
“Saya bisa tiup sebanyak apa pun, Mas. Seratus, dua ratus, seribu sekalipun. Asal Mas bersedia terus membelikan balon dan mengizinkan saya menerbangkan Anita ke langit. Supaya dia bisa segera bertemu Tuhan…. agar dia bisa sampai ke tempat di mana tak ada lagi rasa sakit.”
Sejak hari itu, Mas Mino tak melarang dan tak bertanya lagi. Ia hanya diam lalu keesokan harinya pulang membawa sebungkus balon baru. Dan sejak saat itu pula, saya terus meniup balon setiap harinya tanpa henti. Dari pagi hingga malam bahkan ketika tubuh saya mulai melemah dan napas terasa pendek. Mungkin Mas sudah bosan, atau diam-diam muak, karena tiap kali pulang kerja, permintaan saya tak pernah berubah: belikan balon lagi, Mas. Belikan balon lagi untuk Anita.
***
Hari ini, setelah saya hitung-hitung, jumlah balon di kamar kosong sudah lebih dari enam ratus. Mas Mino baru saja pulang membawa lima puluh balon lagi. Seperti biasa, hari ini saya akan meniup semuanya, berharap agar Anita, anak tercinta saya bisa segera terbang dan menjadi penghuni surga.
Tapi kali ini, Mas Mino tidak hanya membawa lima puluh balon dengan warna-warni cerah. Ia juga datang bersama seorang perempuan berpakaian sangat rapi. Sesaat saya sempat berpikir yang bukan-bukan. Apakah Mas Mino berselingkuh? Tapi cepat-cepat saya mengusir pikiran itu. Mas Mino laki-laki yang baik, ia selalu bilang sangat mencintai saya dan saya percaya padanya.
Perempuan itu lalu duduk di samping saya, saat saya tengah bersiap meniup balon. Raut wajahnya tenang, senyumnya lembut, dan dari cara duduknya, saya tahu ia bukan orang sembarangan. Ternyata benar, ia orang baik. Namanya Mita. Ia teman sekantor Mas Mino.
“Boleh saya bantu meniup beberapa balon?” tanyanya, menawarkan diri.
Sebenarnya saya ragu meminta bantuan dari tamu yang baru pertama kali datang ke rumah. Tapi sebelum saya menjawab, Mita berkata, “Bukankah kamu ingin Anita segera sampai ke surga? Kalau aku bantu, balonnya bisa lebih cepat selesai ditiup, dan Anita bisa segera terbang ke sana.”
Perkataannya masuk akal. Maka tawaran itu saya terima dengan senang hati.
Hari ini bersama Mita, saya meniup balon sebanyak mungkin. Rasanya hangat sekali mengetahui ada orang lain yang peduli pada anak saya. Sedangkan di dapur, Mas Mino masih sibuk menyiapkan minuman untuk disuguhkan kepada Mita, sambil juga menyiapkan makanan untuk Anita, anak kami yang kami cintai sepenuh hati.
Tangis Anita belum juga reda. Air matanya masih terus mengalir. Pasti sakit sekali rasanya. Tenang, Nak. Mama akan meniupkan balon lebih banyak lagi, supaya kamu bisa cepat pergi ke langit menemui Tuhan dan tidak merasakan sakit ini lagi. Tangisanmu yang jernih ini, Anita, suatu hari akan menjadi surga itu sendiri.
Tanpa disangka, saya cepat merasa dekat dengan Mita. Sejak tadi kami banyak berbincang sambil meniup balon, dan sekarang pun masih terus berbicara. Saya, Mas Mino, Anita, dan Mita sedang menikmati makan cemilan bersama di lantai, beralaskan tikar yang digelar sederhana. Untung saja, Mita orang yang ramah dan tidak keberatan jas putih panjangnya menjadi kotor karena duduk lesehan bersama kami.
Kami membahas banyak hal. Mita begitu ingin tahu soal balon-balon itu, ia bertanya sudah ada berapa banyak jumlahnya, kenapa saya meniupkannya untuk Anita, dan bahkan menanyakan kabar saya dari waktu ke waktu. Mita benar-benar orang yang baik. Semua pertanyaannya saya jawab dengan hati terbuka, karena saya merasa sangat berterima kasih atas bantuannya tadi yang sudah mau meniup balon bersama saya.
“Kamu mama yang kuat dan hebat untuk Anita. Kamu juga punya suami yang luar biasa baik. Aku pamit pulang ya. Karena kita sudah akrab, rasanya tak masalah kalau aku sering mampir ke sini,” ucap Mita sebelum akhirnya berpamitan.
Saya menyambutnya dengan hangat. Orang sebaik dia tentu saya terima dengan senang hati, apalagi ia begitu tulus membantu saya meniup balon dan tak henti memberikan nasihat serta semangat agar saya tetap kuat menjaga Anita yang sedang sakit parah. Lagi-lagi saya tak enak hati mengingat jas putihnya yang kotor sepulang dari sini. Maafkan saya, Mita.
***
Malam itu, Anita kembali menangis kencang. Meski kali ini tangisannya tidak sekeras biasanya. Kalau biasanya tangisannya mencapai seratus persen, kali ini mungkin hanya tujuh puluh lima. Tapi tetap cukup untuk membangunkan saya dan Mas Mino dari tidur kami yang lelap.
Air mata bening terus mengalir dari matanya yang sipit dan bersih. Saya tahu, pasti rasa sakitnya luar biasa. Rasanya hati saya ikut tercabik melihatnya seperti itu. Saya ingin sekali meniup balon saat itu juga, meskipun di tengah malam, berharap Anita bisa segera terbang dan bertemu Tuhan. Tapi Mas Mino menghentikan niat saya. Ia memeluk saya erat, lalu beralih menenangkan Anita sampai tangisnya perlahan reda.
“Sudahlah, besok saja. Mas janji akan bawa dua ratus balon. Mas janji, nanti pas pulang kerja pasti Mas bawakan. Sekarang kamu harus istirahat ya,” ucapnya pelan. Saya hanya mengangguk pelan. Setelah itu, saya memeluk Anita mencoba memberinya kehangatan agar ia tak lagi merasakan sakit.
Begitu Anita tertidur lagi, dan Mas Mino pun sudah terlelap di kamar dengan wajah lelah yang begitu jelas terlihat, saya bangkit dan menuju kamar sebelah. Kamar kosong yang sekarang penuh dengan ratusan balon yang sudah saya tiup. Saya mengambil gulungan tali panjang yang kemarin dibeli Mas Mino. Malam itu juga, saya mulai mengikat satu per satu balon, menyatukannya dalam barisan panjang yang siap diterbangkan. Tangis Anita tadi masih terbayang-bayang, dan rasanya hati saya tak sanggup menunda lebih lama.
“Maaf, Mas. Saya harus lanjutkan malam ini. Ini semua untuk Anita.”
Tepat pukul empat pagi, semua balon selesai saya ikat. Setiap bagiannya sudah terhubung dengan tali panjang, siap digunakan kapan pun waktunya tiba. Saya tak sanggup kembali ke kamar melihat Anita. Wajahnya yang tadi menahan sakit terus terbayang. Dada saya sesak. Saya yakin, semua ibu pasti mengerti perasaan ini, bahkan ketika anak hanya demam biasa, rasanya sudah cukup membuat hati remuk. Apalagi saat seperti ini, ketika kesakitan itu nyata dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk meringankannya.
***
Mas Mino pulang dari kantor membawa dua ratus balon seperti yang dijanjikannya, lalu ia mendapati saya masih sibuk sendiri di kamar yang sudah penuh dengan balon. Saya belum berhenti, masih terus menyusun tempat berbaring dan keranjang yang lembut agar Anita bisa tidur dengan nyaman dalam perjalanannya menuju surga. Bau tak enak mulai memenuhi ruangan karena beberapa balon pecah tanpa sengaja, dan saya hanya bisa berharap tetangga tidak curiga dan rencana ini tidak berantakan karena hal kecil seperti itu.
Siangnya, tangisan Anita terdengar lebih nyaring dari biasanya. Saya sudah berusaha keras menenangkannya. Kuberi Anita makanan, pelukan, hingga ciuman sayang, tapi Anita tetap menangis, suara tangisnya seperti menandakan bahwa rasa sakit itu belum mau pergi.
Anakku yang malang, tunggulah sebentar nak. Mama hampir selesai menyiapkan semuanya. Begitu dua ratus balon ini selesai mama tiup, kamu akan segera terbang tinggi dan mencium bau surga.
Maafkan mama, Anita. Mama memang lambat menyelesaikan tiupan ini. Tapi mama janji, semua akan selesai secepatnya.
Saya kembali menyiapkan keranjang empuk, tempat Anita akan dibaringkan sebelum ia terbang. Namun sekonyong-konyong saya menyadari ada sesuatu yang aneh, hari ini Mas Mino tidak membantu sama sekali. Ia hanya duduk diam dan tidak ikut menyiapkan atau meniup balon seperti biasanya, benar-benar aneh.
Ketika semuanya hampir selesai, suara tangisan Anita makin jelas terdengar, makin keras, hampir mencapai sembilan puluh enam persen volume suaranya. Saya tahu, jika sudah setinggi itu, berarti tubuhnya sedang dilanda rasa sakit yang luar biasa.
Lagi dan lagi, kenapa Mas Mino hanya diam saja di sudut ruangan, duduk seperti orang yang kehilangan arah? Kalau rencana saya ini sampai gagal karenanya, saya benar-benar akan marah.
Tanpa pikir panjang, saya menggendong Anita dan membaringkannya di atas keranjang yang sudah disiapkan. Air mata saya jatuh saat melihat wajah manisnya tampak tenang berbaring di situ. Kenapa Mas Mino tidak mau melihat ini bersama saya? Kenapa dia tak mau menyaksikan keindahan putri kecil kami untuk terakhir kalinya?
Lalu saya mengambil tali panjang yang sudah terhubung ke ratusan balon, dan mulai memasangkannya ke sisi-sisi keranjang. Satu per satu saya pastikan simpulnya kuat, mengikatnya erat agar keranjang tidak goyah. Setelah semua terpasang, saya tarik tali terakhir, dan perlahan mengaitkannya ke bagian samping. Tak sadar bahwa jari saya ikut terselip, ikut terikat saat saya menariknya lebih kencang, lalu menekuknya agar tak mudah lepas. Saya hanya ingin semuanya kuat. Saya hanya ingin Anita bisa pergi dengan aman.
Tapi ketika saya menarik tali itu satu kali lagi, keranjang itu justru bergerak. Perlahan. Lalu naik. Saya masih menggenggam bagian talinya, mungkin terlalu kuat. Saya mengira bisa melepaskannya setelah memastikan semuanya stabil. Tapi balon-balon itu tak menunggu. Mereka mulai terangkat lebih cepat dari yang saya perkirakan. Saya masih ingin melepaskan tangan saya, tapi tidak bisa. Tangan saya malah menyatu dengan ikatan tali. Kaki saya pun sudah terangkat.
Saya masih sempat menoleh ke bawah. Anita masih terbaring diam di dalam keranjang. Tapi sekarang, posisi saya sudah lebih tinggi dari keranjang itu. Balon-balon itu tidak membawa Anita. Mereka malah membawa saya.
Saya ingin menjerit. Ingin memanggil nama Mas Mino. Tapi suara saya hilang, tersangkut di tenggorokan yang kian sesak. Saya tidak lagi menggenggam tali itu, tetapi justru tali itulah yang menggenggam erat tangan saya. Mata saya terbuka lebar. Dan perlahan saya sadar, sayalah yang akan diterbangkan. Saya melihat ke bawah. Anita kini menangis kencang di pelukan Mas Mino. Tangisnya yang semula terdengar keras, kini perlahan menghilang, semakin kecil seiring tubuh saya naik meninggalkan mereka. Rumah kami terlihat mengecil, makin lama makin kabur, hingga akhirnya hanya menjadi titik kecil yang begitu jauh.
Tuhan… bukan ini yang saya rencanakan. Bukan saya yang seharusnya Kau bawa. Balon-balon ini bukan untuk saya.
Saya menatap balon-balon di atas kepala saya—warna-warni yang sebelumnya saya tiup dengan harapan, kini hanya menyisakan marah dan penyesalan. Saya ingin mencabut tali-tali ini, ingin kembali ke bawah. Tapi saya tak bisa apa-apa. Tangan saya terlalu erat terikat dan langit terlalu cepat menelan tubuh saya.
Maafkan mama, Nak. Selama ini mama hanya bisa mewariskan rasa sakit dan penyakit.
Seharusnya mama bisa menjagamu. Harusnya kita berdua pergi dengan balon-balon ini, melayang bersama ke langit biru yang tenang. Mama janji, Nak. Mama akan menunggumu di surga. Karena mama percaya, rasa sakitmu akan reda di sana. Dan balon-balon ini akan segera datang menjemputmu. Mama juga percaya, setiap balon yang kutiup dan saya embuskan adalah doa. Dan mungkin, di antara ratusan doa itu, ada satu yang akan benar-benar menjemput Anita kelak menuju surga.
*) Image by istockphoto.com












