KURUNGBUKA.com, SERANG – Komunitas Rumah Dunia menyelenggarakan Workshop Menulis Esai untuk Pegiat Literasi Se-Kota Serang di Auditorium Rumah Dunia pada Minggu (06/10/2024). Workshop yang mengangkat tema Praktik Baik Pegiat Literasi ini dihadiri oleh 30 orang pegiat literasi dari berbagai Komunitas dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di Kota Serang. Turut hadir dalam acara, perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang dan Kantor Bahasa Provinsi Banten.
Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia sekaligus ketua pelaksanaan kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan bagian dari program Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Penggerak Literasi tahun 2024 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset dan Teknologi melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.
“Program bantuan pemerintah ini berlangsung serentak di 34 provinsi, di Banten ada 8 komunitas yang menerima bantuan ini, termasuk Rumah Dunia,” ujar Salam.
“Dari program ini, Rumah Dunia menyelenggarakan 3 kegiatan yaitu Workshop Menulis Esai, Workshop Menulis Cerpen, dan Workshop Mendongeng,” tambah Salam.
Salam berharap, kegiatan ini, akan melahirkan karya-karya yang berkualitas dan dapat berdampak.
“Setelah kegiatan ini, teman-teman diminta untuk menulis esai tentang praktik baik pegiat literasi,” kata Salam.
Workshop Esai ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Toto ST Radik dan Firman Hadiansyah.
Dalam materinya, Toto ST Radik membahas tentang literasi dan perkembangannya di era digital. Menurut Toto, kata literasi populer digunakan oleh banyak orang sekitar 10 tahun ke belakang.
“Di tahun 2000-an, orang belum mengenal istilah literasi. Tapi gerakan-gerakannya sudah ada sejak dulu. Seperti Rumah Dunia, tahun 2000-an sudah ada kelas menulis, kelas membaca, wisata dogeng dan lain-lain, tapi tidak menggunakan istilah literasi,” ujar Toto.
Toto juga menjelaskan tentang menulis praktik baik bagi pegiat literasi. Menurutnya praktik baik adalah pengalaman baik yang diangkat dari berbagai aktivitas.
“Dalam konteks workshop ini, berarti menceritakan pengalaman terbaik dalam mengembangkan kegiatan literasi sehingga mampu memberi manfaat, serta perubahan yang sifatnya menginspirasi banyak pihak,” jelasnya.
Sementara itu, Firman Hardiansyah banyak membahas soal penulisan esai dan memberikan contoh esai-esai popular yang baik.
“Secara etimologis, kata ‘esai’ berasal dari bahasa Prancis ‘essayer’, yang berarti ‘mencoba’ atau ‘menguji’. Ada dua jenis esai, yaitu esai akademik dan esai populer. Esai yang kita bahas hari ini adalah esai populer yang menekankan subjektivitas dan lebih fleksibel dibandingkan esai akademik,” terangnya.
Menurut Firman, pengalaman-pengalaman peserta yang merupakan pegiat literasi menarik untuk dijadikan esai. Ia mencontohkan buku “Relawan Dunia” yang ditulis oleh 17 relawan Rumah Dunia termasuk dirinya.
“Buku yang ditulis oleh Relawan Rumah Dunia ini diterbitkan oleh Gramedia. Artinya, tulisan-tulisan semacam ini menarik untuk diterbitkan,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Artika Sari mengatakan Acara Workshop Esai ini membantu dan memotivasi dirinya untuk menuliskan pengalamannya selama menjadi pegiat literasi.
” Kegiatan ini sangat membantu dalam menuliskan cerita-cerita yang sebelumnya dianggap sepele, ternyata menarik untuk dituliskan dan dibaca oleh banyak orang,” ujar Artika. (pal/dhe)











