Ibu bumi

Pohon-pohon berdiri bagai server tua
akar kakinya mencengkram bumi namun
tangan besi datang tanpa suara
menghapus ribuan baris dari layar rimba

Burung-burung algoritma yang terputus
tak lagi menemukan jalur menuju langit

Rimba menjadi file corrupt, data yang terhapus
menyisakan padang kosong sunyi dan pahit

Gergaji berputar seperti mesin pencetak mengganti
nyanyian daun-daun 
dengan dengung-dengung logam

Setiap batang rebah adalah huruf yang retak
paragraf hutan berubah menjadi kode kelam

Lihatlah, kini sungai bagai saluran data bocor airnya
tercemar oleh sampah plastik digital ikan-ikan
berenang dalam error tak terlapor
koneksi kehidupan terputus sistem jadi fatal

Langit yang dahulu papan LED biru
kini buram oleh asap pabrik dan bara

Matahari terhalang seperti ikon yang hilang
tersisa notifikasi bencana di layar udara

Anak-anak bertanya
“Di mana burung, di mana hutan, di mana jejaknya?”
Tapi jawaban hanya berupa iklan yang berisik, realitas
ditelan algoritma yang rakus dan licik.

Setiap tunggul kayu jadi kuburan memori
foto yang hilang dari album bumi

akar-akar yang patah menulis eulogi
tentang simfoni hijau yang kini mati sunyi

Apakah kita rela menjadikan bumi arsip mati
sekadar museum digital tanpa hutan sejati
apakah kita sanggup membaca kode tragedi
saat pohon terakhir runtuh seperti server terhenti

Oh, bumi
kini engkau bagai robot tanpa program
bernafas tanpa listrik dan baterai  manusia
menulis masa depan di layar maya
tapi melupakan rimba papan ketik kehidupan yang nyata.

***

Rima Pohon Besi

Ia berdiri bagai robot tua  sendi
kayu berkarat usia daun-daunnya
roda berputar lirih
menyisir angin dengan napas letih

Batang baja yang sesungguhnya daging
disangka besi tanpa perasaan kering
akar menjalar laksana kabel baja
menyimpan rahasia hujan dan cahaya

Manusia datang dengan gergaji tajam
seolah montir membongkar logam
mereka tertawa di balik helm keras
tak mendengar denting nyawa yang lepas

Suara mesin melahap pelan-pelan sendi
robot runtuh tanpa perlawanan  burung-
burung beterbangan panik
pergi hilang tanpa memberi sensorik

Seketika tubuh raksasa itu rebah
getarannya memukul dada tanah Ironi
berdesir di udara panas
mesin hijau ini justru penjaga nafas

Namun di catatan manusia yang ringkas ia
hanyalah besi usang tak berguna robot hijau
yang dianggap biasa padahal jantung bumi
berdenyut di dalamnya.

*) Image by istockphoto.com