Menjadi Filsuf dari Meja Makan

Tanpa disadari,
kita telah berencana
membuat bencana selanjutnya.

Satu butir nasi yang tersisa
adalah tangis rahasia
bahkan seorang filsuf metafisika
terkadang tak sempat menerkanya.

Jangan mengeluarkan
kertas sembarangan.

Keadilan perlu diperhatikan
bukan hanya sejak pikiran,
melainkan juga dari meja makan, hingga meja-meja yang lain, bukan?

2023

***

Di Sambisari

hujan belum selesai bercakap dengan daun-daun,
mengunjungi imajinasi yang baru sampai ke ubun-ubun.
sementara dingin membeku di sini, di antara candi-candi,
yang dipahat sebagai relief cerita religi para dewa-dewa
selebihnya, kini menjadi wisata; tempat orang-orang bertamasya,
hingga setiap hari tak kunjung sepi dari generasi ke generasi.

2024

***

Camus

Di kehidupan yang sudah tak bermakna ini
kami masih sempat memaknai kehidupanmu.

Alangkah ganjilnya kehidupan ini,
bila yang tak bermakna
justru gemar kami maknai.

bahkan kematianmu
yang lebih ganjil dari apa pun,
masih gencar kami tafsirkan
hingga tercipta makna-makna baru .

Barangkali kau benar,
ketidakbermaknaannya hidup
yang kau maknai
akan membuat kehancuran hidup;
seperti hidup yang kau lalui.

2024

***

Eudaimonia

; Fahruddin Faiz

Menangguhkan hati
adalah cara menaklukkan luka.

Tak ada kecemasan di sini,
sebab hari-hari adalah hari ini
juga tak ada dendam dalam diri
sebab waktuku terbuat dari mencintai.

Masa depan seperti cuaca
terkadang hanya dapat diterka
meski belum memberikan fakta.

Lantas apa yang kita cari
selain kebahagiaan?

2024

***

Membaca Cuaca

Suam yang berkelanjutan
menjadi tanda mekar duka
di dada kita,
ketika hujan gagal turun
langit masih mengembun
sedang cuaca mengeras
sepanjang waktu
di antara garis bahasa;
penyampai keadaan cinta kita.

2023

Image by istockphoto.com