Kereta Dari Shibuya

Kesepian duduk berkemeja
Lengan panjangnya dibiarkan terbuka
Supaya kata-kata bisa menyelinap masuk
Dengan leluasa ke sela jari-jarinya
Yang tampak  terbata mengetikkan bait-bait puisi
Tentang seorang laki-laki
Yang sibuk mengulang-ulang  dukanya sendiri
Berharap di tengah pengulangan itu, ia tidak bertemu
Cintamu.

Di perhentian berikutnya, ia tidak naik kereta.
Ia masih duduk di peron, menunggu
Kereta dari shibuya
Yang kosong melaju, dan kesepian masih terhampar
Menggarisi angin yang masih fasih
Menghapal lekuk nafasmu
Kota-kota tidak tahu bagaimana menghapus
Kenangan yang kau tinggalkan

Sementara luka adalah matahari sore
Saat kapal-kapal bersandar
Dan seorang fotografer mengabadikan siluetnya
Lewat lensa yang tak bisa berbahasa
Sehingga kesunyian dawam pada tubuh senja

Kesepian masih duduk di seberang pintu kereta
Menunggu kau mengulang dukamu untuk kesekian kali
Ia masih mengenakan kemeja yang sama
Dan kota-kota yang dilalui gerbong-gerbong itu
Belum berganti nama.

Bandar Lampung, Agustus 2025

***

Pembunuh Berantai

Kau tahu, setiap manusia berperan dalam kematian seseorang setiap hari di bumi ini?
Kita adalah pembunuh yang merantai kematian pada jari-jari dan mata kaki. Kehidupan
hanya buah dari pohon mahoni di depan sekolah, ia jatuh dan berputar sampai ke tanah
jadi kelakar. Bahagia tak pernah ada, kesedihan tak pernah diciptakan, dan kau adalah
bagian dari dunia yang runtuh. Kota ini tak menawarkan apa-apa kecuali sunyi malam
dan suara bising orang-orang yang sedang mengejar kematian. Dan aku duduk di altar
hidup menyembunyikan rahasia-rahasia yang masih ingin hidup di bawah telingaku. Aku
tak punya apa-apa, aku tak ingin apa-apa, aku tak mau siapa-siapa, aku tak tahu siapa-siapa.
Andaikan kau datang sejak awal, mungkin hidup tak akan semenertawakan ini,
dan kematian yang duduk mengamatiku bisa istirahat sebentar, menelan kantuk yang
tertahan.

Cintamulya, Juli 2025

*) Image by istockphoto.com