KURUNGBUKA.com – Esai ini harus saya mulai sebelum sampai di teater arena Mursal Esten. Sebagaimana orang-orang biasanya menonton bioskop dengan mengenakan pakaian rapi, sepatu, dan parfum. Kemudian membeli tiket, dan terkadang telah menyiapkan perkakas kesedihan, kepiluan, atau ketakutan (karena film horor) atau tawa terbahak-bahak. Seperti itu pula cara saya menikmati sebuah pertunjukan teater, perlahan membuka lemari, mencari kaos, jaket, dan celana, setelahnya memakai wewangian, dan sepatu. Tidak hanya sampai di situ, saya juga mengajak istri untuk menonton pertunjukan yang diadakan Lab Indonesiana-Dapur LTC 2024 di Teater Arena Mursal Esten, Institut Seni Indonesia Padang Panjang pada 3 Desember 2024 yang berjudul Malin Kundang Lirih.

Begitupun, saya juga mempersiapkan koper-koper sudut pandang lain, membaca ulang karya-karya yang pernah bersinggungan dengan Malin Kundang, dan tidak terlepas untuk melihat siapa saja sosok di balik layar pertunjukan tersebut. Persiapan itu seolah-olah matang, padahal belum tentu juga. Tapi, itulah cara saya menikmati pertunjukan teater sampai hari ini. Mungkin saja ini berlaku pada orang-orang yang mencintai teater, atau jangan-jangan hanya saya yang memiliki anggapan itu. Tak perlu berpanjang-panjang untuk memberikan pembuka esai ini. Karena, pembahasan kali ini berkaitan dengan mitos Malin Kundang yang masih saja seakan mengikuti trend.

Mitos seakan masih asyik dipermainkan, dibolak-balikkan, selalu mencari celah untuk melahirkan interpretasi yang lain. Seperti saat ini, Malin Kundang Lirih mencoba memberikan tawaran yang sekiranya dapat kita terima, boleh juga untuk ditolak. Ketika ia mencoba menceritakan kehidupannya dari kecil di kampung, mentaati kehendak orang tua, pergi mencari kayu, dan lain sebagianya. Setelah umurnya cukup, maka rantau adalah pilihan hidup. Seperti itulah lelaki Minangkabau kebanyakan. Rantau menjadi gelanggang, tempat bertarung apakah menjadi sukses, atau pulang dan tinggal di gubuk kecil di tepian desa, atau menjaga ladang-ladang serta hilang dalam pandang. Tidak hanya itu, cerita tentang menjadi saudagar di tanah seberang, serta menikah dengan wanita Makassar juga ikut dalam giringan interpretasi kehadapan penonton melalui karya Pandu Birowo.

Mitos, ibu, durhaka, rantau, mamak (paman), ayah, tambo, tanah kaum, dst adalah hal-hal yang terkadang tidak dapat dipisahkan dalam karya-karya. Entah itu akan menjadi pertunjukan teater, musik, film, tari, dan sastra. Sekalipun, masih banyak juga yang bermain-main di luar dari hal tersebut. Untuk kali ini, terpatri mitos dan rantau menjadi sebuah ruangan yang besar, namun penuh kegamangan. Lihat dialog dalam salah satu adegannya:

Mande, sebagai laki-laki, negeriku adalah rantau. Negeriku adalah rantau! Suatu tempat di mana aku memiliki sesuatu yang bisa kugenggam. Sementara, di sini aku hanya terusir di pinggir-pinggir bandar, di pinggir kampung, dalam gubuk-gubuk pencari lokan dan pemungut sisik ikan…

Betapa miris sebagai terasing, betapa miris pula bila kita tidak siap untuk bertarung dan keluar menampakkan diri di tengah-tengah riuh, gemuruh, serta gemerlapnya alam semesta. Malin terasing, malin pula yang durhaka. Malin merantau, malin pula yang mengekal di kampung halaman. Masihkah erat mitos Malin yang durhaka dalam benak kita bersama?  

a. Antara Ruang dan Waktu

Pertunjukan yang dimulai dengan menghadirkan suasana (suara debur ombak yang bersahut-sahutan dengan rabab). Mengantarkan penonton ke depan pintu peradaban Minangkabau. Masa depan penuh pertarungan atau masa lalu yang tak dapat dilerai dalam diri. Rabab kerap melantunkan lagu-lagu tentang kisah, mitos, dan cerita dengan pola komunikasi kaba atau melalui syair-syair dendang.

Ombak seolah membawa pada pertarungan, perjalanan (rantau) silih-berganti bertikai, pergi atas restu orang tua atau hanya untuk membalaskan dendam, dan membuktikan bahwa lelaki minang mampu bertarung di gelanggang. Sedangkan Malin masih berada di salah satu serpihan kapal ‘haluan kapal’ (sisi kanan penonton) yang wajahnya telah dipenuhi lumut. Tiga awak kapal yang menjadi ‘pemeran pendukung’ di atas panggung pun perlahan-lahan hidup seiring suara rabab yang beralun-alun.

Awal pertunjukan tersebut membawa saya pada ruang lain. Ruang ‘reinkarnasi’ mati-hidup kembali. Hal ini menjadi pembeda dengan beberapa pertunjukan yang berkaitan dengan Malin Kundang. Pilihan menarik, membawa pada ruang-ruang yang kiranya belum teraba oleh orang lain. Ketika berbondong-bondong ‘masyarakat’ menyalahkan Malin adalah anak durhaka. Dituturkan berulang-kali saat ingin menidurkan anak. ‘Arus balik’ terjadi Malin hidup dan mencoba menyampaikan apa sebenarnya telah ia hadapi. Pertikaian, keluh-kesah, kebimbangan, ratap, emosi, bahagia, pedih, kenangan, dan duka yang dijalani hingga sampai seperti ini.

Kemudian, di sisi lain terlihat property yang digunakan adalah serpihan kapal yang terbagi atas tiga bagian: haluan kapal (bagian depan), lambung kapal (bagian tengah), buritan kapal (bagian belakang) dan gundukan pasir seolah menempatkan ini sedang terjadi di pantai. Sekilas sangat sederhana untuk pertunjukan yang memakan waktu lebih-kurang 90 menit. Bila tidak diperkuat dengan berbagai macam aspek lainnya. Maka sangat monoton dan membosankan, bukan berarti saya menyatakan menonton Malin Kundang Lirih itu membuat bosan.

Dari pembagian ruang itu, akhirnya muncul dugaan bahwa memang ini telah dijadikan satu kunci ‘simbol’ ketika para ‘janang’ditempatkan di lambung kapal dan Malin di damparkan di haluan kapal. Para ‘awak’ berada di gundukan pasir (di luar kapal). Sedangkan, buritan kapal dibiarkan kosong dan membelakangi penonton. Ruang ini akan dibeberkan satu persatu untuk menelusuri lebih dekat. Pertama, tiga pecahan kapal merepresentasikan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Malin, ditempatkan sebagai upaya masa depan, sekalipun masa depan itu belum dapat menyelesaikan segalanya. Belum sepenuhnya dapat membawa apa yang benar-benar menjadi keinginan mutlaknya. Kedua, Janang dihadapkan pada sesuatu di masa kini, ia tetap dan masih terus menuturkan melalui kaba dan dendangbahwa Malin adalah bayang-bayang anak durhaka. Ketiga, buritan kapal menjadi bagian dari masa lalu. Ini tidak digubris sama sekali. Karena, tidak menjadi bagian penting untuk disampaikan pada pertunjukan. Sehingga, di tempatkan membelakangi penonton.  Tetapi, masa lalu tidak pula terlepas begitu saja. Masa lalu hadir sekali waktu melalui ‘pemeran pendukung’ mengelilingi Malin dengan mengucapkan kalimat ‘malin anak durhaka’.

Bila ditelisik lagi, maka dapat dilihat bahwa Malin menjadi seorang anak yang sesekali menyalahkan kampung halaman (melalui dialog). Di mana mamak (paman) ketika ia kecil? Bukankah ia menjadi lelaki yang tumbuh tanpa bimbingan seorang mamak. Ia pula kehilangan seorang ayah di masa-masa akan bertumbuh. Maka, sosok lelaki mulai di bangunnya melalui rantau, melalui kasih sayang ibu yang sebenarnya terpaksa merelakan seorang anak membentangkan jarak. Masihkah Malin disebut anak durhaka?

Dalam selebaran yang dibagikan oleh panitia sebelum acara di mulai tertulis kalimat “SEBUAH INTERPRETASI BARU DARI MITOS MALIN KUNDANG” tulisan ini saya buat kapital mengikuti penulisan selebaran tersebut. ‘Interpretasi baru’ kiranya menarik untuk disampaikan ke depan publik. Menjadi wacana baru, diskusi baru, sudut pandang baru. Tapi, kenapa tidak kita sampaikan secara terus-menerus bahwa ini juga akan menajdi ‘mitos baru’. Di tengah keriuhan berita yang saling timpang-tindih tak karuan, di sekitaran antara meyakini yang betul dan mempercayai yang salah. Maka, mitos baru ini akan tersebar begitu cepat, melupakan kesalahan Malin Kundang yang durhaka. Memasuki era ‘mitos baru’ Malin Kundang adalah anak yang patuh, penurut, pekerja keras, petarung di rantau, saudagar yang hidup melalui keringatnya sendiri, dan ingin membangun kampung halaman dengan kekayaannya.

Kemungkinan-kemungkinan bila ini dapat terjadi, maka tidak menutup pula akan bertambah objek wisata baru di Minangkabau tentang sosok Malin Kundang yang tangguh dan bijaksana. Karena, sepertinya hal-hal yang berkaitan dengan mitos-mitos lebih menarik untuk dijadikan bahan baku wisata. Ketimbang menghidupkan, membicarakan, dan memperkuat akar ketokohan yang sebanarnya telah ada di tanah minang. Sudahlah, tak rancak pula kalua berpanjang-lebar membahas hal tersebut. Kembali pada pertunjukan yang diperankan oleh aktor Fajar Eka Putra. Ia berupaya meyakinkan penonton, menghidupkan dialog, melempar pertanyaan-pertanyaan kepada penonton, seolah ada timbal-balik antarmanusia yang ingin dibangun dalam ruang yang sebenarnya ‘imajinasi’ namun dianggap sebagai ‘kenyataan’.

b. Aktor dan Pendukung Lainnya

Peran aktor di atas panggung tidak serta-merta mentereng, menjadi ujung tombak yang dapat membawa kemegahan atas pertunjukan. Ibarat klub sepak bola, bila hanya satu yang jago dalam bermain sepak bola, belum tentu dapat memenangkan pertandingan. Maka kesebelas-nya akan bekerja sama untuk mendapatkan kemenangan. Itu sebabnya, dalam bagian di tulisan ini, saya satukan peran aktor dengan pendukung lainnya sebagai pokok pembahasan.

Sekalipun kita dapat berbeda sikap, berbeda cara pandang dalam melihat kinerja aktor utama pasti lebih berat ketimbang yang lain. Tapi, toh tujuannya sama. Sama-sama untuk menyukseskan pertunjukan. Bukankah begitu? Pertunjukan ini diperankan dengan 6 aktor. Satu aktor utama berperan sebagai Malin Kundang. Tiga ‘pemeran pendukung’ yang seolah menciptakan ingatan atas masa lalu, bayang-bayang kehidupan Malin. Bila kita melihat tawaran property, maka ketiga pemeran ini dapat dianggap juga sebagai ‘awak kapal’ dari Malin Kundang.

Kemudian, dua orang yang dipanggil oleh Malin (aktor) ialah ‘janang’ satu laki-laki dan satu perenpuan. Dua pemeran ini bertugas untuk menceritakan kisah-kisah Malin Kundang kepada publik dengan menggunakan rabab (alat musik khas Minangkabau) dituturkan melalui kaba dan dendang. Dengan begitu, penonton seakan terbius akan nuansa ‘minangkabau’. Daya tarik yang kerap beralun-alun membawa ke tepian-tepian pantai. Dalam beberapa adegan, terlihat kalau peran ini menjadi sangat sentral, misalnya: Pertama, ketika alunan berbunyi, maka suasana terbangun dengan sendirinya, suasana yang begitu identik dengan kedaerahan Minangkabau.

Kedua, memberikan kehidupan batu-batu (awak kapal) yang juga memberikan tafsir (masa lalu, perlawanan, silek, kenangan, kerabat, pertikaian, dan sebagainya) di atas panggung. Ketiga, rekan dialog (aktor utama) untuk saling menimpali apa yang sebenarnya terjadi. Kekesalan dari Malin ialah mereka “janang” masih saja menceritakan kisah yang itu-itu saja. Keempat. salah satu pedendang (perempuan) seolah hadir sebagai suara-suara ratapan ibu, berulang-kali memanggil-manggil kerinduan. Mengingatkan bahwa seperti apa ingatan seorang anak kepada ibunya, kepada orang yang pernah merawat dari kecil hingga tumuh remaja. Melepaskan ia pergi pada rantau yang panjang dan terasing itu.

Kemudian, kelirihan Malin yang ditawarkan oleh aktor (Fajar) dalam rentang waktu

lumayan panjang (20:41-21:32) itu menyadarkan perlahan bahwa Malin tidak sepenuhnya bersalah, misalnya; “Tidak adakah kisah lain? Haruskah selamanya Malin Kundang simbol anak durhaka?”  Atau “Kalian yang menyebutku anak durhaka, aku tidak sedurhaka yang kalian katakana!”.

Dialog-dialog tersebut perlahan merasuki pikiran penonton. Memberikan persepsi-persepsi lain, mengantarkan anggapan yang selama ini benar ‘anak durhaka’ harus ditimang-timang kembali. Kekuatan narasi yang dibangun menyeret efek ‘terngiang-ngiang’ hingga pertunjukan selesai. Tapi, apakah itu telah cukup sebagai seorang aktor? Memang upaya mempertahankan intensitas kualitas dari awal sampai akhir begitu rumit. Terkadang pula, sesekali aktor kehilangan sosok atas “lirih” yang diinginkannya. Lirih yang bila diterjemahkan sebagai (perasaan pribadi, kepiluan mendalam, lemah lembut, dan tidak keras) atau lirih yang lain pula dimaksudkan atas pertunjukan tersebut.

Maka, bila lirih yang sama atas dugaan saya. Kalimat-kalimat yang tidak berkaitan dengan Malin Kundang antara lirih kepada diri dan ibu. Tidak perlu dilontarkan oleh aktor, misalnya di awal pertunjukan (begitu banyak kata ‘teks’ diucapkan). Kalimat yang bila didengarkan ulang merujuk pada ‘bukan lirih’ tapi ‘sinis’ terhadap sesuatu. Namun, di sisi yang lain, aktor mampu bermain dengan intonasi dan vokal yang jelas. Sehingga, apa yang ingin ditawarkan kepada penonton terterima dengan baik.

 Selain itu, kecermatan dan ketepatan pencahayaan (lighting) juga menjadi pendukung dalam membangun suasana lirih yang ingin digapai. Tidak bertele-tele, hanya memainkan warna-warna (merah, biru, hijau, dan kekuningan). Hal itu menjadi salah satu yang membantu aktor membangun emosi kelirihan (dirinya dan penonton). Bila melihat dari aspek penonton: ketika rabab terdengar, dendang dilatunkan, aktor melakukan dialog dengan pencahayaan (sedikit memerah). Maka, representasinya ialah sedang mengalami ketragisan, pilu yang menyayat, lirih yang tak dapat dibendung. Berbeda halnya bila warna yang ditawarkan biru, tanpa dendang, hanya dialog dan terdengar suara ombak. Apakah mampu melahirkan lirih yang sama seperti tadi?

Sekiranya ‘lirih malin kundang’ begitu menohok ke dalam diri penonton. Itu tidak semata kerja Fajar Eka Putra. Masih harus pula disampaikan nama-nama lain seperti Ari Pahala Hutabarat (pembimbing karya), Akbar Munazif (pengaruh laku), Iwan Kuncup (skenografer), Wanda Rahmat Putra (dramaturg) yang berperan dalam membangun secara utuh Malin Kundang Lirih.

Masihkah akan bertahan mitos Malin Kundang anak durhaka setelah pertunjukan ini selesai?

Padang Panjang, 2024