Sulastri kembali melihat isi dandang yang sedang ia masak di atas tungku. Air di dalamnya sudah mendidih dan hampir habis. Buru-buru Sulastri mengambil air dari kamar mandi dan mengisi ulang dandang itu sampai penuh. Setelah itu Sulastri menutupnya dan kembali berpikir, benda apa yang bisa ia masukkan ke dalamnya untuk menjadi menu makan malam hari ini.

“Belum matang ya, Bu?” ucap Maulid, anak pertamanya yang baru kelas lima, membuyarkan lamunan Sulastri.

Sulastri yang terkesiap segera memasang badan seolah-olah sedang sibuk memasak sesuatu.

“Sebentar lagi!” jawab Sulastri singkat.

Sementara itu dari ruangan tengah, anak keduanya yang baru berusia tujuh tahun merengek-rengek meminta makan. Sulastri yang mendengarnya hanya bisa menghela napas dengan kepala yang mulai terasa berat. Ia berjalan menemui anak keduanya sambil memastikan apakah si bungsu yang belum genap sembilan bulan terbangun dari tidurnya.

“Sebentar lagi, Nur!” Sulastri mengulang jawaban yang sama kepada anak keduanya.

Sulastri yang mulai pusing dan merasa lelah akhirnya mencoba menelepon suaminya yang beberapa bulan ini tak kunjung memberi kabar. Jangankan membantu mengurusi anak, memberi nafkah saja hanya seperlunya. Sulastri tidak tahu apakah mereka masih pantas di sebut suami istri sedang ia tidak pernah lagi merasakan hangat dalam keluarga.

Sebelum Sulastri melahirkan anak ketiga dan tubuhnya masih setipis dua lembar papan, lelaki itu sesekali pulang ke rumah dan bermain bersama anak-anaknya. Namun, ketika si bungsu lahir dan badannya membesar tiga kali lipat, lelaki itu mendadak seperti orang asing yang tak pernah ia kenali. Kecupan yang sering ia terima di bibirnya yang basah setiap pagi hanya menjadi cerita masa lalu yang Sulastri sendiri sudah lupa bagaimana rasanya.

Tapi, meskipun begitu, Sulastri tak ingin jika harus berpisah. Karena jauh di dasar hatinya Sulastri masih menyimpan rasa cinta yang teramat besar. Sulastri bertahan demi anak-anaknya. Demi rasa cinta yang sulit untuk ia pindahkan ke lain tempat. Meskipun belakangan ini kehidupan Sulastri semakin terasa berat. Ia mendadak kehilangan arah seperti kapal tanpa nakhoda. Kapalnya terombang-ambing di tengah lautan luas. Hanya menunggu waktu untuk berlabuh atau tenggelam ke dasar laut yang paling dalam.

Padahal jika menarik waktu ke belakang, jauh sebelum Sulastri mengenal lelaki itu, ia pernah hidup bahagia dan tak pernah kekurangan satu apa pun. Ia bahkan pernah memenangi kontes kecantikan antar daerah dan mewakili provinsi. Hidupnya pernah menjadi impian semua orang. Mempunyai paras cantik. Bentuk tubuh yang sempurna dan memiliki kecerdasan melebihi teman sebayanya. Semua orang dibuat terpana. Semua gadis ingin seperti dirinya.

Tapi Sulastri tidak bisa mengubah takdir. Ia memilih menikah di usia muda dengan alasan ingin memiliki keluarga yang utuh. Namun, ternyata apa yang ia harapkan tidak melulu menjadi sebuah kenyataan. Kini harapan-harapan yang ia rancang sedemikian tinggi justru hancur dan terkubur. Perekonomiannya merosot. Hidupnya nestapa. Bahkan wajah cantik Sulastri sudah tertutup oleh kepulan asap tungku yang saban hari mengenai wajahnya.

***

Beras sudah habis. Minyak dan telur juga habis. Semua kebutuhan pokok habis. Singkong di belakang rumah habis. Talas liar pun habis. Uang tidak ada. Anak-anak kelaparan dan aku sudah capek!

Begitu isi pesan yang Sulastri kirimkan ke suaminya dengan tangan yang bergetar.

Setelah itu Sulastri melempar ponselnya ke atas meja. Entah mati atau tidak Sulastri tidak peduli. Ia berharap matahari segera muncul agar malam yang terasa panjang ini segera berakhir.

“Sudah matang, Bu?” ucap Maulid mengulang pertanyaan yang sama sekali lagi.

Sulastri membuka tutup dandang dan melihat air yang masih tenang di dalamnya. Sulastri terenyuh. Di dasar hatinya yang terdalam Sulastri menjerit. Ia tidak mungkin terus menerus memasak air hingga habis lalu mengulangnya lagi. Malam masih sangat panjang dan anak-anaknya perlu diberi makan.

Di tengah rasa bingung yang memenuhi isi kepalanya, tetiba Sulastri mencium aroma yang sangat enak. Hidungnya kembang kempis memastikan aroma itu. Dan saat Sulastri bangkit dari duduknya, aroma itu semakin kuat di penciumannya. Sulastri bertanya kepada anaknya apakah mereka juga mencium aroma tersebut, tapi kedua anaknya hanya menggeleng. Sulastri berjalan ke pintu depan rumah dan aroma itu semakin dekat ke hidungnya. Sulastri terus berjalan ke luar dan tanpa sadar sudah melangkah jauh meninggalkan rumah.

Semakin dekat aroma itu tercium, Sulastri menjadi tahu bahwa aroma itu adalah aroma kuah gulai. Sulastri berjalan ke sebelah kandang ayam, melintasi kebun kosong dan tiba di dekat jendela dapur Bu Laksmi. Ternyata aroma itu berasal dari sana. Sulastri mengintip melalui celah jendela. Dilihatnya satu wajan penuh gulai kakap di atas kompor yang menyala. Sulastri semakin tersiksa dengan aroma itu. Perutnya seketika keroncongan.

Tak lama Bu Laksmi muncul dan memeriksa masakannya. Sulastri langsung mengendap sebelum wanita itu menyadari kehadirannya. Sulastri kembali bangkit dan melihat punggung Bu Laksmi yang berdiri di depan kompor. Namun, tak lama kemudian seorang lelaki datang dan memeluk tubuh langsing Bu Laksmi dari belakang. Sulastri merasa terkejut karena ia tahu bahwa wanita itu adalah seorang janda. Tapi yang lebih membuatnya tekejut adalah ketika lelaki itu berpaling dan menampakkan wajahnya. Sulastri dengan cepat menutup mulutnya dengan sangat rapat. Ia ingin sekali menjerit, tapi ia tidak punya kuasa.

Tubuh Sulastri mendadak lemas. Kakinya seakan tidak kuasa untuk menopang berat badannya sendiri. Dan ketika ia sedang merasa terpukul itu beberapa bayangan silih ganti dalam pikirannya.

Setelah Bu Laksmi dan lelaki yang sangat ia kenali itu pergi meninggalkan dapur, Sulastri nekat untuk masuk melalui jendela. Aroma kuah gulai yang memenuhi ruangan itu dengan cepat menusuk-nusuk hidungnya. Sekejap Sulastri berpikir bahwa ia bisa saja mengambil sedikit gulai itu lalu membawa pulang untuk anak-anaknya. Tapi Sulastri sudah tidak lagi berselera.

Sulastri celingukan mengamati tiap sudut dapur sampai akhirnya ia tertuju pada sebungkus serbuk racun tikus di bawah meja. Tanpa berpikir panjang, dengan wajah seperti orang kesetanan, ia menabur serbuk racun itu ke dalam wajan dengan tangan yang bergetar.

Setelah itu Sulastri berlari tunggang-langgang meninggalkan rumah Bu Laksmi, tanpa peduli kakinya yang telanjang terluka karena menginjak benda tajam. Namun, seketika ia berhenti. Sulastri memikirkan kedua anaknya yang menunggu dalam keadaan lapar. Sulastri yang sudah kehabisan akal akhirnya memunguti batu kerikil lalu dimasukannya ke dalam baju. Kemudian Sulastri kembali berlari menuju rumah.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Maulid bertanya ketika Sulastri tiba dengan baju yang terlihat penuh. Sulastri tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menuju dapur. Kemudian Sulastri memasukkan batu-batu kerikil itu ke dalam dandang yang mendidih lalu mengisinya dengan air sampai penuh.

“Ibu mau masak enak. Tapi dagingnya harus direbus dulu sampai empuk. Mungkin butuh waktu semalaman supaya dagingnya benar-benar matang. Jadi, kita tidur dulu sampai pagi ya!”

Seketika itu kedua anaknya bersorak seolah lupa bahwa pada malam itu perut mereka benar-benar kosong.

Akhirnya Sulastri berhasil mengajak anak-anaknya masuk ke kamar dan tertidur. Dan dalam tidurnya Sulastri tersenyum. Begitu juga dengan kedua anaknya yang tak sabar menunggu pagi. Mereka tidur dengan perasaan bahagia meski harus bergelut dengan rasa lapar sepanjang malam.

*) Image by istockphoto.com