Laut begitu bening seolah terbuat dari kaca yang menyimpan serpih-serpih matahari. Di dasarnya, daun ganggang bergoyang lembut seperti jemari hijau yang melambai, kepiting-kepiting dengan susah payah berlari di atas butiran pasir yang rapuh. Semua itu bagi Riu adalah sebuah kitab terbuka yang menunggu untuk dibaca.
Sejak Riu datang ke desa nelayan itu tiga bulan yang lalu, orang-orang menaruh curiga padanya. Lelaki kurus dengan rambut kusut itu tidak ikut melaut, tidak pula berkebun di pulau. Ia hanya berjalan di sepanjang pantai membawa botol kaca, jaring kecil, dan buku-buku tebal usang yang tak seorang pun di desa bisa membacanya.
Penduduk desa menyebut Riu sebagai ‘orang aneh dari kota’. Tetapi bagi Lira, ada semacam kilau di mata Riu yang membuatnya betah berlama-lama mendengar ocehannya tentang ikan-ikan, kerang, ubur-ubur dan segala makhluk laut yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya.
“Lihatlah!” kata Riu suatu sore ketika mereka berdiri di atas dermaga reot. Laut memantulkan cahaya senja yang keemasan, berkilau seperti logam cair. “Di bawah sana ada makhluk yang lebih tua dari semua mitos. Mereka lebih pintar daripada yang kita kira.”
Lira menolah curiga. Ia mengamati dengan saksama apa yang dimaksud Riu di bawah sana. “Kau bicara tentang gurita, bukan? Binatang berlendir itu? Aku ngeri membayangkannya.”
Riu tersenyum tipis, seoalah memaklumi ketakutan Lira. “Gurita bukan sekadar binatang. Mereka pemalu, rumit, kadang mereka lebih mirip manusia daripada yang kita sangka. Kau tahu? Mereka bisa menyamar jadi karang, jadi pasir, bahkan jadi sampah laut. Tapi mata mereka… Ah, mata itu, penuh misteri.”
Lira mendengarkan dengan setengah hati. Baginya, laut adalah tempat kerja ayah dan kakak-kakanya, tempat perut keluarga mereka terisi, dan tempat badai bisa merampas nyawa. Ia tak pernah berpikir ada rahasia lain di sana selain nasib baik atau buruk bagi para nelayan. Namun ketika Riu berbicara, ada nada yang membuat laut seolah menjadi kitab suci, penuh teka-teki dan hikmah yang sama sekali belum ia pahami.
Sore itu, Riu memtuskan untuk turun ke laut dengan perahu kecilnya. “Aku akan menunjukkan padamu,” katanya kepada Lira. Botol-botol kaca, jaring halus, dan ember-ember terisi air laut memenuhi dek perahunya. “Aku ingin kau melihat dengan mata kepala sendiri. Seekor gurita hidup-hidup. Kau akan paham mengapa aku sangat mengaguminya.”
Lira ragu, tapi ia menuruti apa yang dikatakan Riu. Ia duduk bersama Riu di perahu kecil itu dan membiarkan lelaki itu mendayung menuju ke tengah laut. Angin laut membelai wajahnya sementara matahari mulai merangkak turun menciptakan warna keemesan di ujung cakrawala.
Ketika Riu menyelam, air laut beriak dan menutup tubuhnya dengan suara desis lembut, lalu tenang kembali. Lira menunduk, melihat tubuh lelaki itu menjelma bayangan di kedalaman laut. Lira menahan napas. Ia seakan ikut menyelam bersama Riu.
Di bawah sana, dunia lain terbentang. Riu menyusuri dasar laut, menyibak karang yang dipenuhi binatang laut aneka warna dan belut kecil. Dan di antara bayangan kelabu, ia melihatnya: seekor gurita besar, tubuhnya menggeliat lembut, tentakelnya menjulur-julur perlahan, dan matanya menyala dingin. Gurita besar itu tampak seperti kabut yang bernapas, bergerak pelan tapi pasti, kadang menyaru menjadi karang, kadang berubah warna serupa batang kayu yang terhempas ombak.
Riu menahan napas lebih lama. Jaring di tangannya bergetar, bukan karena ia ketakutan, melainkan oleh perasaan takjub. Riu mendekat, lupa bahwa setiap keindahan kadang menyimpan bahaya di dalamnya. Gurita besar itu diam, seolah menunggu, seolah tahu dirinya sedang diperhatikan.
Di atas perahu, Lira menunggu. Laut bergelombang pelan, angin makin dingin menerpa pipi dan rambutnya. Burung-burung camar terbang rendah di dekat perahu. Burung-burung itu terbang berputar-putar. Waktu berjalan lambat, menit demi menit terbenam bersama matahari. Lira menggigit bibir. Ia tak tahu berapa lama Riu bisa bertahan di bawah.
Tiba-tiba, air bergolak. Gelembung-gelembung besar pecah di permukaan laut untuk sesaat dan kemudian hening kembali. Lira menunduk panik, matanya menyapu permukaan laut sebab kini gelap benar-benar telah tiba. “Riu!” teriaknya, suaranya ditelan angin dingin yang makin kencang. Ia berulang kali memanggil Riu, tetapi tak ada tanda-tanda kemunculannya, tak ada tangan yang meraih tepian perahu.
Malam datang dengan perlahan. Di ujung kegelapan, bulan telah muncul dan bintang-bintang mulai berkelipan, tetapi bagi Lira cahaya-cahaya itu hanya menambah sepi. Ia menunggu hingga tubuhnya menggigil, sampai akhirnya nelayan lain datang dan menarik perahunya ke tepi. Riu tak ditemukan.
Keesokan harinya, perahu kecil itu terombang-ambing di dermaga tanpa tuan. Di dalamnya, hanya ada satu botol kaca berisi air laut keruh. Di dasar botol itu, seekor gurita mungil bersembunyi, tubuhnya melekat di kaca, matanya berkilat bagai menertawakan dunia.
Orang-orang desa berbisik. Ada yang berkata Riu terlalu sombong menantang laut. Ada yang percaya bahwa Riu dikutuk oleh makhluk yang begitu ia kagumi. Ada pula yang berseloroh, mungkin Riu berhasil menangkap gurita, atau justru gurita yang berhasil menangkap Riu.
Lira menatap botol itu sekali lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan dermaga. Gurita mungil itu masih tetap menempelkan tubuhnya di kaca, matanya bening dan dingin. Dalam kilau matanya yang hitam, Lira merasa melihat sesuatu yang pernah ia kenali: tatapan Riu, penuh rahasia yang tak pernah sempat ia mengerti. Sejak hari itu, Lira tak pernah lagi sanggup memandang laut dengan cara yang sama. Ombak yang dulu biasa saja kini seperti bisikan samar, seolah mengingatkan bahwa setiap rahasia yang terlalu dikejar akan menelan pencarinya. Dan yang tersisa hanyalah mata yang menatap dari dasar laut, menunggu korban berikutnya.
*) Image by istockphoto.com


















