Tahun Babu

Kau sendirian sekarang, tidak ada pesta atau undangan yang akan menghadirimu.
Tempatmu kini hanya di balik jendela, menunggu keajaiban—melihat bulan tiba-tiba
menjadi empuk seperti kue. Sementara di luar, ribuan kembang api meluncur di atas
kepalamu, bagai batu, bagai candu, dan meledak setiap kau berkedip.

Yogyakarta, 2024

***

Mawar Merah

Kami masih bersedia bertarung meski dengan keadaan paling buruk sekalipun,
kalian boleh menyumbat mata air kami, kalian boleh memotong lidah kami masing-
masing. Namun matahari, dan isi kepala kami, adalah keyakinan yang tak tertembus
oleh bandang.

Kami bisa melihat yang tak kalian ketahui. Anak-anak kami, dan umpama cinta,
seperti masa depan yang cerah, memantulkan cahaya. Penderitaan demi
penderitaan yang kalian berikan, pada masanya akan menciptakan kebebasan, dan
berkembang, bagai bunga mawar yang menolak duri. Hanya merah dan keindahan.

Kami bergerak seperti puisi, mengisi setiap zaman, menopang lengan-lengan yang
letih, dan tidak akan menyerah meski dengan keadaan paling buruk sekalipun.

Yogyakarta, 2024

***

Kuldesak

Langit mendung cahaya meredup
ketetapan cakrawala semakin menciut
sejenak kepalaku menunduk
–sekitarku mejadi berkabut, pekat putih, haru, rindu, dan gelisah

bayanganku mengembara bersama gesit angin
berlayar melintasi rentetan julur petir
ketakutanku mengembang dan terus-menerus memanggilimu

Engkau, Engkau, Engkau.

Monjali, 2024

*) Image by istockphoto.com