KURUNGBUKA.com – Anak-anak menemukan dan memuliakan hidup dengan bermain. Yang diperlukan adalah benda-benda untuk bermain. Maka, anak-anak menuruti keinginan berdasarkan naluri atau terpengaruh pihak-pihak lain. Sumber senang setiap hari tentu memiliki dan menggunakan benda mainan. Anak yang menikmati ketimbang mengutamakan logika-logika: sebab dan dampak bermain. Di masa kecil dan bertumbuh, diri anak adalah “penjumlahan” dan pengurangan benda-benda mainan.
Yang diceritakan ETA Hoffmann dalam The Nutcracker and the Mouse King (2019): “Marie mengatakan bahwa Madam Trutchen (boneka besarnya) banyak berubah karena sudah sangat tua. Dia lebih canggung dari sebelumnya dan sering jatuh ke lantai sehingga wajahnya tergores-gores.” Anak yang menyayangi bonekanya sekaligus prihatin yang tidak disembunyikan. Marie memiliki keakraban tapi terkadang retak.
“Marie memarahinya tapi tidak ada gunanya.” Kalimat yang membuktikan anak menghendaki benda mainan yang sempurna. Hari-hari bersama boneka yang sudah tua seperti tidak memberi terang yang menjanjikan agar bahagia.
Kita membayangkan Marie dan boneka itu keniscayaan, yang berbeda dengan anak lelaki merayakan hidupnya dengan benda mainan yang “menantang”. Khayalan beda: “Fritz menyatakan bahwa mainan kudanya perlu sebuah kandang dan pasukannya sangat kekurangan kavaleri.” Anak yang belum cukup dengan yang ada. Ia ingin mainan itu akhirnya lengkap dan mencipta kepuasan.
Dua anak dengan benda mainan yang berbeda. Mereka tidak akan pernah selesai. Yang termiliki menunggu pengganti atau tambahan. Mereka tidak bisa selamnya dengan yang usang. Namun, bermain dan benda mainan itu fana, yang berakibat kelak mereka berhak membuang dan mengabaikan.
*) Image by IG @di__library
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












