KURUNGBUKA.com, YOGYAKARTA – Siapa tak kenal Tablo? Bagi pencinta musik Korea, nama ini tentu tak asing. Ia bukan sekadar rapper dan penulis lagu. Tablo adalah sosok yang memahami betul bagaimana mengubah luka menjadi sebuah mahakarya. Bersama Epik High, grup hip-hop yang ia dirikan pada 2003 bersama Mithra Jin dan DJ Tukutz, ia meramu lirik-lirik yang tak hanya tajam, tapi juga penuh empati.
Perjalanan Epik High dimulai dari akar underground hingga panggung-panggung dunia. London, Sydney, New York, bahkan Coachella, di mana mereka mencatat sejarah sebagai grup Korea pertama yang tampil pada 2016, dan kembali lagi tahun ini. Jarang sekali grup hip-hop bisa bertahan selama itu. Epik High tetap relevan karena satu alasan: kejujuran mereka.
Kisah hidup Tablo, atau Daniel Lee, tak kalah menarik dari lagu-lagunya. Lahir di Seoul, Korea Selatan, ia menghabiskan masa kecil di Jakarta, Indonesia, sebelum kemudian pindah ke Kanada. Seperti banyak anak imigran, ia tumbuh di antara ekspektasi tinggi orang tua dan pencarian jati diri. Ia berhasil masuk Stanford, lulus dengan dua gelar, lalu membuat keputusan mengejutkan: kembali ke Korea untuk bermusik.
Di sinilah cerita epiknya dimulai. Dari seorang “anak pintar Stanford” yang hidup dari panggung rap, karirnya jungkir balik karena tuduhan palsu. Ia sempat dihantam habis-habisan oleh media dan publik yang meragukan pendidikannya. Namun, alih-alih hancur, Tablo bertahan. “Sebagian orang mungkin hanya melihatku sebagai seorang musisi. Tapi di saat yang sama, ada juga yang melihatku sebagai seseorang yang telah melalui banyak hal,” ujarnya dalam wawancara bersama Vice. Ia membuktikan itu lewat karya.
Salah satu karya yang lahir dari masa sulit itu adalah Blonote, sebuah buku berisi potongan-potongan pesan dari hati. Buku ini bermula dari segmen radio yang ia pandu pada 2008–2009 dan 2014–2015. Di sana, Tablo membacakan catatan-catatan pendek tentang cinta, kehilangan, harapan, atau kesepian. Pendek, namun begitu dalam. Bak bisikan seorang teman di tengah malam yang berujar: “Aku ingin jadi lain daripada yang lain, tapi tidak ingin menjadi orang lain.” Buku ini juga dihiasi tulisan tangan dari seniman ternama seperti G-Dragon, Gong Hyo-jin, Park Chan-wook, hingga Lee Sung-kyung, seperti yang dirilis oleh KBS.

Kabar baiknya, Blonote akan kembali hadir untuk pembaca Indonesia dalam versi rilisan ulang dari Shira Media, dengan sampul baru yang lebih segar dan personal. Shira Media sebelumnya sukses menerbitkan buku pertama Mun Kayoung, PATA, yang juga disambut hangat. Edisi baru Blonote ini rencananya akan rilis tahun ini, dirancang dengan semangat yang sama: memberi ruang bagi pembaca untuk sejenak merenung dan merasa ditemani.
Peluncuran ini berbarengan dengan momen penting lainnya bagi Tablo. Mei lalu, ia merilis lagu kolaborasi bersama RM dari BTS berjudul “Stop the Rain”. Lagu ini menjadi pertemuan dua jiwa yang sama-sama kerap menulis tentang hujan, sebagai simbol duka, keraguan, sekaligus pembersihan. “Saya harap lagu ini bisa menemani siapa pun yang sedang melalui masa-masa berat,” ungkap Tablo dalam wawancara bersama Mithra dan Tukutz di Maeil Business Newspaper. Lagu ini langsung mencuri perhatian banyak orang, apalagi setelah cuplikannya viral sebelum rilis resmi.
Kini, Tablo dan Epik High masih terus berkarya, berinteraksi dengan penggemar lewat YouTube, dan menjelajahi dunia lewat musik. Namun lewat Blonote, kita bisa melihat sisi lain dari seorang musisi: yang rapuh, jujur, dan ingin mendengarkan. Terkadang, satu kalimat saja sudah cukup untuk menguatkan hati. Shira Media menjanjikan Blonote penuh dengan kalimat-kalimat semacam itu.
Bagi kamu yang pernah merasa sendiri, atau sedang mencari alasan untuk bangkit, edisi terbaru Blonote dari Shira Media bisa menjadi teman hangat di musim apa pun. (rls/dhe)












